Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 April 2011

Rahasia panjang umur & banyak rezeki

Ada lima tugas utama setiap nabi diutus ke dunia ini, yaitu: 1). Menampakkan mu’jizat kepada umatnya agar dengan menyaksikan itu mereka meyakini kebenarannya; 2). Meluruskan kepercayaan dan keyakinan umatnya yang salah; 3) Memperbaiki amal dan akhlaq umatnya yang telah mengalami kerusakan dari ajaran aslinya; 4) Memberikan hikmah berupa kedalaman dan keluasan ilmu yang mampu menerangi akal dan hati umatnya sehingga mereka mempunyai keistimewaan dibandingkan dengan umat lainnya sehingga kehidupan mereka lebih maju, lebih baik dan lebih indah yang dapat menarik umat lainnya dan 5). Mempersatukan umatnya. Terlebih Nabi Besar Muhammad SAW, beliau mempunyai tugas yang lebih besar dan luas dibandingkan nabi-nabi lainnya, karena beliau adalah Sang Khatamun-Nabiyyin Sayyidul Anbiyai wal-Mursalin Penghulu para Nabi dan Rasul Allah di jagad raya ini. Sehubungan dengan akhlaq yang utama, beliau pernah bersabda kepada sahabat Uqbah bin Amir RA sebagai berikut:

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ: لَقِيَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَذَرْتُهُ فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ أَوْ بَذَرَنِي فَأَخَذَ بِيَدِي فَقَالَ: يَا عُقْبَةُ أَلاَ أُخْبِرُكَ بِأَفْضَلِ أَخْلاَقِ أَهْلِ الدُّنْيَا وَأَهْلِ اْلآخِرَةِ ؟ تَصِلُ مَنْ قَطَعَكَ وَتُعْطِي مَنْ حَرَمَكَ وَتَعْفُو عَمَّنْ ظَلَمَكَ أَلاَ وَمَنْ أَرَادَ اللهَ أَنْ يَمُدَّ فِى عُمْرِهِ وَيَبْسُطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ فَلْيَتَّقِ اللهَ وَلْيَصِلْ رَحِمَكَ

Dari Uqbah bin Amir RA berkata: Nabi SAW bertemu saya, maka aku pegang tangannya atau beliau memegangi tanganku, lalu bersabda: Wahai Uqbah, maukah aku ceriterakan kepada engkau tentang keutamaan akhlaq ahli Dunia dan ahli Akhirat? Sambunglah silaturrahim kepada orang yang telah memutuskan engkau; berilah orang yang mencegah engkau dan berilah maaf orang yang telah menganiaya engaku. Ingatlah! Siapa yang menginginkan Allah memanjangkan umurnya dan meluaskan untuknya rizki-Nya, maka hendaklah ia bertaqwa dan menyambung silaturrhim (Ibnu Jarir dan Kanzul-Ummal, Juz III/ 8694)

Dalam Hadits tersebut, beliau menyebutkan tiga akhlaq utama yang dapat mendatangkan rahmat bagi kehidupan dunia dan akhirat, yaitu:

1. Menyambung hubungan kepada orang yang telah memutuskan hubungan dengannya. Mengamalkan akhlaq demikian sangat berat, tetapi sangat mulia karena harus mengorbankan tenaga, waktu dan perasaan yang paling dalam. Inilah yang dinamakan silaturrahim., sebagaimana sabda sahabat Umar bin Khaththab RA berikut:

عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ: لَيْسَ الْوَصْلُ أَنْ تَصِلَ مَنْ وَصَلَكَ ذَالِكَ الْقِصَاصُ وَلَكِنِ الْوَصْلُ أَنْ تَصِلَ مَنْ قَطَعَكَ

Dari Ikrimah RA berkata: Umar bin Khaththab berkata: Bukan silaturrahim engkau mengunjungi orang yang telah mengunjungi engkau, itu adalah kunjungan balasan, akan tetapi silaturrahim itu adalah engkau mengunjungi orang yang telah memutuskan hubungan dengan engkau (Al-Baihaqi dalam Syi’abul-Iman dan Kanzul-Ummal, Juz III/ 8689)

2. Memberikan kebaikan kepada orang yang tidak mau berbuat baik kepadamu. Akhlaq ini juga berat tapi sangat mulia, karena amalan inilah inti dari ajaran agama Islam, sebagaimana Allah SWT firmankan dalam Al-Quran:

بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Ya, siapa saja yang menyerahkan dirinya kepada Allah dan ia berbuat baik, maka baginya ada ganjaran di sisi Tuhannya; dan tak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih (Al-Baqarah, 2:112-113)

Bahkan kepada orang yang telah berbuat buruk pun, kita diperintahkan supaya membalas dengan kebaikan kalau ingin menjadi hamba yang dicintai Allah SWT, sebagaimana sabda Nabi kita Muhammad SAW berikut:

اَلْخَلْقُ كُلُّهُمْ عِيَالُ اللهِ وَتَحْتَ كَنْفِه فَأَحَبُّ الْخَلْقِ إِلَى اللهِ مَنْ أَحْسَنَ إِلَى عِيَالِهِ وَأَبْغَضُ الْخَلْقِ إِلَى اللهِ مَنْ ضَيَّقَ عَلَى عِيَالِهِ

Semua manusia itu keluarga Allah dan berada dalam lindungan-Nya, maka manusia yang paling dicintai Allah adalah orang yang berbuat baik kepada keluarga-Nya dan orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang menyengsarakan keluarga-Nya (Ad-Dailamiy dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan Kanzul-Ummal, Juz VI/16170).

3. Memberikan maaf kepada orang yang telah berbuat aniaya kepadanya.

Ketiga macam akhlaq mulia ini bukan hanya diajarkan oleh yang mulia Nabi Muhammad SAW, tetapi berkali-kali beliau contohkan dihadapan para sahabat, misalnya beliau memberikan pengampunan umum kepada para pembesar dan masyarakat Quraisy yang belasan tahun menganiaya dan berupaya membunuh beliau, bahkan terhadap Abdullah bin Ubai bin Salul seorang pembesar Madinah yang munafiq Nabi kita Muhammad SAW berkenan menshalatkan janazahnya sampai-sampai sahabat Umar bin Khaththab RA mengingatkan beliau dengan membacakan ayat Al-Quran yang berbunyi:

.. Sekalipun engkau memohonkan ampunan sampai 70 kali, sekali-kali Allah tidakan akan mengampuni mereka ..(At-Taubah, 9:80)

Sepontan Nabi menjawab: “Dalam ayat itu Allah membatasi sampai 70 kali, aku akan memohonkan ampunan lebih dari itu.

Apa yang diajarkan dan dicontohkan Nabi Muhammad SAW itu bukanlah hayalan yang tidak dapat dicohtoh oleh umat Islam. Ketiga ajaran tersebut akan dapat dilaksanakan jika umat Islam memiliki keimanan yang menumbuhkan ketaqwaan sejati seperti para sahabat dan para Imam umat Islam yang dibangkitkan dari abad-ke abad. Pendek kata orang yang ingin Allah memanjangkan umur dan banyak rezekinya, ia harus senantiasa menampilkan sikap taqwa dan menyambung hubungan dengan orang yang telah memutuskan hubungan, sebagaimana akhir sabda Nabi kepada sahabat Uqbah bin Amir RA berikut:.

أَلاَ وَمَنْ أَرَادَ اللهَ أَنْ يَمُدَّ فِى عُمْرِهِ وَيَبْسُطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ فَلْيَتَّقِ اللهَ وَلْيَصِلْ رَحِمَكَ

Ingatlah! Siapa yang menginginkan Allah memanjangkan umurnya dan meluaskan untuknya rizki-Nya, maka hendaklah ia bertaqwa dan menyambung silaturrhim (Ibnu Jarir dan Kanzul-Ummal, Juz III/ 8694)

Jumat, 22 April 2011

Apa itu Takabur?

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menulis:

“Saya mengingatkan jemaah saya agar menjauhi sifat takabur karena takabur tidak disukai Allah swt.. Anda mungkin tidak terlalu memahami apa yang dimaksud dengan takabur. Karena itu, dengarkan kata saya. Karena, saya berbicara di bawah bimbingan Ilahi.

[1] “Barangsiapa yang memandang rendah saudaranya [di]karena[kan] ia merasa dirinya lebih terpelajar, lebih bijak, atau lebih ahli, sesungguhnya ia takabur. Sebab, ia tidak menghargai Tuhan sebagai Maha Sumber-dari-segala intelegensia serta pengetahuan dan merasa dirinya sebagai sosok yang punya arti lebih. Apakah dipikir[an]nya Tuhan tidak mempunyai kekuasaan untuk mengenakan padanya penyakit kegilaan dan mengaruniakan kepada saudara yang dipandangnya rendah berupa karunia pengetahuan dan keahlian [yang] lebih daripadanya?

