Tampilkan postingan dengan label Rasulullah saw. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rasulullah saw. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 April 2011

Rasulullah saw dan Pengemis Yahudi

Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.

Namun, setiap pagi Rasulullah Muhammad SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari, sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain adalah isteri Rasulullah SAW. Beliau bertanya kepada anaknya itu, “Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?”

Aisyah RA menjawab, “Wahai Ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum Ayah lakukan kecuali satu saja.”
“Apakah Itu?”, tanya Abubakar RA. “Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana”, kata Aisyah RA.

Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil menghardik, “Siapa kamu?!”
Abubakar RA menjawab, “Aku orang yang biasa (mendatangi engkau).”

“Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, bantah si pengemis buta itu. “Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku”, pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW”.

Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, tapi ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia….”

Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.

Rabu, 06 April 2011

Rasulullah saw Sebagai Nabi Yang Hidup


Semua mukjizat yang diperlihatkan oleh semua Nabi-nabi terdahulu telah berakhir bersamaan dengan akhir hayat mereka namun mukjizat Nabi kita Hadzrat Rasulullah s.a.w. tetap segar dan hidup pada setiap masa. Bahwa mukjizat-mukjizat itu tetap hidup dan tidak tunduk kepada maut merupakan bukti bahwa hanya Hadzrat Rasulullah s.a.w. saja yang merupakan Nabi yang hidup dan bukti bahwa kepada beliau telah dikaruniakan kehidupan haqiqi. Ajaran beliau merupakan ajaran yang hidup karena buah dan berkatnya tetap bisa dinikmati sekarang sebagaimana dinikmati umat pada masa 1300 tahun yang lalu.
 
Kita memiliki ajaran yang jika dilaksanakan dengan sempurna maka seseorang bisa menyatakan bahwa ia telah diberkati dengan buah dan rahmat dari ajaran itu dan bahwa ia telah menjadi tanda Ilahi. Berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa kita bisa menjumpai buah dan berkat dari Kitab Suci Al-Qur’an di sekitar kita dan kita tetap bisa menemukan rahmat dan tanda-tanda samawi yang diberikan berkat kesetiaan kepada Hadzrat Rasulullah s.a.w. Dengan cara demikian itulah Allah yang Maha Agung telah menetapkan Jemaat ini sebagai saksi hidup bagi kebenaran Islam serta membuktikan bahwa rahmat dan tanda-tanda yang muncul 1300 tahun yang lalu juga muncul di masa kini berkat kepatuhan yang sempurna kepada Nabi Suci s.a.w. Beratus-ratus tanda-tanda yang telah diberikan. Kami telah mengundang pemuka-pemuka dari berbagai bangsa dan semua agama lain agar mereka juga memperlihatkan tanda-tanda kebenaran mereka untuk melawan kami namun tidak ada satu pun yang mampu mengemukakan contoh kebenaran dari agama mereka. (Malfuzat, vol. III, hal. 38).

Janji kemenangan yang diberikan Allah yang Maha Perkasa melalui keagungan Ilahiat sebagai perlawanan terhadap semua musuh, semua penyangkal, mereka yang kaya raya, para penguasa yang berkuasa, segenap ahli filosofi, semua penganut dari agama-agama lainnya terhadap sosok yang bersahaja, lemah, miskin, tidak terpelajar dan tidak terlatih, yang telah dipenuhi pada masanya dan sampai sekarang pun tetap dipenuhi, jelaslah bukan hasil kerja seorang manusia biasa. Sosok manusia miskin, kesepian dan bersahaja itu memaklum-kan ajarannya dan menegakkan agamanya pada saat ia tidak memiliki siapa pun bersamanya kecuali segelintir sahabat-sahabat miskin dimana seluruh umat Islam yang ada bisa dimasukkan dalam satu kamar kecil dan jumlahnya bisa dihitung dengan jari-jari dua tangan saja. Mereka harus menghadapi para penguasa dunia dan mereka harus menangani manusia berjuta-juta bilangannya yang bertekad menghancurkan mereka.

