Tampilkan postingan dengan label Ruh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ruh. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 April 2011

Fitrah RUH

Kitab Suci Al-Quran banayak memberikan rincian dari sifat-sifat, kekuasaan dan kemampuan ruh atau jiwa yang beberapa di antaranya diuraikan di bawah:
  1. Fitrat berupa hasrat memperoleh wawasan dan pengetahuan.
  2. Fitrat mencari pengetahuan.
  3. Fitrat memelihara pengetahuan yang telah diperoleh.
  4. Fitrat kasih kepada Allah swt
  5. Fitrat mendapat kegembiraan dari pertemuan dengan Tuhan.
  6. Fitrat melihat kashaf.
  7. Fitrat mempengaruhi dan dipengaruhi.
  8. Fitrat mencipta hubungan dengan mahluk lainnya.
  9. Fitrat memperoleh sifat-sifat Ilahi.
  10. Fitrat menerima wahyu.
  11. Fitrat mengembangkan dan menekan suasana hati.
  12. Fitrat mendapatkan pemahaman tanpa batas.
  13. Fitrat mengambil rona manifestasi warna Ilahi.
  14. Fitrat nalar guna membedakan antara kecantikan dan keburukan.
  15. Fitrat memperoleh impresi dan pengaruh dari mahluk terkait.
  16. Fitrat pengakuan akan eksistensi sang Maha Pencipta.
  17. Fitrat manifestasi kombinasi sifat-sifat baru dengan raga terkait dan bentuknya yang khusus.
  18. Fitrat daya tarik mutual yang bisa dianggap sebagai daya magnetis.
  19. Fitrat keabadian.
  20. Fitrat pemeliharaan hubungan khusus dengan partikel dari mereka yang sudah meninggal yang dimanifestasikan kepada mereka yang telah mengalami kashaf.
Masih banyak lagi fitrat ruh atau jiwa yang dirinci dalam Al-Quran secara indah dan agung. (Surma Chasm Arya, Qadian, 1886

APAKAH RUH ITU

Kitab Suci Al-Quran menegaskan bahwa ruh atau jiwa tidak mewujud dengan sendirinya tanpa melalui suatu proses penciptaan. Semua jiwa diciptakan melalui pertemuan khusus di antara dua jenis benih reproduksi, sedangkan pada jenis serangga sederhana ada yang melalui satu jenis saja. Hal ini merupakan kenyataan yang ditegaskan oleh penelitian dan tidak mengandung kontradiksi. Adalah suatu kebodohan menolak apa yang merupakan realitas yang kasat mata.
 
Ketika kami menyatakan bahwa jiwa mewujud dari ketiadaan, tidak berarti bahwa sebelum mewujud, jiwa itu tidak berarti apa-apa. Yang dimaksud adalah tidak ada materi pra-eksis yang dari mana manusia bisa menarik keluar jiwa dengan kekuatannya sendiri, karena hanya kekuatan dan kebijakan Ilahi saja yang bisa mewujudkannya dari materi yang lain. Itulah sebabnya ketika Hazrat Rasulullah saw ditanya sahabat beliau: "Apakah ruh atau jiwa itu?", beliau diperintahkan Allah swt untuk menjawab bahwa, "Ruh telah diciptakan atas perintah Tuhan-ku."

Ayat Al-Quran yang berkaitan dengan masalah ini ialah:

"Mereka bertanya kepada engkau mengenai ruh. Katakanlah: Ruh telah diciptakan atas perintah Tuhan-ku dan tidaklah kamu diberi ilmu tentang itu melainkan sedikit sekali. "(Bani Israil, 17 : 86).

Dengan demikian penciptaan ruh itu merupakan suatu misteri penciptaan yang sulit bisa dipahami oleh manusia. Apa yang diketahuinya hanyalah tentang kelahiran ruh sebagaimana jika kita perhatikan serangga yang mewujud dari suatu materi lain.

Kelahiran ruh manusia berlangsung di bawah pengaturan kaidah Ilahi yaitu di dalam suatu kerangka kerja pertemuan dua benih reproduksi. Melalui percampuran kedua jenis benih ini akan muncul suatu persenyawaan yang unsur-unsurnya tidak ada pada benih semula. Persenyawaan tersebut terdiri dari darah dan benih sperma yang berwarna seperti fosfor. Ketika semilir angin dari manifestasi Ilahi bertiup di atasnya di bawah firman >Jadilah= maka tiba-tiba materi itu berkembang menebar dan menyebarkan pengaruhnya ke seluruh bagian dari kerangka kerja. Mulailah janin itu dikatakan hidup.