[2] “Begitu juga dengan ia yang karena merasa diri lebih dalam kekayaan, status sosial, ataupun kehormatan, lalu memandang rendah saudaranya, ia telah takabur karena melupakan bahwa kekayaan, status, dan kehormatannya itu adalah karunia Ilahi. Ia itu buta dan tidak menyadari kalau Tuhan memiliki kekuasaan untuk menjadikannya dalam sekejap menjadi lebih rendah dari yang terendah dan mengaruniakan kepada saudara yang dianggapnya rendah berupa kekayaan yang lebih daripadanya.

[3] “Demikian pula dengan ia yang menyombongkan kesehatan fisiknya atau menjadi angkuh karena kecantikan/keelokan wajah dan kekuatan badan, lalu menganggap rendah saudaranya dengan mengolok-olok atau mencemoohkan kekurangan diri saudaranya itu. Ia tidak menyadari bahwa Allah Yang Maha Agung mempunyai kekuasaan untuk: [i] menimpakan atas dirinya kekurangan fisik yang akan menjadi lebih buruk dari saudaranya; dan, [ii] menganugerahkan kepada saudara yang dihina tersebut [berupa] kesehatan yang baik atau kestabilan kondisi/stamina.

[4] “Serupa dengan itu adalah seseorang yang lalai dalam shalat karena merasa yakin benar akan kemampuan fitrat dirinya: Ia dikatakan takabur. Karena, dia tidak menyadari adanya sang Maha Sumber-dari-segala kekuatan dan kekuasaan.

[5] “KARENA itu, wahai, Anda yang saya kasihi! Ingat-ingatlah selalu peringatan saya ini! Agar, jangan sampai tanpa Anda sadari lalu dianggap takabur dalam pandangan Allah swt.:

[6] “Ia yang mengkoreksi saudaranya tentang cara pengucapan suatu kata, sesungguhnya termasuk takabur.

[7] “Ia yang tidak mendengarkan bicara saudaranya dengan santun dan memalingkan wajahnya, ia termasuk takabur.

[8] “Ia yang merasa enggan atau keberatan atas saudara yang duduk di dekatnya, ia termasuk takabur.

[9] “Ia yang menertawakan atau mengolok-olok saudaranya yang sedang shalat, ia termasuk takabur.

[10] “Ia yang tidak taat sepenuhnya kepada sosok pribadi yang diutus Tuhan dan Rasul Allah, ia termasuk takabur.

[11] “Ia yang tidak memperhatikan petunjuk ‘sosok pribadi demikian’ serta tidak mempelajari ‘karya tulisnya’ dengan seksama, ia termasuk takabur.

[12] “Karena itu, upayakanlah selalu jangan sampai Anda takabur dalam segala hal. Agar Anda terpelihara dari kebinasaan. Dan agar Anda memperoleh keselamatan.

[13] “Bersandarlah kepada Tuhan dan kasihilah Dia dengan sepenuh hati.

[14] “Serta, takutilah Dia dengan hati yang setakut-takutnya.

[15] “Sucikan hati Anda dan sucikan niat.

[16] “Bersikaplah lemah lembut dan rendah hati, serta jauhi kejahilan agar Anda mendapat rahmat/kasih [Allah].”[]
--
*Kutipan «”Nuzûlu 'l-Masîĥ” oleh penerbit {Dhiyâ'u 'l-Islâm Qâdiyân Press} tahun 1909» pada «”Rûĥânî Khazâ'in Jilid XVIII”, {1984: Additional Nâzir Isyâ’at London}, halaman 402—403» dalam The Essence of Islam Volume II, editor oleh Munawar Ahmad Sa’eed, Islam International Publications Limited, 2004, “Bab XII, Sub-Bab «Apakah Takabur Itu?»”, penerjemah Alm. H. Abdul Qayum Khalid. Kutipan diedit kembali oleh «Rahmat Ali/Jakarta Selatan—Jumat, 22 April 2011».
--
Vocabulary:
Takabur a merasa diri mulia (hebat, pandai, dsb); angkuh; sombong;  ketakaburan n perihal atau sifat takabur; kesombongan.”
*Kamus Bahasa Indonesia. Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. Jakarta: Pusat Bahasa, 2008, xvi, 1826 hlm.. ISBN 978-979-689-779-1

Jumat, 15 April 2011

DO’A RASULULLAH MENAKLUKAN UMAR BIN KHATHTHAB

Merupakan qudrat Ilahi, yakni Umar ra yang pada satu masa ingin menysahidkan / membunuh Rasulullah saw ternyata pada masa lain Umar ra itu sendiri yang telah mati syahid di dalam Islam. Betapa menakjubkan masa itu.

Ringkasnya, saat itu terjadi kesepakatan bahwa Umar ra aakan melakukan pembunuh  an terhadap Rasulullah saw. Setelah kesepakatan itu Umar ra terus mencari dan memata-matai Rasulullah saw. Di malam hari ia keluar dan mencari peluang kalau beliau saw seorang diri, Maka langsung dibunuh. Umar ra menanyakan kepada orang-orang kapan biasanya Rasulullah saw sedang sendirian ? Orang-orang mengatakan, biasanya setelah lewat tengah malam Beliau saw pergi ke Ka’bah dan biasanya mengerjakan shalat di sana. Mendengar hal ini Umar ra pun datang ke Ka’bah dan sembunyi. Tidak beberapa lama kemudian dari kegelapan terdengar suara. Laa ilaha illallaah. Dan itu merupakan suara Rasulullah saw. Mendengar suara ini Umar ra pun mengetahui bahwa Beliau saw sedang dari arah suara tersebut. Umar ra pun hati-hati dan menyembunyikan diri. Umar ra bermaksud, ketika Rasulullah saw sedang sujud, maka ia akan memenggal kepala beliau saw dengan pedang hingga terlepas dari badan. Begitu Rasulullah saw tiba, maka langsung memulai shalat. Kemudian peristiwa selanjutnya umar menyampaikan : "Rasulullah saw sedang menangis-nangis memanjatkan do’a di dalam sujud. Dan saya mulai merasa gemetar. Sampai akhirnya Rasulullah saw menyebutkan : "Sajadalaka ruuhii wa janaanii - Wahai junjungan-Ku, ruhku, kalbuku juga bersujud kepada-Mu".

Umar ra mengatakan : "Mendengar do’a-do’a ini hatiku luluh. Akhirnya karena kehebatan kebenaran itu, pedang pun sampai terlepas dari tangan saya. Dari kondisi Rasulullah saw pun saya mengerti bahwa Beliau saw benar dan pasti akan berjaya. Namun memang nafsu ammaarah itu amat buruk, sehingga ketika beliau saw sudah selesai shalat dan keluar, maka saya mengikuti beliau saw dari belakang. Dari suara langkah saya, beliau saw mengethaui. Saat itu malam gelap. Rasulullah saw bertanya : "Siapa itu ?", sayapun menjawab : "Umar" , Beliau menjawab, "Wahai Umar, engkau tidak menyia-nyiakan malam maupun siang [untuk mengejarku]. Saat itu saya mencium bau wangi ruh Rasulullah saw. Dan ruh saya merasakan bahwa Rasulullah saw tentu akan memanjatkan do’a buruk bagi saya. Saya pun mengatakan Yang mulia, janganlah panjatkan do’a buruk.". Umar ra mengatakan : "Saat dan detik itu merupakan saat dan detik Islamnya saya. Sampai akhirnya Ilahi telah memberi taufik kepada saya sehingga saya telah menjadi orang Islam". (File/Mubarak Ahmad)



Tiga wawasan Al-Quran mengenai akhirat

Kitab Suci Al-Quran membagi tiga kondisi yang akan ditemui setelah kematian dan terdapat tiga wawasan hikmah Al-Quran tentang akhirat. Yang pertama adalah Al-Quran berulangkali menyatakan kalau keadaan akhirat itu bukan suatu yang baru dan semua yang ditemui adalah refleksi dari kehidupan dunia ini sebagaimana dinyatakan dalam ayat:

"Amalan tiap-tiap manusia, Kami ikatkan pada batang lehernya dan pada hari Kiamat akan Kami keluarkan baginya kitab yang akan didapatinya terbuka lebar" (Bani Israil, 17 :14).
Di dunia ini pun semua efek dari amal perbuatan manusia telah dilekatkan Tuhan di lehernya, yang akan dibukakan efeknya yang tersembunyi di Hari Penghisaban dalam bentuk buku yang terbuka.