Tetapi sekarang perhatikanlah bagaimana Allah s.w.t. telah menyebarkan orang-orang lemah tersebut ke seluruh penjuru bumi dan bagaimana Dia telah menganugerahkan kekuasaan, kekayaan dan kerajaan atas mereka dan bagai¬mana buat lebih dari seribu tahun mereka dikaruniai tahta dan mahkota. Pernah jumlah mereka tidak lebih besar dari angota sebuah keluarga kecil sedangkan sekarang ini mereka berjumlah ratusan juta manusia. Allah s.w.t. menjanjikan Dia akan menjaga kemurnian Firman-Nya dan apakah tidak benar bahwa ajaran Hadzrat Rasulullah s.a.w. yang datang berupa firman dari Allah yang Maha Agung nyatanya masih tetap terjaga sedangkan manusia yang telah menghafalkannya berjumlah ratusan ribu orang? Allah menyatakan bahwa tidak ada satu pun yang akan mampu menandingi Kitab-Nya dalam kebijakan dan pemahaman, keindahan komposisinya, penguasaan pengetahuan tentang Ilahi dan dalam mengemukakan argumentasi keagamaan, dan nyatanya memang demikian itulah yang terjadi. Jika ada yang mempertanyakan hal ini, silahkan yang bersangkutan maju dan buatkan tandingannya, atau silahkan ia mengambil dari kitab-kitab lain kebenaran, kehalusan telaah, mutiara hikmah dan keajaiban yang sama sebagaimana yang telah kami kemukakan dalam buku ini yang bersumber dari Al-Qur’an, dan untuk itu kami sediakan hadiah sebesar sepuluh ribu rupee. Kalau dalam kenyataannya ia gagal melakukannya maka ia menjadi terhukum dalam pandangan Tuhan. Allah s.w.t. telah menjanjikan akan menarik negeri Syria dari kekuasaan umat Kristiani dan akan menyerahkannya kepada umat Islam. Demikian itulah yang telah terjadi dan sekarang umat Islam mewarisi tanah tersebut. Semua nubuatan demikian selalu diikuti oleh Kekuatan dan Kekuasaan Ilahi.

Nubuatan demikian tidak sama dengan ramalan astrologi yang menceritakan tentang akan datangnya gempa bumi, bencana kelaparan, wabah penyakit atau serangan suatu bangsa kepada bangsa lain. Dengan cara mengikuti firman Tuhan dan ikutannya maka mereka yang mematuhi Al-Qur’an serta beriman sepenuhnya kepada Hadzrat Rasulullah s.a.w. serta mencintai beliau dan menganggap beliau itu lebih suci, lebih sempurna dan lebih luhur dibanding semua makhluk dan semua Nabi-nabi, Rasul dan para orang suci, maka mereka akan selalu menikmati segala karunia nubuatan tersebut dan ikut minum dari cawan yang diminumkan kepada Nabi Musa atau Nabi Isa. Mereka akan diterangi oleh Nur Israili dan menikmati karunia para Nabi-nabi turunan Yakub. Maha Suci Allah, betapa luhurnya derajat Khataman Nabiyin dan betapa agungnya Nur yang telah diperoleh seorang hamba beliau yang lemah ini. Ya Allah, turunkanlah berkat-Mu atas Nabi-Mu dan kekasih-Mu, penghulu para Nabi, sebaik-baik Rasul dan Khataman Nabiyin, Muhammad dan para pengikut serta sahabat beliau dan karuniakan salam Engkau atas mereka.

Para ulama Kristen, para Pandit, umat Brahmo dan Arya serta para lawan kami lainnya tidak usah mempertanyakan dimana berkat-berkat tersebut dan mana Nur Ilahi yang dinikmati para pengikut Nabi Suci s.a.w. bersama-sama dengan Nabi Musa dan Nabi Isa. Dimanakah pewarisan Nur tersebut yang katanya hanya untuk umat Islam dan dihalangi bagi umat dan penganut agama lain? Agar keraguan mereka dapat ditenangkan, kami telah mengemukakannya beberapa kali dalam catatan kaki, bahwa kami inilah yang bertanggungjawab mengemukakan bukti-bukti mengenai hal ini kepada para pencari kebenaran yang sudah siap menjadi Muslim setelah menyaksikan keunggulan daripada agama Islam.

Dalam catatan kaki kedua15, secara singkat telah kami kemukakan bagaimana Allah yang Maha Kuasa memanifestasikan kekuatan Ilahi-Nya serta menganugerahkan berkat dan rahmat atas umat Islam dan bagaimana Dia telah menjanjikan serta memberikan kabar gembira tentang kejadian-kejadian yang berada di luar kemampuan nalar manusia. Karena itu jika ada ulama Kristen, para Pandit atau Brahmo yang menyangkal hal-hal tersebut karena terpengaruh kekelaman batinnya, begitu pula dengan bangsa Arya serta para penganut agama lain, kalau memang benar-benar ingin mencari Tuhan maka menjadi kewajiban bagi mereka sebagaimana para pencari kebenaran lainnya untuk menanggalkan seluruh rasa kesombongan, kemunafikan, pengagungan dunia dan sifat keras kepala, dimana karena hanya ingin mencari kebenaran haqiqi maka datanglah kepada kami sebagaimana laiknya seorang yang miskin dan bersahaja serta bersikap teguh, patuh, tulus dan sabar seperti seorang muttaqi agar dengan perkenan Allah s.w.t. ia mencapai tujuannya. Kalau kemudian ada yang berpaling maka ia menjadi saksi atas kefasikannya sendiri. (Barahin Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 266-275, London, 1984)