Hal yang menebar di dalam janin melalui manifestasi Ilahi tersebut adalah ruh yang mirip dengan firman Tuhan. Proses ini dikatakan sebagai perintah Tuhan karena fitrat dari si ibu yang mengandung yang menciptakan anggota tubuh si janin atas firman Tuhan dan menjalin kerangka kerjanya laiknya sarang laba-laba, tidak berkaitan dengan ruh yang diciptakan berdasarkan manifestasi Ilahi yang bersifat khusus. Meski yang merona fosfor dari mana ruh lahir tersebut dihasilkan oleh kerangka kerja, namun cetusan nyala keruhanian yang disebut jiwa tidak akan mewujud tanpa sentuhan angin surgawi. Inilah pengetahuan hakiki yang diberikan Al-Quran kepada kita. Amatlah sulit bagi para filosof untuk bisa memahaminya. (Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908)

Ruh adalah ciptaan Tuhan

Kitab Suci Al-Quran telah banyak memberikan alasan-alasan yang konklusif guna mendukung kebenaran bahwa jiwa atau ruh adalah hasil ciptaan Tuhan. Beberapa di antaranya diuraikan di bawah ini sebagai ilustrasi.

Pertama: Jelas kiranya bahwa semua ruh setiap saat tunduk pada dan mematuhi firman Allah swt, sedangkan yang menjadi penyebab dari fitrat tunduk demikian adalah karena ruh merupakan ciptaan Tuhan.

Kedua: Jelas juga bahwa semua ruh memiliki keterbatasan dalam kemampuan dan kekuatan, sejalan dengan keanekaan kondisi dan kemampuan keruhanian umat manusia. Batasan ini ditetapkan oleh sang Pembatas, yang membuktikan kalau ruh itu adalah ciptaan.

Ketiga: Tidak diperlukan argumentasi guna menegakkan kebenaran pandangan bahwa semua ruh itu, demi kelanjutan dan kesempurnaannya, bergantung dan membutuhkan Wujud yang Maha Sempurna, Maha Mengetahui dan Maha Pengasih. Ini pun membuktikan jika ruh itu diciptakan.

Keempat: Renungan sekilas bisa menunjukkan kalau ruh kita secara ringkas merangkum segala kebijakan dan keterampilan ciptaan yang terlihat di benda-benda angkasa mau pun bumi. Karena itulah alam yang mengandung berbagai unsur disebut sebagai makrokosmos, sedangkan manusia disebut mikro­kosmos. Bila alam ini karena segala sifatnya yang luar biasa dianggap sebagai hasil kerja dari sang Maha Pencipta yang Maha Bijaksana, betapa pula dengan ciptaan Tuhan yang karena memiliki segala keajaiban personal sebagai refleksi dari alam ini yang menggambarkan kebijakan yang maha luhur dari Allah swt Segala sesuatu yang menjadi manifestasi dari semua keajaiban fitrat-fitrat Ilahi dengan sendirinya tidak akan berada di luar lingkup ciptaan Tuhan. Sesungguhnya hal ini menjadi pertanda dari suatu ciptaan serta menjadi bukti eksistensi sang Maha Pencipta. Hal ini bukan semata bukti teoritis dari diciptakannya ruh, tetapi merupakan kebenaran cemerlang. Jika benda-benda lainnya tidak memiliki kesadaran sebagai suatu ciptaan, yang namanya ruh secara naluriah menyadari kalau ia itu diciptakan. Bahkan jiwa dari seorang liar (suku bangsa yang terbelakang) sekali pun tidak akan mengatakan dirinya mewujud dengan sendirinya. Hal ini diindikasikan dalam ayat:

"Aku bertanya kepada jiwa manusia: "Bukankah Aku Tuhan-mu?",  Mereka berkata: "Ya benar, kami menjadi saksi atas hal ini." ( Al-Araf, 7 : 173).

Dialog Tuhan dengan hamba-Nya ini menggambarkan hubungan naluriah di antara sang Pencipta dengan mahluk ciptaan-Nya, dimana buktinya menjadi suatu hal yang inheren dalam naluri daripada jiwa.

Kelima: Sebagaimana seorang anak mengambil sifat dan karakter orang tuanya, begitu pula dengan jiwa yang berasal dari tangan Allah swt, juga menurun karakter dan sifat-sifat sang Pencipta. Meskipun dalam banyak hal dimana kegelapan dan keacuhan sebagai mahluk ciptaan menyelimuti beberapa jiwa dan warna Ilahi terlihat muram pada diri mereka, namun tidak bisa disangkal jika setiap ruh tetap saja masih memiliki rona tersebut meski hanya sedikit. Dalam beberapa kejadian, rona tersebut terlihat tidak menarik karena kelalaian, hal mana bukan karena kesalahan dalam warnanya tetapi kesalahan dalam penggunaannya. Sebenarnya tidak ada dari sifat dan kekuatan manusia yang bersifat jahat. Adalah kesalahan penggunaan yang menjadikan mereka terlihat jahat. Setiap fitrat yang dimanfaatkan secara patut akan menjadi kebaikan dan kemaslahatan karena sebenarnya semua fitrat manusia itu adalah refleksi dari kekuasaan Ilahi. Sebagaimana seorang putra menunjukkan beberapa ciri dari ayahnya, begitu juga jiwa merefleksikan sifat dan fitrat Ilahi yang mudah bisa dilihat oleh seseorang yang memiliki pemahaman. Sebagaimana seorang putra secara naluriah mencintai ayahnya, kita ini yang berasal dari Allah swt juga memiliki kecintaan naluriah kepada-Nya. Bila jiwa kita tidak mempunyai hubungan naluriah dengan Tuhan maka mereka yang mencari Wujud-Nya tidak akan mempunyai cara guna menggapai-Nya. (Surma Chasm Arya, Qadian, 1886)