Guna menggambarkan amal perbuatan, secara metaforika digunakan kata burung. Setiap amal perbuatan, baik atau pun jahat, akan terbang pergi laiknya seekor burung, dimana upaya untuk menghasilkannya serta kesukaan dalam mengerjakannya menghilang, dengan meninggalkan sisa kebusukan atau kenyamanannya di dalam hati. Prinsip yang diajarkan Al-Quran menyatakan bahwa setiap tindak laku meninggalkan impresi yang tersembunyi. Setiap tindakan manusia akan menarik tindakan Ilahi sejalan dengan itu, sehingga sifat laku tersebut menjadi terekam pasti dan tidak akan pupus. Impresi tiap laku diukir di hati, pada wujud, di mata, di kaki atau tangan manusia. Semua itu menjadi catatan laku yang tersembunyi, yang akan dibukakan dalam kehidupan yang akan datang. Berkenaan dengan mereka yang diizinkan masuk surga, dikatakan:

"Bayangkanlah hari itu, ketika engkau akan melihat laki-laki mukmin dan perempuan mukmin, cahaya mereka akan berlari-lari di hadapan mereka dan di sebelah kanan mereka" (Al-Hadid, 57 : 13).

Di tempat lain dikemukakan tentang para pendosa bahwa:

"Persaingan satu sama lain di antaramu dalam usaha memperbanyak kekayaan duniawi membuat kamu lalai dari Allah. Hingga kamu sampai ke kuburan. Sekali-kali tidak demikian. Kamu akan segera mengetahui kebenaran. Lagi, sekali-kali tidak demikian. Kamu akan segera mengetahui. Sekali-kali tidak. Andaikata kamu mengetahui ilmu yang meyakinkan. Tentulah kamu akan melihat neraka jahanam di dunia ini juga. Kemudian kamu akan melihatnya di akhirat dengan mata yakin. Kemudian pada hari itu kamu niscaya akan diminta pertanggungjawaban tentang nikmat-nikmat yang telah dikaruniakan kepadamu" (QS.102 At-Takatsur:2-9).

Kecintaan yang berlebihan terhadap harta benda duniawi akan menghalangi usaha kalian mencari akhirat, sampai nanti telah terlambat dan kalian telah masuk kubur. Janganlah kalian mencintai dunia ini. Segera kalian akan mengetahui bahwa merupakan suatu kesalahan besar mencintai dunia. Kalau saja kalian mengerti secara pasti, kalian akan bisa melihat neraka di dunia ini juga. Kemudian di alam Barzakh kalian akan melihatnya secara meyakinkan. Pada saat dibangkitkan nanti, kalian harus memberikan pertanggungjawaban sepenuhnya dan jika azab hukuman Ilahi mengejar kalian, maka kalian akan tahu betul apa yang namanya neraka, tidak lagi secara teoritis tetapi secara praktis. (Islami Usulki Philosophy),file//mubarak ahmad

MEMOHON PENGAMPUNAN DENGAN CARA TAUBAT NASHUHA

Para  Saudara ruhaniku yang penuh keselamatan, Taubat nashuha adalah taubat yang dilakukan dengan penuh keikhlasan dan takwa. Nashuha sendiri berarti murni. Artinya suatu taubat yang dalam pandangan Ilahi pun merupakan suatu taubat yang memiliki potensi untuk memurnikan, mensucikan dan membersihkan. Status taubat nashuha berkaitan erat dengan tekad suci dan murni yang memiliki oleh hati manusia yang bertaubat.
Jika seseorang bertaubat, memohon ampun atas semua dosanya yang telah dilakukannya di masa lalu, namun di dalam dirinya sama sekali tidak ada perubahan ke arah perbaikkan dan kesucian, maka maksud dan tujuan taubat nashuha tidak tercapai.

"Taubat Nashuha" dlm Al-Qur’an karim :
“Hai orang-orang yang beriman ! Bertaubatlah kepada Allah dengan seikhlas-ikhlas taubat. Semoga Tuhan-mu akan menghapuskan dari kamu dampak kejahatan perbuatan-perbuatanmu dan akan memasukkan kamu ke dalam surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak akan menghinakan Nabi maupun orang-orang yang beriman besertanya. Cahaya mereka akan berlari-lari dihadapan mereka dan disebelah kanan mereka. Mereka akan berkata, ‘Hai Tuhan kami sempurnakanlah kiranya cahaya kami bagi kami dan maafkanlah kami, Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuaru” {At-Tahrim : 9}.

Rasulullah sawpun mengingatkan agar hati kita terisi  "Nur Ilahi" :
Hadhrat Ibnu Abbas ra meriwayatkan, beliau menginap di rumah bibi beliau, Ummul-Mukminin, Hadhrat Maimunah ra . . . Rasulullah saw, bangun malam hari lalu berwudhu dan shalat tahajut . . . Dan beliau saw memanjatkan doa ini, ‘Ya Allah, ciptakanlah nur di dalam kalbuku. Dan timbulkanlah nur di dalam mataku dalam telingaku, disebelah kananku, di sebelah kiriku, diatasku dan dibawahku, di depanku dan di belakangku dan jadikanlah akau sebagai nur’ {Bukhari, Kitabud-Da`wat, Babuddu`a, Darsus, no. 16, hal. 10 1996}.

Hadhrat Masih Mau’ud menegaskan guna ishlah diri kita "Taubat Dari Dosa" :
Dalam Bai`at, manusia melalui lidah mengikrarkan taubat dari dosa. Akan tetapi ikrarnya tidak sah apabila ikrar ini bukan dari hati. Ini adalah karunia besar dan ihsan Ilahi bahwa apabila taubat itu dilakukan dengan hati yang jujur, maka Dia mengabulkannya. Sebagaimana dia berfirman ‘Ujiybu da`wataddaa`I idza da ani {Al-Baqarah, 2 : 187} yakni ‘Aku mengabulkan taubat orang yang bertaubat’. Janji Allah Ta`ala ini mengesahkan ikrar yang dilakukan dengan hati yang benar/jujur oleh orang yang bertaubat. Jika dari Allah Ta`ala tidak ada ikrar semacam ini, maka diterimanya suatu taubat adalah suatu perkara yang sulit.
Ikrar yang dilakukan dengan hati yang benar/jujur, sebagai hasilnya ialah, Allah Ta`ala pun akan memenuhi janji-janji-Nya yang Dia berikan kepada orang-orang yang bertaubat. Dan dari saat itu di dalam hatinya mulai timbul suatu manisfestasi nur. Tatkala manusia mengikrarkan bahwa ‘Aku akan menghindarkan diri dari setiap dosa dan akan mendahulukan agama dari pada dunia’, maka itu berarti bahwa ‘walaupun aku terpaksa memutuskan hubungan dengan sanak-saudaraku, dengan keluarga dekatku dan segenap sahabatku, aku tetap akan paling mendahulukan hubungan-hubunganku itu. Orang-orang yang seperti ini, atas mereka terdapat karunia Allah Ta`ala, sebab taubat mereka adalah taubat yang dilakukan oleh hati mereka sepenuhnya’ {Al-Badar, Jilid 2, no. 14, hal. 106, tanggal 24-4-1903}.

Hubungan Taubat Dengan Hijrah
Selanjutnya Masih Mau`ud bersabda : "Pengertian bai`at yang tertinggi nilainya, taubat yang berarti kembali. Orang yang menganggap bahwa perbuatan dosa yang dilakukan sebagai Negerinya, seolah-olah ia sebagai tempat tinggal yang tetap, maka pengertian taubat di sini ialah bahwa ia meninggalkan Negerinya itu, yaitu dalam arti meninggalkan perbuatan dosa dan kemudian berusaha untuk mensucikan dirinya’. Beliau bersabda lagi ‘ketika kalian berbaiat maka ketahuilah bahwa kalian telah meninggalkan Negeri kalian (hijrah) dan itulah arti yang sebenarnya dari taubat".

"Meninggalkan Negeri tempat kelahiran adalah suatu yang sangat menyulitkan dan dirasakan sebagai penderitaan. Apabila seseorang meninggalkan rumahnya, maka betapa ia menderita, dengan meninggalkan rumah terpaksa harus berpisah dengan seluruh keluarga".

Sekarang coba renungkan berapa banyak di antara saudara-saudara yang telah berpisah dengan keluarga tercinta bertahun-tahun lamanya, sebagian sudah ada yang ditinggal wafat oleh ayahnya. Ada seseorang yang dengan pebuh rasa haru telah menemui saya kemudian bercerita bahwa ia telah 8 tahun lamanya tidak bertemu dengan ayah-bundanya serta anak-anaknya tidak bertemu dengan ayah-bundanya serta anak-anaknya, sungguh sudah cukup lama menderita yang ia rasakan.