Keagungan Dan Kerendahan Hati Rasulullah saw


Kedua nama Nabi Suci saw yang berberkat yaitu Muhammad dan Ahmad memiliki dua keunggulan yang berbeda. Muhammad mengandung arti yang amat dipuji dan menggambarkan keagungan dan kebesaran serta menyiratkan seseorang yang dicintai karena hanya yang dicintailah yang selalu dipuji-puji. Adapun kata Ahmad menyiratkan seseorang yang mencintai karena merupakan bagian dari seorang pencinta untuk memuji dan ia selalu memuji sosok yang dikasihinya. Jika Muhammad menggambarkan keagungan dan kebesaran maka Ahmad menggambarkan kerendahan hati.
   
Kehidupan beliau sebagai seorang Nabi terbagi dalam dua bagian, sebagian dihabiskan di Mekah untuk jangka waktu tigabelas tahun dan sebagian lainnya di Medina yang memakan waktu sepuluh tahun. Kehidupan beliau di Mekah menggambarkan segi nama Ahmad dari sosok beliau. Jangka waktu tersebut banyak dihabiskan dalam meratap dan memohon pertolongan di dalam doa. Barangsiapa yang memahami periode kehidupan Mekah dari beliau tentunya mengetahui betapa ratapan dan permohonan doa yang dilakukan beliau saat itu yang tidak ada padanannya pada pencinta lain yang sedang mencari kekasihnya. Ratapan beliau bukanlah untuk dirinya pribadi tetapi karena kesadaran beliau akan kondisi dunia pada saat itu. Zaman itu penyembahan Allah SWT telah sirna sedangkan Dia telah menanamkan keimanan dalam jiwa beliau yang memberikan kegembiraan dan kesukaan. Dengan sendirinya beliau ingin menyampaikan kegembiraan dan kasih ini kepada dunia, namun ketika beliau menyadari kondisi daripada dunia serta kemampuan dan fitrat manusia saat itu maka beliau menghadapi rintangan yang amat besar. Beliau menangisi kondisi dunia ini sedemikian rupa sehingga nyawa beliau pun terancam. Hal ini diindikasikan dalam ayat : “Boleh jadi engkau akan membinasakan dirimu sendiri dari dukacita karena mereka tidak mau beriman”. (Asy-Syuara, 26 : 4).

Periode ini merupakan kehidupan berdoa beliau dan menjadi manifestasi dari nama beliau sebagai Ahmad. Setelah itu beliau mengkonsentrasikan diri secara agung dan konsentrasi ini menunjukkan efeknya pada kehidupan beliau di Medina ketika signifikasi nama Muhammad diungkapkan sebagaimana dinyatakan dalam ayat : “Mereka itu berdoa untuk kemenangan dan binasalah setiap musuh kebenaran yang merajalela lagi keras kepala itu”. (Ibrahim, 14 :16). {Malfuzat, vol. II, hal. 178-179}.

Kemuliaan akhlak Rasulullah saw

Nabi-nabi dan para orang suci dibangkitkan Allah swt agar manusia bisa mencontoh perilaku akhlak mereka serta membimbing manusia bersiteguh di jalan yang benar sejalan dengan petunjuk Tuhan. Jelas bahwa mereka selalu memperlihatkan sifat-sifat akhlak yang mulia pada saatnya yang tepat sehingga bisa dicapai tingkat efektivitas yang terbaik. Sebagai contoh, sifat memaafkan adalah suatu hal yang patut dipuji ketika ia yang teraniaya lalu memiliki kekuatan untuk membalas dendam namun tidak dilakukannya. Kesalehan adalah sifat yang baik kalau dilaksanakan ketika seseorang memiliki segalanya untuk memuaskan dirinya.