Ruh tanpa sifat-sifatnya adalah mati

 Bisa dikatakan bahwa jika jiwa atau ruh itu merupakan hasil ciptaan maka tentunya jiwa itu bersifat tidak abadi atau fana dengan pengertian bahwa suatu kondisi yang tidak lagi mengandung sifat-sifatnya bisa dianggap telah mati. Jika suatu obat telah kehilangan daya sembuhnya maka obat itu dianggap telah mandul atau mati.
 
Dalam keadaan tertentu, jiwa manusia dikaliskan dari sifat-sifatnya dan mengalami perubahan yang lebih besar dibanding raganya. Pada saat demikian bisa dikatakan jiwa itu telah mati karena telah kehilangan segala esensi sifatnya. Karena kasih hakiki dan pengabdian yang sempurna kepada Ilahi merupakan tanda kehidupan suatu jiwa, maka dalam Al-Quran dinyatakan bahwa jiwa yang hidup setelah meninggalkan raganya adalah yang tetap meretensi sifat-sifat esensial yang menjadi tujuan penciptaannya. Ketika suatu jiwa meninggalkan raganya dalam keadaan penuh dengan kasih Ilahi dan hasrat pengabdian kepada-Nya, maka jiwa ini tetap hidup sedangkan yang lainnya mati.

Jiwa yang kehilangan semua sifat-sifatnya dikatakan telah mati. Ketika tidur, baik raga maupun jiwa mengalami kematian, dengan pengertian karena telah kehilangan semua fitrat yang dimiliki ketika sedang dalam keadaan terjaga. Kematian tidak semata-mata hanya berarti non-eksistensi, kehilangan segala sifat-sifat yang esensial juga merupakan sejenis kematian. Sebagai contoh, ketika suatu raga mengalami kematian maka materinya masih tetap ada. Begitu juga halnya dengan kematian jiwa yang berarti kehilangan semua sifat-sifatnya seperti ketika seseorang sedang tertidur, dimana jiwa mau pun raga kehilangan semua sifat yang dimiliki saat sedang terjaga.

Sebagai contoh, ketika jiwa seseorang dalam mimpi bertemu dengan seorang yang sudah mati dan tidak menyadari kalau yang bersangkutan itu sebenarnya sudah tidak ada. Jiwanya melupakan kehidupan yang sekarang ini ketika terlelap dalam tidur, dan dengan melepaskan jubah kehidupan sekarang, ia lalu mengenakan jubah baru sambil melupakan semua pengetahuan dan ingatan akan dunia kecuali sebatas yang disisakan oleh Allah s.w.t.  Jiwa ini akan menunda semua kegiatan dan sepenuhnya hadir di hadapan Tuhan. Semua gerakan, bicara dan emosinya berlangsung di bawah kendali Allah s.w.t.  Jiwa ini kehilangan semua pilihan sehingga tidak dapat dikatakan bahwa segala sesuatu yang didengar atau dikatakan dalam mimpi adalah rekaan pilihannya sendiri. Jiwa ini memperlihatkan segala tanda-tanda kematian. Dalam keadaan tertidur, sebenarnya jiwa lebih mengalami kematian dibanding raganya. Kalau saja manusia mau merenungi kondisi mereka ketika tertidur, mereka akan menyadari bahwa sebagaimana jiwa itu dikecualikan dari kematian maka jiwa dalam tidur juga menikmati pengecualian tersebut.