Dengan merujuk hijrah secara jasmani, Masih Mau`ud mengajarkan kepada kita supaya yang meninggalkan kampung halamannya betapa ia sangat menderita. Dengan meninggalkan kampung halamannya terpaksa ia harus berpisah dengan karib kerabatnya dan meninggalkan barang-barang seperti tempat tidur, selimut, tetangga, jalan, pasar, semuanya telah ditinggalkan dan terpaksa pergi ke Negeri baru’.

Perhatikan, betapa beliau telah merinci topik bahasan hijrah ini dengan jalan, tempat tidur pun beliau singgung pula. Sebenarnya adalah demikian bahwa orang yang sudah pernah merasakan berhijrah, maka ia mengetahui bahwa betapapun jeleknya tempat tidur di rumahnya dan betapapun sederhananya jalan dan pasar namun pada masa yang lalu ia telah melewatkan masa kanak-kanaknya dengan penuh kenangan dan sukar untuk dilupakan’ (Darsus, No. 09, hal. 03 1997)

Ya ILAHI ampunilah kami insan-insan lemah yang tak berdaya, dengan pengampunan Engkau Yang Maha Pengampun hamba terbebas dari jurang dosa-dosa, Aamiin. (Mubarak Ahmad)

Rabu, 13 April 2011

JANGAN GENTAR

Jika datang suatu cobaan, hendaknya jangan gentar. Cobaan merupakan suatu sarana untuk memperkokoh keimanan orang Mukmin. Sebab pada saat itu di dalam ruh timbul suatu kerendahan hati serta penghambaan dan di dalam kalbu timbul suatu gejolak serta rasa terbakar, yang membuat orang Mukmin itu kembali kepada Ilahidan bagaikan air yang cair lalu mengalir di atas singgasana-Nya. Kelezatan iman yang sempurna justru terasa pada hari-hari resah dan duka.

Pada waktu ini, risaukanlah perbaikan amal-amal kalian. Kini kaitan yang baru antara kalian dengan Ilahi telah dimulai. Sebab Ilahi memaafkan dosa-dosa terdahulu setelah adanya tobat bukanlah sekedar manusia mengucapkan dari mulutnya, lalu tidak tampil dampaknya dalam tobat adalah secara total meninggalkan keburukan-keburukan dan kedurhakaan-kedurhakaan terhadap Ilahi, lalu mengerjakan kebaikan-kebaikan dan mengarungi kehidupan dalam kesetiaan terhadap Ilahi.

MENGAPA TIMBUL WASWAS DI DALAM SHALAT

Berbagai rasa waswas akan datang kepada orang-orang yang tidak sepenuhnya menumpahkan segenap perhatian mereka kepada Allah Taala tatkala mengerjakan SHALAT.

Perhatikanlah seorang tahanan ketika berdiri di hadapan hakim. Apakah pada saat itu di dalam hatinya timbul keraguan? Sama sekali tidak! Dia benar-benar akan mengarahkan seluruh perhatiannya kepada hakim, dan memikirkan kepetusan apa yang akan dijatuhkan oleh sang hakim nanti. Pada saat itu, kepada dirinya sendiri pun tahanan itu benar-benar lupa. Demikian jugalah halnya ketika seorang insan kepada Allah swt. dengan hati yang benar serta menjatuhkan dirinya dengan hati yang lurus di depan mahligai-Nya. Maka apalah kekuatan syaitan untk menimbulkan waswas pada diri orang itu?

KHUtBAH HUZUR : SATU WASIYAT PENTING NABI MUHAMMAD SAW

Nabi Muhammad saw pada suatu hari mewasiyatkan suatu wasiyat (pesan) kepada Hadhrat Mu`adz ra sebagai berikut :

“Wahai Mu`adz ra, ingin sekali kusampaikan kepadamu satu perkara yang sangat penting yang apabila eangkau iangat hal ini, maka engkau akan memeperoleh satu faedah yang besar,  tetapi bila engkau melupakannya, maka engkau tidak akan memperoleh karunia dan fadhal Ilahi dan engkau tidak akan memperoleh ketenangan sedikitpun untuk menyelamatkan dirimu.

Wahai Mu`adz ! Sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan tujuh malaikat penjaga sebelum Dia itu menciptakan langit dan bumi. (langit ialah langit ruhani). Dan setiap malaikat dari yang tujuh itu akan berada di setiap langit, sebagai penjaga pintu gerbang. Dan tugasnya ialah ; kalian harus berdiri di tempat kalian masing-masing dan hanya amal manusia yang boleh berlalu dari sini, yang Kami izinkan untuk memasukinya.
          
1. Nabi Muhammad saw bersabda : "Maka malaikat yang tugasnya menjaga dan mencatat amalan manusia naik ke langit dengan membawa catatan amalan manusia yang telah dicatat dari yang mereka kerjakan mulai sejak pagi sampai sore hari dan malaikat pun menjaga amalan itu sungguh-sungguh dan menjunjung tinggi amanat itu. Bahkan menganggap itu sebagai sesuatu yang suci. Tetapi tatkala dia sampai pada pintu gerbang langit yang pertama maka malaikat penjaga (amalan) itu berkata, ‘Kami akan menghadap Tuhan dengan membawa amalan seorang manusia dan amalan ini sangatlah baik dan terhormat’. Maka malaikat [penjaga langit] itu berkata ; "Tunggulah sebentar engkau tidak diizinkan masuk, tetapi segeralah kembali dan pukulkanlah amalan orang itu pada pelakunya. Allah SWT telah memerintahkan kepadaku untuk berdiri di sini dengan pesan agar aku tidak membiarkan amalan seseorang manusia yang suka berghibat untuk berlalu dari sini. Adapun orang yang amalannya sedang engkau bawa untuk dihadapkan kepada Allah SWT itu, dia selalu berghibat (membicarakan keburukkan orang lain).

2. Rasulullah saw bersabda ; ‘Seorang malaikat lain naik ke langit dengan membawa amalan seorang manusia, mereka mulai berbicara satu dengan yang lainnya di antara malaikat-malaikat itu memuliakan amalan itu dan hamba Tuhan itu banyak beramal soleh. Karena di dalam amalannya tidak terdapat amalan berghibat, maka malaikat pertama mengizinkan malaikat pembawa amalan itu berlalu. Tetapi tatkala dia sampai di langit yang kedua, maka malaikat penjaga pintu gerbang langit yang kedua itupun berseru kepadanya ; ‘Tunggulah dulu, kembalilah kamu dan amalan yang sedang kau bawa itu, pukulkanlah kepada pelakunya. Aku adalah malaikat penjaga amalan berisi kebanggaan dan Allah SWT sengaja menetapkan aku berdiri di sini dengan maksud tiada lain, ialah supaya aku tidak membiarkan amalan hamba-hamba Tuhan yang selalu duduk dalam majlis (pertemuan), kemudian selalu mengemukakan kebanggaan-kebanggaannya dengan amalan-amalan baiknya. Adapun orang yang amalannya itu sedang kau bawa, dia selalu duduk dalam majlis dan dia selalu membanggakan amalan-amalan baiknya’.
            
3. Rasulullah saw bersabda bahwa sekelompok malaikat yang lain membawa amalan hamba Tuhan dan merekapun berangkat menuju langit. Dan menurut mereka amalan yang mereka bawa itu merupakan suatu kumpulan amalan yang baik dan Nur-Kamil (cahaya yang sempurna), yang di dalamnya juga banyak terdapat sedekah dan khairat, begitupun puasa dan shalat. Bahkan malaikatpun merasa heran bagaimana hamba Allah SWT ini begitu tekunnya mengumpulkan amal solehnya itu. Karena di dalam amalan itu tidak terdapat ghibat dan juga membangga-banggakan diri, maka amalannya itu dapat melalui pintu gerbang langit pertama dan kedua dan malaikat-malaikat penjaga itupun mengizinkan mereka berlalu. Tetapi tatkala mereka itu berlalu di pintu gerbang langit yang ketiga, maka malaikat di sanapun berseru ; ‘Tunggulah dulu, katanya, amalan yang tengah engkau bawa menghadap Tuhan itu, bawalah kembali dan pukulkanlah itu pada si pelakunya. Aku adalah pemeriksa amalan Takabur. Dan Tuhan telah menetapkan aku di sini, supaya aku tidak mengizinkan masuk amalan-amalan yang bercampur dengan kesombongan dan takabur. Adapun amalan yang tengah engkau bawa itu, pelakunya sangatlah sombong dan sangat congkak sekali. Dia mengangap dirinya itu sangat luar biasa dan sering menganggap remeh pada orang lain dan dia selalu duduk dalam majlis dan pertemuan dan mengangkat leher tinggi-tinggi. Amalan yang kalian bawa itu menurut kalian sangatlah baik. Tapi sesungguhnya di sisi Tuhan, Dia tidak mengabulkannya’.