Rencana Tuhan berkaitan dengan para Nabi dan orang-orang suci adalah agar mereka itu memperlihatkan dan menegakkan semua bentuk dari sifat-sifat akhlak yang mulia. Guna memenuhi rencana demikian maka Allah swt membagi kehidupan mereka dalam dua bagian. Bagian pertama kehidupan mereka dilalui dalam kesengsaraan dan berbagai penderitaan dimana mereka itu disiksa dan dianiaya, dimana melalui tahapan ini mereka akan memperlihatkan akhlak luhur yang hanya bisa dikemukakan pada saat keadaan sedang sulit. Bila mereka ini tidak diharuskan menjalani kesulitan yang besar maka sukar untuk menegaskan bahwa mereka benar-benar tetap setia kepada Tuhan-nya dalam segala kesulitan serta tetap bersiteguh maju terus dalam upayanya. Mereka bersyukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa bahwa mereka telah dipilih-Nya sebagai sosok yang patut teraniaya di jalan Allah.

Tuhan yang Maha Agung mendera mereka dengan segala cobaan agar terlihat jelas bagaimana manifestasi keteguhan hati dan kesetiaan mereka kepada Tuhan mereka. Dalam hal ini sebagaimana dalam peribahasa, nyata bahwa keteguhan hati itu lebih tinggi nilainya daripada mukjizat. Keteguhan hati yang sempurna tidak akan terlihat jika tidak ada kesulitan besar yang dihadapi dan hanya bisa dihargai jika orang tahu bahwa yang bersangkutan memang telah mengalami goncangan yang dahsyat. Semua musibah tersebut merupakan berkat ruhani bagi para Nabi dan orang-orang suci karena melalui hal itulah sifat-sifat mulia mereka yang tidak ada tandingannya menjadi nyata dan derajat mereka akan ditinggikan di akhirat.

Bila mereka tidak ada mengalami cobaan yang berat maka mereka tidak akan memperoleh berkat-berkat tersebut, tidak juga sifat mulia mereka menjadi tampak kepada umat manusia. Keteguhan hati, kesetiaan dan keberanian mereka tidak akan diakui secara universal. Mereka itu menjadi tiada tara dan tanpa tandingan serta demikian berani dan sempurna sehingga masing-masing dari mereka itu sepadan dengan seribu singa yang berada dalam satu tubuh atau seribu harimau dalam satu kerangka. Dengan cara demikian itulah kekuatan dan kekuasaan mereka menjadi suatu yang diagungkan dalam pandangan manusia dan mereka mencapai tingkatan tinggi dalam kedekatan kepada Allah swt.

Bagian kedua dari kehidupan para Nabi dan orang-orang suci adalah saat kemenangan, derajat mulia dan kekayaan dilimpahkan kepada mereka dimana pada saat itu pun mereka akan memperlihatkan akhlak mulia mereka yang memang efektif pada saat mereka menggenggam kemenangan, kekayaan dan kekuasaan. Mengampuni mereka yang tadinya menyiksa, bersabar hati terhadap para penganiaya, mencintai musuh, tidak mencintai kekayaan atau bangga terhadapnya, membuka gerbang berkat dan kemurahan hati, tidak menjadikan kekayaan sebagai sarana pemuas diri, tidak menjadikan kekuasaan sebagai alat penindasan, semuanya itu merupakan sifat-sifat mulia dengan persyaratan bahwa yang bersangkutan memang sedang memiliki kekuasaan dan kekayaan. Para Nabi dan orang-orang suci itu malah akan memperlihatkan semua sifat mulia itu saat mereka telah memiliki kekuasaan dan kekayaan.

Kedua bentuk sifat-sifat akhlak mulia tersebut tidak mungkin dimanifestasi¬kan tanpa melalui tahapan kesulitan dan cobaan serta tahapan kekuasaan dan kemakmuran. Kebijaksanaan yang sempurna dari Allah s.w.t. mengharuskan bahwa para Nabi dan orang-orang suci diberikan kedua bentuk kesempatan tersebut yang sebenarnya merupakan realisasi ribuan berkat. Hanya saja urut-urutan dari kondisi demikian tidak akan sama bagi setiap orang. Kebijakan Ilahi menentukan bahwa beberapa orang akan mengalami periode kedamaian dan kenyamanan mendahului periode kesulitan, sedangkan pada yang lainnya dimulai dengan periode kesulitan sebelum datangnya pertolongan Tuhan. Dalam beberapa kejadian, kondisi demikian tidak terlalu jelas perbedaannya sedangkan pada yang lainnya dimanifestasikan secara sempurna.

Berkaitan dengan hal ini yang paling menonjol adalah Rasulullah saw karena kedua kondisi itu dikenakan secara sempurna atas wujud beliau sedemikian rupa sehingga sifat akhlak beliau menjadi bersinar cemerlang laiknya matahari, dan semua itu tercermin dalam ayat : “Sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak luhur”. (Al-Qalam, 68 : 5).