Kondisi kita ketika sedang tertidur merupakan cerminan dari tujuan pemahaman tentang kondisi ketika mati. Ia yang memang mencari pemahaman hakiki tentang ruh atau jiwa, perlu baginya merenungi secara mendalam kondisinya ketika sedang tidur. Misteri kematian bisa diungkapkan melalui pengalaman seseorang ketika tidur. Jika kalian merenungi secara mendalam tentang misteri mimpi dan tidur serta menganalisis bagaimana jiwa mengalami sejenis kematian ketika sedang tidur karena kehilangan semua pengetahuan dan sifat-sifatnya, kalian akan menyadari bahwa kematian mempunyai banyak kemiripan dengan tidur.
Karena itu tidak benar jika dikatakan bahwa setelah jiwa berpisah dari raganya maka jiwa akan terus menikmati keadaan sebagaimana waktu masih hidup. Dengan kehendak Ilahi maka jiwa mengalami kematian seperti ketika tidur, hanya saja kondisinya lebih intens dan semua fitrat-fitratnya menjadi pupus. Itulah yang disebut sebagai kematian jiwa. Baru setelah itu jiwa yang biasa berkinerja semasa hidupnya lalu dihidupkan kembali.

Tidak ada ruh atau jiwa yang memiliki kapasitas untuk hidup terus berdasar kemampuannya sendiri. Apakah kalian punya kemampuan dan kendali atas keadaan dan sifat-sifat kalian ketika tidur sebagaimana kondisinya ketika sedang dalam keadaan jaga? Begitu kalian terlelap tidur maka jiwa kalian mengalami suatu perubahan dan menderita suatu bentuk ketiadaan sebagaimana Allah s.w.t. berfirman dalam ayat "

"Allah mencabut ruh manusia pada waktu mereka mati dan juga ruh mereka yang belum mati, di waktu tidur mereka. Maka Dia menahan ruh orang-orang yang dia menetapkan atas mereka mati dan Dia mengirimkan kembali yang lain hingga masa tertetap. Sesungguhnya dalam yang demikian itu ada tanda-tanda bagi kaum yang merenungkan" (Az-Zumar, 39 :43).

Berarti pada saat seseorang mati, jiwanya sepenuhnya berada dalam kendali Allah swt dan kehilangan semua hak pilihan dan kesadaran. Dengan kata lain, mereka dikaliskan dari segala fitrat-fitrat kehidupan dimana mereka seolah-olah menjadi non-eksis. Sebenarnya mereka tidak sepenuhnya mati tetapi memasuki suatu kondisi mirip kematian dalam keadaan tidur, yang berlangsung di bawah kendali Allah swt serta mengalami perubahan berupa kehilangan segala kesadaran dan perasaan duniawi.

Baik dalam keadaan tidur atau pun kematian, Tuhan menguasai jiwa sedemikian rupa sehingga jiwa itu kehilangan segala pilihan dan kesadaran yang merupakan tanda-tanda kehidupan. Jiwa yang kemudian mengalami kematian selanjutnya akan ditahan oleh Tuhan dan tidak bisa lagi kembali ke dunia, sedangkan jiwa yang belum ditakdirkan mati akan dikembalikan-Nya. Dalam gejala ini terdapat tanda-tanda bagi mereka yang mau berfikir.

Ayat Al-Quran di atas menggambarkan bahwa jiwa mengalami kematian sebagaimana halnya dengan raganya. Namun Al-Quran mengindikasikan bahwa ruh atau jiwa orang-orang yang bertakwa akan dihidupkan kembali dalam jangka waktu singkat, ada yang dalam tiga hari, seminggu atau mungkin empatpuluh hari setelah kematian dan dianugrahi kehidupan kedua yang nyaman dan menyenangkan. Untuk kehidupan seperti itulah para hamba Allah yang muttaqi menghampiri Wujud-Nya dengan segala keikhlasan dan berupaya sedapat mungkin keluar dari kegelapan ego mereka sendiri serta menempuh hidup sulit dalam mencari keridhoan Allah s.w.t. sedemikian rupa sehingga kondisi mereka menyerupai kematian juga.

Sebagaimana yang diungkapkan ayat Al-Quran di atas, ada sejenis kematian bagi ruh atau jiwa seperti juga yang dialami oleh raganya, hanya saja keadaan tersembunyi tersebut tidak jelas di dunia yang penuh kegelapan ini. Namun keadaan mimpi merupakan ilustrasi dari keadaan itu yang menyerupai kematian jiwa di dunia ini. Adalah pengalaman kita semua bahwa begitu kita terlelap dalam tidur maka semua fitrat jiwa kita akan berubah dimana kita melupakan segala fitrat keruhanian dan ragawi kita serta semua pengetahuan yang dimiliki jiwa menjadi non-eksis. Kita mengalami dalam mimpi bagaimana jiwa kita kehilangan semua fitrat yang dimiliki ketika sedang terjaga dan menjadi sesuatu yang berbeda. Kondisi tersebut menyerupai kematian dan sesungguhnya memang merupakan sejenis kematian. Semua ini secara konklusif menunjukkan kalau kematian yang dialami ruh atau jiwa sebagai akibat matinya raga, menyerupai kematian yang dialami ruh ketika sedang tidur, hanya saja dalam takarannya yang lebih berat. (Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908);