4. Rasulullah saw selanjutnya menerangkan: ada serombongan malaikat yang keempat, mereka membawa amalan hamba Tuhan ke langit; artinya bahwa malaikat itu menganggap amalan yang tengah mereka bawa itu indah dan gemerlapan, bagaikan bintang kejora yang berkelap-kelip dan permata yang sangat indah di dalamnya tergabung sembahyang tasbih, dan amalan ibadah haji dan umroh. Begitulah malaikat-malaikat itu setelah melewati pintu demi pintu dan langit demi langit, maka sampailah mereka itu pada pintu gerbang langit yang keempat. Maka malaikat di sanapu menahannya, seraya berkata ; ‘Tunggulah dulu dan bawalah kembali amalan-amalan itu dan pukulkanlah semua amalan itu pada pelakunya. Aku adalah malaikat pemeriksa rasa Egois dan mementingkan diri sendiri saja. Tuhan memerintahkan padaku untuk berdiri di tempat ini untuk menahan segala amalan yang di dalamnya terdapat rasa egois dan mementingkan diri sendiri saja dan menganggap dirinya dan jiwanya itu sebagai syirik (sekutu) terhadap Tuhan, sedangkan di dalam dirinya itu penuh diliputi dengan sifat egois dan mementingkan diri sendiri saja, sedangkan pada dirinya tidak ada kesadaran sedikitpun sebagai hamba Tuhan yang sejati. Maka tidaklah diizinkan bagi amalannya itu dapat melewati pintu gerbang langit yang keempat. Tuhanku berfirman kepadaku ; ‘Orang ini apabila mengerjakan suatu pekerjaan, maka ia mencampurkan amalan-amalan itu dengan sifat keakuannya dan hal itu  di sisi Allah SWT, bukanlah pekerjaan yang dapat diterima Tuhan”.

5. Rasulullah saw selanjutnya menerangkan bahwa serombongan malaikat kelima, mereka naik ke langit dengan membawa amalan hamba Tuhan, yangmana malaikat itu menilai amalan itu bagaikan ; ‘Seorang pengantin remaja yang dirinya di hias begitu cantik, yang pada malam pengantinnya duduk di hadapan pengantin laki-lakinya. Tetapi tatkala amalan itu berhasilmelampaui keempat gerbang langit itu dan akan memasuki pintu gerbang langit kelima, maka malaikat penjaga berseru ; ‘Tunggulah dulu, kembalilah serta pukulkanlah amalan itu pada pelakunya. Tuhan tidak bersedia menerima amalan itu. Kami adalah malaikat Hasad (malaikat kebencian). Tuhan telah menetapkan aku bahwa orang yang dalam amalannya itu suka bersifat dendam dan benci terhadap orang lain, maka amalannya itu tidak diterima atau tidak diizinkan memasuki pintu gerbang yang kelima. Orang ini menaruh benci dan dendam terhadap orang-orang yang menuntut ilmu dan kepada orang yang beramal soleh dan berlaku baik.

6. Rasulullah saw selanjutnya menerangkan, bahwa serombongan malaikat yang keenam naik langit dengan membawa amalan seorang hamba Tuhan lainnya. Dia sudah melalui pintu-pintu gerbang langit dan sampai di pintu gerbang ke enam. Di dalam amalan itu terkandung amalan puasa, zakat, haji dan umrah. Malaikat-malaikat itu mengira bahwa amalan itu pastilah diterima oleh Allah SWT. Tatkala malaikat itu sampai pada pintu gerbang langit yang keenam, maka malaikat disanapun berseru ; ‘Tunggulah dulu, orang ini sebagai hamba Tuhan, tetapi ia tidak pernah berlaku kasih sayang terhadap hamba Tuhan lainnya sama sekali. Dan Allah SWT menetapkan aku di sisni supaya setiap amalan yang ada rasa kasih sayang terhadap makhluk Tuhan lainnya, diizinkan masuk dari sini. Maka kembalilah sekarang juga dan pukulkanlah amalan itu pada pelakunya sambil katakana kepadanya ; ‘Kamu dalam hidupmu ini bukan berlaku kasih-sayang terhadap hamba-hamba Tuhan melainkan selalu berlaku keji dan kejam terhadap mereka. Allah SWT selalu berlaku kasih-sayang padamu. Maka bagaimana mungkin Dia akan mengabulkan amalanmu itu ?’

7. Selanjutnya Nabi Muhammad saw menerangkan bahwa ada serombongan malaikat lain yang membawa amalan hamba Tuhan. Dari pintu ke pintu, dari langit ke langit dilaluinya dengan mudah, sampai pada akhirnya sampailah mereka itu pada pintu gerbang langit yang ketujuh. Macam-macam ibadah kepada Ilahi terkandung di dalamnya, seperti shalat, puasa, fiqih, ijtihad dan sebagainya.

Dalam amalan-amalan itu terdengar dengaungan sayap lebah madu yang berdengung dengan merdunya, yang nyata itu adalah dengungan sayap malaikat yang tengah bergembira dengan membawa amalan-amalan baik itu. Untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Dan amalan tersebut bersinar terang, bagaikan matahari yang terang benderang. Begitu pula amalan tersebut begitu besar dan beratnya, sampai-sampai malaikat yang mengangkatnyapun berjumlah 3.000 banyaknya. Ketika itu sampai di pintu langit keenam itu, maka malaikat penjaga di sana berseru ; ‘Tunggulah dulu, kalian tidak dibenarkan berlalu. Kembalilah dan pukulkanlah amalan yang kalian bawa itu ke wajah sipelakunya dan kuncilah hatinya itu. Sesungguhnya Tuhan telah menetapkan padaku untuk tidak membawa dan mempersembahkan amalan-amalan hamba Tuhan yang sepenuhnya tidak di dasarkan untuk semata-mata mencari keridhoan Tuhan melainkan untuk yang lainnya.
Orang ini sering duduk di Majelis Ulama dan Fukaha serta mengemukakan masalah-masalah agama dan fiqih serta Ijtihad dengan penuh kebanggaan, agar ia mendapat kehormatan dan pandangan baik di sisi manusia. Hal itu dilakukannya bukan untuk mencari ridho Tuhan semata-mata. Melainkan agar dia terkenal di kalangan Ulama dan Fuqaha, sebagai seorang suci dan berilmu tinggi. Dan orang-orang sering menyebut-nyebut namanya dalam Majelis Ulama.

Amalannya itu di dalamnya terdapat sifat riya (pamer, yang mana hal itu sangat tidak disukai Tuhan dan Tuhan tidak mengabulkannya. Maka aku diperintahkan oleh Ilahi untuk tidak mengizinkan amalan itu berlalu, bahkan supaya mengembalikan amalan itu kepada si pelakunya.

8. Nabi Muhammad saw selanjutnya menerangkan kembali tentang hamba Tuhan lainnya yang [amalannya] di bawa oleh serombongan malaikat yang naik ke langit, melewati pintu gerbang yang ketujuh. Dan malaikat di sana tidak keberatan atasnya. Di dalam amalan itu terdapat amalan baik seperti, shalat, haji, umrah, akhlak yang baik, dzikir Ilahi dan sebagainya.

Tatkala malaikat berdiri dihadapan Allah SWT untuk mempersembahkan amalan-amalan itu, yang dilakukan secara murni untuk keridhoan Allah SWT semata-mata, sambil katanya ‘Ya Tuhan kami, hamba Engkau ini setiap waktu selalu sibuk beribadah kepada-Mu dan banyak amal-amal soleh yang dilakukannya waktunya yang berharga itu diisinya untuk selalu taat kepada Engkau. Ia sangatlah mukhlis dan dalam amalannya itu tidak ada keaiban (cacat). Pokoknya malaikat itu sangat memuji amalan itu. Maka Allah SWT berfirman ; ‘Aku menetapkanmu hanya sebagai pencatat dan penjaga amalan yang sudah dikerjakan saja. Engkau hanya melihat amalan hamba-Ku itu hanya secara lahirnya saja dan engkau tuliskan semua itu menurut perintah-Ku. Sedangkan Aku meneliti keadaan hatinya itu.

Hamba-Ku ini beramal saleh bukan untuk mencari ridho-Ku, melainkan niat dan tujuannya itu kemana-mana selain dari pada-Ku. Maka laknatlah yang turun atasnya. Maka malaikat-malaikatpun berserulah dengan serempak laknat-Ku menimpa atasnya, maka laknat Kami pun menimpa atasnya. Maka ketujuh langit dan segala dan segala makhluk yang ada di dalamnya melaknat orang itu.