Jika dinilai bahwa Rasulullah saw adalah sempurna di dalam kedua bentuk sifat akhlak melalui pembuktian di atas, maka melalui itu dibuktikan juga keluhuran akhlak para Nabi-nabi lainnya dan dengan demikian telah meneguhkan Kenabian mereka, kitab-kitab yang mereka bawa serta kenyataan bahwa mereka semua adalah kekasih Allah swt Pendapat ini memupus keberatan sebagian orang akan akhlak Nabi Isa as yang dianggap tidak cukup sempurna menghadapi kedua kondisi tersebut. Memang benar bahwa Nabi Isa as menunjukkan keteguhan hati dalam keadaan kesulitan, hanya saja bentuk kesempurnaan akhlak tersebut baru akan terlihat sempurna jika saja pada saat itu Nabi Isa memperoleh kekuasaan dan keunggulan di atas para penganiaya beliau dan beliau kemudian mengampuni mereka dari lubuk hati yang paling dalam sebagaimana halnya perlakuan Rasulullah saw terhadap penduduk Mekah saat kota itu takluk kepada umat Islam. Penduduk kota Mekah memperoleh pengampunan penuh kecuali beberapa orang yang ditetapkan Tuhan harus menjalani hukuman karena kejahatan mereka yang luar biasa.
Rasulullah saw setelah mencapai kemenangan malah mengumumkan : “Tidak akan ada yang menyalahkan kalian pada hari ini.”. Karena adanya pengampunan demikian yang semula dianggap mustahil dalam pandangan para musuh beliau, dimana tadinya mereka merasa patut dihukum mati atas segala kejahatan mereka, maka beribu-ribu orang lalu baiat ke dalam agama Islam dalam jangka waktu bilangan jam saja.

Keteguhan hati Rasulullah saw yang diperlihatkan dalam jangka waktu panjang di bawah penganiayaan mereka, di mata mereka menjadi cemerlang bercahaya seperti matahari. Sudah menjadi fitrat manusia bahwa keagungan dari keteguhan hati seseorang menjadi nyata saat yang bersangkutan mengampuni para penganiayanya ketika ia kemudian memperoleh kekuasaan di atas mereka. Karena itulah sifat luhur akhlak Nabi Isa as di bidang keteguhan, kelemah-lembutan dan daya tahan tidak terlihat sepenuhnya dimana tidak jelas apakah keteguhan sikapnya itu karena pilihan sendiri atau memang karena terpaksa. Nabi Isa as tidak sempat memperoleh kekuasaan di atas para penganiaya beliau sehingga tidak bisa dibuktikan apakah beliau memang kemudian akan mengampuni para musuhnya atau memilih mengambil pembalasan dendam atas diri mereka itu.
Berbeda dengan keadaan Nabi Isa as, sifat mulia dari Rasulullah saw telah diperlihatkan dalam ratusan kejadian dan kenyataannya bersinar terang seperti sang surya. Sifat-sifat seperti murah hati, welas asih, pengurbanan, keberanian, kesalehan, kepuasan hati atas apa yang ada serta menarik diri dari duniawi, semuanya itu jelas sekali pada sosok Nabi Suci saw dibanding dengan Nabi-nabi lainnya. Allah yang Maha Kaya menganugerahkan harta benda yang amat banyak kepada Rasulullah saw dan beliau membelanjakan nya semua di jalan Allah dan tidak ada sekeping mata uang pun yang digunakan untuk kepuasan diri sendiri. Beliau tidak ada mendirikan bangunan megah atau istana untuk diri sendiri dan tetap saja hidup di sebuah gubuk tanah liat yang tidak berbeda dengan rumah kediaman umat yang paling miskin. Beliau berlaku welas asih terhadap mereka yang tadinya menganiaya beliau serta menolong mereka dengan daya sarana milik beliau sendiri. Beliau tinggal di sebuah gubuk tanah liat, tidur di lantai serta makan dari roti gandum yang kasar atau puasa jika tidak ada apa-apa. Beliau dikaruniai kekayaan dunia dalam jumlah amat besar tetapi beliau tidak mau mengotori tangan beliau dengan harta itu dan tetap memilih hidup miskin daripada kemewahan serta kelemah-lembutan daripada kekuasaan. Dari sejak hari pertama beliau diutus sampai dengan saat beliau kembali kepada Tuhan beliau di langit, beliau tidak pernah menganggap penting apa pun selain Allah swt Beliau memberikan bukti keberanian, kesetiaan dan keteguhan hati di medan perang menghadapi ribuan musuh dimana maut mengintai selalu, semata-mata hanya karena Allah. Singkat kata, Allah yang Maha Agung memanifestasikan sifat-sifat mulia beliau seperti welas asih, kesalehan, kepuasan atas apa yang ada, keberanian dan segala hal yang berkaitan dengan kecintaan kepada Allah s.w.t. yang padanannya belum pernah ada pada masa sebelum beliau dan tidak akan pernah ada lagi setelah beliau. Berkaitan dengan Nabi Isa as, sifat akhlak mulia tersebut tidak jelas dimanifestasikan karena hal seperti itu baru akan nyata jika seseorang kemudian memperoleh kekayaan dan kekuasaan, dan hal itu tidak ada terjadi pada diri Nabi Isa as Pada keadaan beliau ini, kedua bentuk sifat akhlak tersebut tetap tinggal tersembunyi karena kondisi untuk manifestasinya tidak ada. Namun keberatan yang dianggap sebagai kekurangan pada diri nabi Isa as tersebut telah ditimbali dengan contoh sempurna dari Rasulullah saw karena contoh yang dikemukakan Nabi Suci saw telah menyempurna¬kan dan melengkapi kekurangan pada Nabi-nabi lain sehingga apa yang semula meragukan sekarang telah jadi jelas. Wahyu dan Kenabian berakhir di sosok yang mulia ini karena semua keluhuran telah mencapai puncaknya dalam diri beliau. Semua ini merupakan rahmat Allah swt yang dikaruniakan kepada siapa yang dipilih-Nya. (Barahin Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 276-292, London, 1984).

Rasulullah saw Menyempurnakan Akhlak

Nabi Musa as amat sabar dan lembut hati kepada Bani Israil dibanding nabi-nabi mereka lainnya. Tidak juga Isa as atau nabi lain bangsa Israil yang bisa mencapai kedudukan tinggi dari nabi Musa as Kitab Taurat mengungkapkan bahwa nabi Musa as lebih baik dan lebih agung dari semua nabi bangsa Israil dalam hal kebaikan hati, kelembutan dan nilai-nilai akhlak yang tinggi. Sebagai contoh, Taurat menyatakan: “Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia di atas muka bumi”. (Bilangan 12 : 3).

Allah swt dalam Taurat memuji kelembutan hati nabi Musa as dengan kata-kata yang tidak pernah digunakan-Nya terhadap nabi-nabi Israil lainnya. Namun harus diakui bahwa nilai-nilai akhlak yang agung dari Nabi Suci saw sebagaimana dikemukakan dalam Al-Qur’an adalah seribu kali lebih tinggi dari nabi Musa as Allah swt mengenai diri Nabi Suci saw menyatakan bahwa dalam diri beliau terkumpul semua akhlak mulia yang tersebar di antara para nabi dan menyatakan mengenai beliau : “Sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak luhur”. (Al-Qalam, 68 : 5).

Kata “azhiim”. yang digunakan dalam ayat ini menggambarkan istilah bahasa Arab yang mengandung arti kesempurnaan tertinggi dari suatu spesi makhluk. Sebagai contoh, kalau dikatakan sebuah pohon itu “azhiim”. maka yang dimaksud adalah pohon itu memiliki panjang dan lebar terbaik yang bisa dimiliki sebuah pohon. Berarti semua akhlak mulia dan fitrat baik yang mungkin dimiliki seorang manusia, semuanya ada pada wujud Hadzrat Rasulullah s.a.w. Dengan demikian hal ini merupakan pujian yang tertinggi. Hal ini juga diindikasikan dalam ayat lain : “Karunia Allah atas engkau sangat besar”. (An-Nisa, 4 : 114)

Yang berarti bahwa Tuhan telah menganugerahkan rahmat-Nya atas diri beliau dalam takaran yang tertinggi dan tidak ada Nabi lain yang bisa sepadan derajatnya dengan beliau. Pujian ini juga dikemukakan dalam Mazmur dalam Kitab Perjanjian Lama yang merupakan nubuatan berkaitan dengan kedatangan Hadzrat Rasulullah saw yang berbunyi : “Sebab itu Allah, Allahmu telah mengurapi engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutumu”. (Mazmur 45 : 7). (Barahin Ahmadiyah)