Ketika Mu’adz mendengar uraian hadits Rasulullah saw itu, maka hatinya bergetar dan berdebar-debar seraya berkata: ‘Ya Rasulullah, kalau demikian keadaan amalan-amalan kami, bagaimana mungkin bagi kami untuk selamat dan bagaimana mungkin dapat selamatkan diri kami dari kemurkaan Tuhan ?

Sabda Rasulullah saw Beramallah atas sunah-sunahku !
Yakinkanlah olehmu bahwa hamba Tuhan walau bagaimanapun bagus amalnya dan akhlaknya itu, pastilah akan terdapat kekurangan dan kelemahan di dalamnya. Oleh karena itu janganlah engkau merasa bangga atas amalanmu yang bagaimanapun juga. Tetapi sebaliknya percayalah bahwa Tuhan kita walau bagaimanapun kelemahan dan kekurangan terdapat pada amalan hamba-Nya itu. Dia pasti akan mengampuninya.
Jagalah juga lidahmu baik-baik dan jangnlah engkau menyakiti hati siapapun juga dengannya. Janganlah mengeluarkan sesuatu perkataan yang buruk daripadanya.


Dan janganlah pula menganggap dirimu itu lebih baik dari yang lain dan janganlah pula sekali-kali mengumumkan ketakwaanmu pada orang-orang lain.

Apapun amalan yang kau lakukan demi untuk mencari ridho Tuhan untuk kebanggaan akhirat nanti, jangan engkau campuri sedikitpun dengan persoalan dunia.

Janganlah engkau sekali-kali membuat fitnah dalam masyarakat atau ingin memecah belah mereka. Apabila engkau berbuat demikian, maka di akhirat nanti anjing-anjing neraka akan menyobek-nyobekmu dan akan mengoyak-oyak tubuhmu.

Janganlah beramal apapun untuk beriya (pamer) di hadapan orang lain. {Ruhul Bayan, Jilid I, hal. 76-77}. Penjelasan dari ikutilah sunah-sunahku !!!. 

Surga diwujudkan dalam diri seseorang

 Dalam Al-Quran Allah swt berfirman :
"Berilah kabar suka kepada orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh bahwasanya untuk mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sunga".  (Al-Baqarah, 2 : 26).

Dalam ayat ini Allah swt mengemukakan keimanan sebagai kebun yang di bawahnya dialiri sungai-sungai. Disini dikemukakan hubungan antara air dengan kebun sebagaimana hubungan keimanan dengan amal perbuatan. Sebagaimana tidak ada kebun yang mungkin hidup tanpa air, begitu juga dengan keimanan yang tidak akan hidup tanpa amal saleh. Dengan demikian, apakah surga itu? Surga itu adalah perwujudan dari keimanan dan amal saleh manusia. Sebagaimana halnya dengan neraka, surga pun bukan sesuatu yang berasal dari luar. Surga setiap manusia dilahirkan dari dirinya sendiri.

Ingatlah! Segala berkat yang dikaruniakan sesungguhnya merupakan perwujudan dari kesalehan di dunia. Keimanan hakiki mirip dengan pohon sedangkan amal saleh merupakan sungai yang mengairinya guna menjaga kelestarian kehijauan dan keindahannya. Di dunia segala hal itu terlihat sebagai dalam mimpi, tetapi di akhirat nanti semuanya akan dirasa dan dilihat sebagai realitas. Itulah sebabnya ketika para penghuni surga dianugrahi dengan berbagai karunia itu mereka akan mengatakan :

"Inilah yang telah diberikan kepada kami dahulu@ dan akan diberikan kepada mereka yang hampir serupa" (Al-Baqarah, 2 : 26).

Tidak berarti bahwa di surga nanti kita akan diberikan susu, madu, buah anggur, delima dan lain-lain yang kita makan di dunia ini. Semuanya akan berbeda kecuali namanya saja sebagai tamsil. Semua itu diuraikan secara phisikal, tetapi kita diberitahukan bahwa semua itu jika dimakan akan mencerahkan nurani dan menciptakan pemahaman Ilahi yang lebih mendalam. Sumbernya adalah kalbu dan ketakwaan.

Tidak berarti bahwa sebagaimana kita menikmati susu, madu, buah anggur, delima dan lain-lain di dunia ini, lalu barang itu juga yang disediakan di ahirat. Sama sekali tidak demikian. Semua barang-barang tersebut, baik jenis mau pun kondisinya, secara total berbeda kecuali pada penamsilan namanya saja. Meskipun semua keberkatan itu dicontohkan dalam istilah-istilah yang konkrit, pada saat bersamaan dijelaskan juga kalau semua berkat tersebut akan mencerahkan kalbu dan menuntun kita kepada pemahaman Ilahi yang lebih baik. Sumbernya adalah kalbu dan kebenaran.

Pengertian dari "yang telah diberikan kepada kami dahulu" tidak berarti bahwa barang-barang itu merupakan karunia ragawi di dunia ini. Sama sekali tidak demikian. Apa yang dimaksud Tuhan dalam ayat ini ialah setiap orang mukmin yang berlaku takwa maka mereka sendiri yang akan mencipta surga di bumi dimana buahnya pun akan mereka nikmati di akhirat juga. Sebagaimana mereka telah mengecap buah tersebut di dunia secara ruhaniah, mereka akan mengenalinya kembali di akhirat nanti dan berseru menyatakan : "Ini adalah buah dan kenikmatan ruhaniah yang sama seperti yang kita rasakan di dunia". Mereka yang menyembah Tuhan dan memiliki wawasan keruhanian pasti akan mengenalinya kembali.

Demikian itulah filosofi tentang surga dan neraka. Namun jangan dilupakan bahwa azab di dunia ditujukan sebagai peringatan dan pelajaran serta merupakan bagian dari sistem pendisiplinan. Seperti juga terdapat keterkaitan antara kenegarawanan dengan pengampunan, maka azab tersebut merupakan refleksi dari keterkaitan tersebut. Tingkah laku manusia semuanya direkam dan disimpan seperti halnya suara direkam dalam piringan hitam atau sarana audio. Hanya mereka yang memiliki wawasan yang bisa menarik kesenangan dan kemaslahatan dalam merenungi sistem ini. (Malfuzat, vol. III, hal. 25-30).

HAKIKAT 'TASQIB' (BINTANG YANG BERCAHAYA)

Maish Mau'ud as bersabda ; Kalau seorang mukmin selalu mendahulukan Allah swt. pada setiap hal maka ia akan mengalami rafa' (peningkatan) ke arah-Nya. Orang itu akan diangkat ke arah Allah swt. didalam kehidupan ini juga dan ia akan berkilauan dengan nur yang khusus. Dalam keadaan rafa' itu ia akan demikian jauhnya dari pengaruh  buruk syaitan sehingga tangan syaitan pun tidak dapat menggapainya. Allah swt. telah memberikan contoh bagi segala sesuatu di dunia ini juga. Dan hal itu mengisyaratkan bahwa apabila syaitan mulai naik ke langit, maka sebuah bintang 'tsaqib' akan mengikuti dari belakang dan akan menjatuhkannya. 

'Tsaqib' adalah bintang yang terang benderang. Sesuatu yang menimbulkan lubang pun dikatakan 'tsaqib'. Demikian juga halnya dengan sesuatu yang menjulang sangat tinggi sekali. Di sini diterangkan sebuah tamsil bagi keadaan manusia, yang didalamnya tidak hanya terdapat hakikat yang nyata, bahkan juga hakikat yang tersembunyi. Ketika seorang insan telah memperoleh keimanan yang sempurna akan Allah swt., maka ia mengalami rafa' ke arah-Nya. Dan kepadanya akan dianugerahkan sebuah kemampuan, kekuatan serta cahaya yang istimewa yang dengan kekuatan itulah ia akan menjatuhkan syaitan. Tukang pukul pun dakatakan 'tsaqib'. Adalah wajib bagi setiap orang mukmin untuk berusaha memukul jatuh syaitanya dan lalu membinasakannya. Orang-orang yang tidak mengetahui ilmu kerohaniaan, mereka akan mentertawakan hal-hal seperti ini. Namun, sebenarnya merekalah orang-orang yang patut ditertawakan.

Ada sebuah hukum kodrat lahiriah dan ada juga sebuah hukum kodrat batiniah. Hukum lahiriah merupakan sebuah lambang  bagi hukum batiniah. Allah Taala pun melalui wahyu-Nya berfirman kekepadaku :
Yakni, ''Engkau dari-Ku merupakan sebuah tsaqib.'' Maksudnya adalah, ''Aku (Tuhan) telah menciptakan engkau untuk membunuh syaitan. Melalui tangan engkaulah syaitan akan binasa.''