Senin, 04 April 2011

Kecintaan Hazrat Masih Ma'ud a.s. kepada Hazrat Rasulullah saw

Suatu ketika Hazrat Masih Mau’ud as berjalan sendiri di dalam mesjid Mubarak yang berdampingan dengan kediaman Beliau as. Beliau as bersenandung dengan suara yang sangat pelan, seiring dengan itu air mata terus mengalir dari mata beliau as. Pada saat itu seorang sahabat yang mukhlis datang dari arah luar dan mendengar senandung itu. Ternyata saat itu Beliau sedang melantunkan sebuah syair sahabat Rasulullah saw yang bernama Hazrat Hassaan bin tsabit yang pernah dibacakan oleh beliau ra pada saat kewafatan Rasulullah saw. Syair itu berbunyi:”

Kuntas sawaada linnaaziriy fa’amiya ‘alaikan naaziru
man syaa’a ba’dakal yamut fa’alailka kuntu uhaadziru
Artinya:” Ya Rasul Allah! Engkau adalah kornea mataku,
karena kewafatanmu hari ini, (mataku) menjadi buta.
Sekarang, siapapun yang akan mati setelah engkau, matilah!
Aku hanya takut dengan kematian engkau, yang benar-benar telah terjadi.

Menurut penjelasan perawi, ketika saya melihat Hazrat Masih Mau’ud as menangis, pada saat itu beliau benar-benar sendiri, dengan rasa segan saya bertanya kepada Beliau as,” Hazrat! Apa yang telah terjadi? Apa yang telah membuat Huzur bersedih? Hazrat Masih Mau’ud as bersabda,” tadi saya sedang membaca sebuah syair Hazrat Hassan bin tsabit ra, lalu timbul hasrat pada diri saya ,”Seandainya syair ini keluar dari mulutku”

‘Isyq artinya Ghalba e Muhabbat (kecintaan yang mengungguli). Muhabbat itu sendiri adalah sesuatu yang meliputi/menguasai jisim dan ruh. Sedangkan ‘Isyq membawanya melangkah lebih jauh ke depan, menzahirkan kekhasan dan tanda-tanda, lalu memberikan hasil.

Satu kekhasan dari muhabbat adalah manusia ingin terwarnai (tercelup) dalam warna sang kekasih, perangai dan kebiasaan sang kekasihlah yang digandrunginya, pada jalan sang kekasihlah dia ingin melangkah, keitaatan dan kesetiaan kepada sang kekasihlah yang dia inginkan dan demi sang kekasih dia rela terpisah dari wujudnya sendiri. Orang yang menzahirkan kecintaan kepada Hadhrat Rasul Maqbuul saw dengan untaian kalimat saja, tapi tidak menjadikan keitaatan dan kesetiaannya sebagai kebiasaan, pendakwaannya ini sama sekali tidak benar. Kapan saja kecintaan hakiki ini muncul, dia akan menghapus dan melenyapkan wujudnya didalam keitaatan dan kesetiaan dan tidak akan membiarkan sesuatu yang dibenci oleh sang kekasih tersisa didalam dirinya.

Seolah-olah fanaa fil mahbub (fana dalam sang kekasih) adalah kekhasan pertama dari muhabbat. Tempat yang didalamnya tidak terdapat kekhasan seperti yang telah disebutkan tadi, berarti ditempat itu tidak terdapat muhabbat. Jika hanya sebatas kebesaran yang tidak mengandung kebenaran atau luapan angan-angan para penyair yang rapuh dan tidak disertai amal perbuatan, maka ucapan yang seperti itu tidak akan memberikan pengaruh dan juga tidak akan menciptakan revolusi pada diri orang yang mendengarnya. Tapi orang yang benar-benar mencintai sang sumber keindahan dan kebaikan, Hadhrat Muhammad Mustafa saw, setiap ucapan yang keluar Dari mulutnya, terucap setelah dia melenyapkan diri tenggelam dalam sumber mata air kecintaan yang suci bersih itu lalu turun kedalam hati dengan membawa warna dan aromanya, lalu menciptakan satu revolusi agung.

Satu kekhasan dalam kecintaan kepada Hazrat Rasulullah saw yakni mengenal kejuwitaan Huzur saw yang hakiki dan menzahirkannya kepada orang-lain. Keindahan-keindahan yang nampak dalam diri para pecinta adalah tersembunyi dari pandangan orang lain, karena itu kecintaan yang terdapat didalam dirinya pun tidak memilih coraknya yang shahih.