Syaitan tidak dapat menjulang tinggi. Jika orang mukmin memanjat ke suatu tempat yang tinggi, maka syaitan tidak akan  dapat menguasinya. Hendaknya orang mukmin itu berdoa kepada Allah swt. supaya ia dapat memperoleh sebuah kekuatan yang dapat membinasakan syaitan. Untuk menjaukan sekian banyak pikiran buruk yang timbul adalah bergantung pada pembinasaan setan..

Tanda - Tanda Iman

Menanggung penderitaan di jalan Ilahi, bersiap sedia menghadapi musibah-musibah dan kesulitan, merupakan hal yang timbul akibat gerakan iman. Iman merupakan suatu kekuatan yang menganugerahkan keberanian dan asa yang hakiki kepada manusia. Contohnya tampak di dalam kehidupan para sahabat ra.

Ketika mereka menyertai Rasulullah saw, apa yang membuat mereka yakin akan memperoleh pahala dengan menyertai seorang insan yang lemah dan tak berdaya itu ? Secara Zahir tidak tampak hal lain kecuali bahwa dengan menyertai satu orang (Rasulullah saw saja) ini maka seluruh kaum akan menjadi musuh. Akibatnya jelas bahwa musibah-musibah dan kesulitan-kesulitanakan melanda. Dan penderitaan-penderitaan  itu akan mencincang0cincang mereka. Dan dengan demikian mereka akan binasa.

Namun ada juga satu mata yang memandang musibah-musibah dan kesulitan-kesulitan itu sebagai sesuatu yang tidak bermakna sama-sekali. Dan mati di jalan itu ia anggap sebagai suatu ketentraman dan kenikmatan. Dan mata itu telah melihat sesuatu yang sangat terselubung serta sangat jauh bagi mata-mata zahir lainnya. Itulah MATA IMAN DAN KEKUATAN IMAN, yang membuktikan bahwa segenap penderitaan dan kesusahan itu sama sekali tidak bermakna. Akhirnya iman itulah yang telah menang. Dan iman itulah yang telah menang. Dan iman tersebut memperlihatkan kehebatan sedemikian rupa sehingga orang yang menjadi bahan tertawaan dan orang yang disebut tidak berdaya serta seorang diri itu, melalui sarana iman, telah mengantarkan orang-orang lain sampai ke derajat yang tinggi. Ganjaran dan pahala yang tadinya terselubung dan pahala yang tadinya sedemikian rupa sehingga dunia melihatnya dan telah merasakan bahwa memang benar itu merupakan buah iman tersebut.

Dengan adanya iman itu, Jemaat para sahabat tidak pernah penat dan letih. Melainkan akibat dorongan kekuatan iman itu mereka telah melakukan pekerjaan-pekerjaan besar. Namun tetap saja [pihak luar] mengatakan bahwa para sahabat itu belum melakukan sepenuhnya.

Iman telah memberikan kekuatan kepada mereka, para sahabat itu sehingga BAGI MEREKA MENYERAHKAN KEPALA DAN MENGORBANKAN NYAWA DI JALAN ILAHI MEREKA ANGGAP PERKARA KECIL. Dan ketika belum tampak hasil-hasil yang jelas, lihatlah warga saat itu. Betapa orang-orang Islam telah menanggung penderitaan-penderitaan dan bala-musibah di tangan para musuh hanya karena mengucapkan ‘Laa ilahaa illallaah muhammadur rasulullah’.

Itulah yang pernah terjadi di suatu zaman dahulu. Yakni saat itu menyerahkan kepala bukanlah suatu yang sulit. Dan sekarang ini adalah suatu zaman dimana walaupun memiliki kekuatan iman dan pihak penentangpun tidak memberi penderitaan-penderitaan semacam itu-bahkan [umat Islam di Hindustan] berada di bawah naungan sebuah pemerintah yang adil ; kerajaan tidak memberikan halangan apapun, segenap sarana untuk meraih ilmu-ilmu agamapun tersedia, tidak ada kesusahan untuk menerapkan rukun-rukun agama-ternyata [bagi agama Islam] terasa sulit untuk melakukan sebuah sujud sekalipun . Simaklah  dalam-dalam ! Bandingkanlah. Bagaimana kepala yang diserahkan dan bagaimana sebuah sujud [yang terasa susah]?
Dari itu dengan jelas diketahui. Betapa tipisnya iman pada masa sekarang ini. Dan dalam kondisi bahwa dengan mengerjakan shalat dan dengan melakukan wudhu, terkadang manfaat-manfaat kesehatan bagi fisik [ternyata tetap saja orang-orang enggan melakukan] {Malfuzhaat, Jilid II, Hal. 151-152}.

Azab siksaan adalah buah perbuatan manusia

Yang dimaksud sakit adalah keadaan ketika tubuh tidak berfungsi secara normal, sedangkan keadaan sehat adalah kondisi ketika semua fungsi tubuh secara naluriah berjalan dengan baik. Menggeser kaki, tangan atau anggota tubuh dari posisinya yang benar akan menimbulkan rasa sakit dan jika kondisi ini berlangsung lama, tidak saja anggota tubuh itu menjadi layu tetapi juga mempengaruhi bagian tubuh lainnya.
 
Keadaannya pun sama dengan jiwa. Jika manusia menjauh dari Tuhan yang menjadi Sumber Kehidupan-nya yang hakiki serta menjauh dari agama naluriah, maka ia akan menderita dimana jika hatinya belum mati beku ia akan merasakan kepedihan siksaannya. Bila kondisi tersebut tidak diperbaiki, dikhawatirkan semua fitrat keruhaniannya akan menjadi layu yang akan menimbulkan siksaan yang amat sangat.

Dengan demikian jelas bahwa yang namanya azab siksaan itu tidak datang dari luar melainkan dari dalam diri sendiri. Kami tidak menyangkal bahwa azab merupakan tindakan Tuhan, namun hal itu merupakan konsekwensi dari tindakan manusia sendiri, seperti jika ia menelan racun maka Tuhan akan mematikannya. Hal ini dinyatakan Allah swt dalam ayat :

"Itulah api Allah yang dinyalakan yang naik sampai ke hati" ( Al-Humazah:7-8).
Karena itu jelas kiranya bahwa yang menjadi benih azab siksaan adalah kekotoran jiwa seseorang yang mewujud menjadi siksaan.

Rabu, 06 April 2011

LIMA SEBAB KEMUNDURAN SUATU BANGSA


“Pada suatu hari Rasulullah saw menerangkan kepada para sahabat tentang sebab-sebab yang menjadikan mundurnya Bangsa-bangsa, sebab kebaikkan yang dahulu maupun sekarang tetap akan berlaku. Sabda Beliau saw, ;  ‘Ada lima macam keburukkan yang kuminta perlindungan Allah SWT terhadap merajalelanya di tengah pengikut-pengikutku setiap saat, sebab pengaruhnya itu menyebabkan kebinasaan total untuk Bangsa-bangsa, yaitu;

Pertama, Manakala suatu Bangsa asyik di dalam praktek-praktek immoril yang terang-terangan dan tidak terkendali, maka sebagai follow-upnya adalah Bangsa itu akan mengalami penderitaan karena serangan wabah-wabah dan penyakit yang jarang sekali menimpa umat manusia sebelumnya.

Kedua, Manakala suatu Bangsa menjadikan kebiasaan mengurangi timbangan (takaran), mereka seterusnya harus menghadapi bahaya kelaparan, kesukaran hidup dan tekanan yang merupakan buah daripada dosa-dosa mereka itu.

Ketiga, Manakala suatu Bangsa lalai dalam kewajiban membayar zakat dan sedekah (kepada fakir-miskin) Bangsa itu dilanda musim kering.

Keempat, Manakala suatu Bangsa membatalkan perjanjiannya dengan Tuhan dan Nabi-nabi-Nya, mereka menderita kenistaan hidup di bawah perbudakan musuh-musuh mereka yang tidak mengakui hak-hak mereka.

Kelima, Manakala rohaniwan-rohaniawan dari suatu Bangsa menukar-balikkan ajaran Agama dan syariat untuk diterapkan kepada kepentingan dan maksud mereka sendiri, maka berjangkitlah pertentangan dan peperangan saudara ditengah-tengah Bangsa itu” {Sirat oleh Ibnu Hisyam, Jilid III, hal. 88}.

Hakikat Budi-Pekerti

Corak ketiga di antara budi-pekerti atas akhlak menjauhi kejahatan ialah apa yang disebut dalam bahasa Arab Hudnah atau Haun, yaitu suatu sikap yang tidak mau menyakiti orang lain secara badaniah, dengan cara aniaya dan berlaku santun serta menjalani hidup yang rukun damai. Ringkasnya, tidak syak lagi bahwa hidup rukun damai merupakan budi-pekerti ini, kekuatan alami yang terdapat dalam diri seorang anak kecil, yaitu Ulfat atau sifat kelekatan dapat merubah menjadi nilai budi-pekerti bila memakai pertimbangan akal. Adalah jelas bahwa seorang manusia masih tetap dalam keadaan alaminya selama ia tidak mempergunakan pertimbangan akalnya dan selama itu ia tidak dapat memahami arti permusuhan.
 
Jadi pada tingkat itu sifat kerukunan yang terdapat di dalam dirinya baru merupakan naluri, yang menjadi dasar kebiasaan hidup secara rukun damai. Akan tetapi, oleh karena belum dikembangkan dengan pimpinan akal, maka hal itu tidak dapat digolongkan ke dalam nilai budi-pekerti. Apabila manusia dengan iradahnya dan kemauannya membuat dirinya sendiri menjadi seorang penyantun serta mempergunakan nilai budi-pekerti kerukunan itu pada tempatnya, barulah dapat digolongkan ke dalam nilai budi-pekerti. Berkenaan dengan itu Allah Ta`ala berfirman ; ‘Berukun-rukunlah antara satu sama lain’ {8 : 2}. Dalam keadaan suasana rukun damai terdapat banyak unsur kebaikkan’ {4 : 129}. ‘Dan jika mereka cenderung kepada perdamaian, maka cenderung pulalah engkau kepadanya’ {8 : 62}. ‘Hamba-hamba Allah Ta`ala yang saleh berjalan di muka bumi dengan cara santun’ {25 : 64}. ‘Dan jika mendengar sesuai ucapan yang sia-sia dan merupakan pendahuluan yang menjuruskan kepada pertentangan dan perkelahian, maka berlalulah mereka secara terhormat dan tidak mau melibatkan diri dalam pertengkaran mengenai hal remeh-temeh. Mereka tidak merasa pantas melibatkan diri dalam sengketa selama perkara itu tak menimbulkan kesulitan besar kepada mereka’ {35 : 73}.

Landasan terciptanya suasana kehidupan rukun-damai ialah sikap tidak menghiraukan perkara yang remeh-remeh dan bersedia memaafkan perkara-perkara itu. Hendaknya diresapkan pula maksud perkataan laghw (sia-sia) yang tercantumdalam ayat itu bahwa bahasa Arab perkataan itu dikenakan kepada perbuatan yang demikian ini. Misalnya seseorang yang dari nakalnya mengucapkan kata-kata yang tidak senonoh atau bermaksud merugikan orang lain dengan melakukan suatu perbuatan, tetapi sebenarnya tidak mendatangkan suatu kerugian yang berarti kepada si penderita.

Ringkasnya cara untuk menjaga hidup rukun damai ialah harus selamanya bersedia memaafkan perbuatan yang tak senonoh seperti itu dan memperlihatkan sikap yang agung. namun manakala perbuatan yang merugikan tak hanya mencapai batas laghw saja, malahan benar-benar mendatangkan kerugian kepada jiwa, harta atau kehormatan, maka untuk pemberian maaf itu termasuk budi yang disebut `afwun, tentang itu InsyaAllah akan kami bahas kemudian. Selanjutnya Allah Ta`ala berfirman ; ‘Barangsiapa dari nakalnya mengucapkan kata-kata yang kurang senonoh, maka hendaklah membalasnya dengan cara yg baik. Dengan jalan demikian lawanpun akan menjadi kawan {41 : 35}.

Ringkasnya yang dimaksud dengan hidup rukun itu ialah menempatkan sifat memberi maaf kepada perbuatan yang dikira tidak mendatangkan suatu keruigian dan hanya terbatas pada ucapan-ucapan musuh yang kurang senonoh saja’ {Filsafat Ajaran Islam, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad , Jemaat Ahmadiyah Indonesia, hal. 42-43, 1993}.

Hakikat Kesabaran


Di antara keadaan-keadaan thabi’i manusia, salah satunya adalah sabar (ash-shabr), yang terpaksa manusia lakukan ketika menghadapi musibah-musibah, penyakit-penyakit, dan penderitaan-penderitaan yang senantiasa menimpanya. Dan manusia memilih bersabar setelah banyak meratap dan berkeluh-kesah. Tetapi ketahuilah, menurut Kitab Suci Ilahi kesabaran semacam itu tidak tergolong akhlak, melainkan suatu keadaan yang pasti akan tampil setelah mengalami keletihan. Yakni, di antarakeadaan-keadaan thabi’i manusia terdapat juga suatu keadaan, ketika datang musibah maka ia pertama-tama menangis, meraung-raung dan memukul-mukul kepala. Setelah semua emosi terluapkan akhirnya gejolak itu terkendali, dan pada puncaknya ia ter­paksa mundur.
Jadi, kedua sikap ini merupakan keadaan-keadaan thabi’i. Sedikit pun tidak ada kaitannya dengan akhlak. Justru akhlak yang berkaitan dengan itu ialah, bila suatu benda terlepas dari tangan, maka dia tidak berkeluh-kesah seraya menganggap benda itu sebagai amanat Allah. Dan dia mengatakan, “Ini tadinya merupakan milik Tuhan, dan Tuhan telah mengambilnya. Kami rela terhadap kehendak-Nya.”

Berkenaan dengan akhlak ini, Alquran Suci, Kalam Suci Allah Ta’ala mengajarkan kepada kita :
Yakni, hai orang-orang yang beriman ! Kami senantiasa akan menguji kamu. Kadang-kadang kepadamu akan didatangkan keadaan yang menakutkan dan kadang-kadang kamu akan mengalami kekurangan serta kelaparan, dan kadang-kadang kamu akan menderita kerugian harta dan kadang-kadang kamu akan mengalami kehilangan jiwa. Dan kadang-kadang kamu mengalami kegagalan dalam usaha-usahamu, dan upaya-upayamu tidak akan membawa hasil sebagaimana yang diinginkan. Dan kadang-kadang anak-anak kesayanganmu akan meninggal. Jadi, bagi mereka ada khabar suka. Apabila mereka tertimpa suatu musibah, mereka mengatakan, “Kami adalah kepunyaan Tuhan, amanat-Nya, dan milik-Nya.” Jadi, yang benar ialah, kembalikan segala sesuatu kepada Sang Pemilik amanat. Inilah orang-orang yang mendapat rahmat Ilahi dan inilah orang-orang yang telah menemukan jalan Tuhan (2 : 156 - 158).

Ringkasnya, nama akhlak ini adalah sabar dan rela terhadap keputusan Ilahi. Dalam pengertian lainnya, akhlak ini juga dinamakan adil. Sebab, apabila selama hayat masih dikandung badan manusia, tatkala Allah Ta’ala melakukan segala sesuatu di dalam seluruh kehidupan manusia sesuai dengan keinginannya, dan kemudian ribuan hal telah tampil sesuai kehendaknya, dan sekian banyak nikmat telah dianugerahkan kepada manusia yang selaras dengan keinginannya, maka sungguh tidak layak bagi manusia, jika Tuhan menghendaki kehendak-Nya agar ditaati, malahan berpaling dan merasa tidak senang terhadap kehendak-Nya, kemudian mengelak atau meninggalkan kepercayaaan dan menyimpang dari jalan-Nya’ {Filsafat Ajaran Islam, Masih Mau`ud, hal. 58-58, 1993}.

Hikmah kisah umat Yahudi bagi Umat Islam


Kenapa umat Israil disebut umat yg dimurkai Allah (Maghdub)? Disebabkan laku amalan mereka yg disebut dlm surah Al Imran ayat 12 : "Yang demikian itu karena mereka kafir (menolak) kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas."

Ayat tsb sekaligus menjadi peringatan dan perenungan bagi umat Islam krn tidak ada jaminan umat Islam tidak melakukan amal yg sama, terlebih Rasul saw telah menyatakan sebuah khabar ghaib (nubuwatan) bahwa hal tsb akan terjadi : "Sesungguhnya kamu akan mengikuti tata cara orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Bahkan seandainya mereka memasuki lubang biawak pun, tentu kamu akan mengikutinya. Kami (para sahabat) bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani? Beliau menjawab," Siapa lagi kalau bukan mereka" (Bukhari)

"Sungguh akan terjadi pada umatku apa yg pernah terjadi atas Bani Israil, bagaikan sepasang sandal.." (HR Turmudzi)