Satu tanda kecintaan beliau as terhadap Rasul saw adalah beliau as senantiasa diliputi oleh hasrat untuk selalu mengirimkan shalawat kepada junjunannya Hadhrat Rasulullah saw, sehingga Allah Ta’ala terus meninggikan derajat beliau as setinggi-tingginya. Hanya zat Tuhan lah yang memiliki sifat-sifat yang tidak terbatas sesuai dengan keadaan dan ukuran, selebihnya merupakan arena untuk meraih kemajuan yang terbentang luas bagi semua. Jadi, menghendaki kemajuan yang sebesar-besarnya bagi Rasulullah saw dan berdoa supaya Allah Ta’ala menyebarkan seluas-luasnya nur beliau saw di dunia ini dan menjauhkan kegelapan dunia dengan perantaraannya merupakan satu tanda kecintaan yang besar terhadap Rasulullah saw. Satu tanda kecintaan terhadap Rasulullah saw adalah, seorang pecinta sejati selalu berupaya untuk memajukan agama Beliau saw dan memberikan jawaban atas segala keberatan yang dilontarkan (berkenaan dengan agama Beliau saw-Pent) dan menyinari dunia dengan kebenaran Beliau saw. Dia tidak akan tinggal diam apabila zat yang memiliki keindahan dan kejuwitaan yang tak terhingga itu ditampilkan buruk. Para penentang Islam berupaya untuk mengotorinya. Seorang pecinta sejati selalu siap untuk mempersembahkan setiap pengorbanannya dalam mengkhidmati dan menjaga agama Islam, sekalipun harus mengorbankan segenap wujud dan jiwanya.

Tahapan terakhir dari ‘isyq adalah membawa kefanaan tadi sampai pada derajat dimana yang tampak dalam wujudnya hanyalah sang kekasih semata. Seolah-olah sang kekasih lah yang telah zahir untuk kedua kalinya dalam wujud atau perangainya, kedatangan sang kekasih telah menjadi kedatangannya, inilah yang dinamakan dengan buruz (bayangan).

Jika kita memperhatikan Hadhrat Masih Mau’ud as dari kelima sisi itu, maka akan nampak kepada kita bahwa Beliau as telah sampai pada derajat ‘isyq kepada Hazrat Rasulullah saw dan derajat itu telah menzahirkan kekhasan tersebut pada derajat yang sempurna. Para waliullah agung telah berlalu didalam umat ini, tapi yang hak adalah dalam hal kecintaan terhadap Hazrat Rasulullah saw, tidak ada orang yang bisa sampai pada tahapan dimana Hadhrat Masih Mau’ud as berada, tidak juga mendekatinya. Sampai-sampai “perwujudan” Rasulullah saw secara utuh zahir pada diri beliau as.

Sekarang saya (penulis) akan uraikan dengan sangat rinci kekhasan itu dengan urutan tersebut, meskipun saya hanya bisa menjelaskan dalam kapasitas yang sangat terbatas dan singkat sesuai dengan kemampuan saya. Untuk menjelaskannya secara shahih diperlukan seorang ‘aasyiq (pecinta) Rasul saw. Sedangkan saya yang lemah ini tidak memiliki hakikat apa-apa.

Berikut ini kami sampaikan beberapa riwayat yang menggambarkan kecintaan Hazrat Masih Mau’ud as kepada Hazrat Rasulullah saw:”

1. Dalam sebuah syair, Beliau as bersabda,” Setelah kepada Tuhan, selanjutnya aku mabuk dalam kecintaan yang mendalam kepada Muhammad Rasulullah saw. jika pada pandangan seseorang, rasa cintaku ini merupakan kekufuran, maka demi Tuhan, aku adalah manusia yang sangat kafir.

2. Saya yang lemah (penulis buku ini) lahir dirumah kediaman Hazrat Masih Mau’ud as. Begitu besarnya anugerah ini sehingga lidah pun terasa berat untuk mengucapkan rasa syukur ini, bahkan yang hak adalah didalam hati pun saya tidak sempat berfikir untuk mengungkapkan rasa syukur ini. Tapi suatu hari saya harus mati dan menyerahkan jiwa ini kepada Tuhan. Demi sang penguasa samawi yang maha wujud dan melihat, aku katakan,” Aku tidak pernah menyaksikan satupun pemandangan dimana apabila disinggung perihal Hazrat Rasulullah saw, bahkan hanya disebut namanya saja, tapi pada mata Hazrat Masih Mau’ud as tidak mengalir air mata. Hati dan fikiran Beliau as, bahkan setiap pembuluh yang ada pada tubuh beliau penuh dengan ‘isyq (kecintaan) kepada junjunannya Hazrat sang penguasa dua alam (akhirat), wujud yang menjadi kebanggaan seluruh makhluk.

3. Suatu ketika Hazrat Masih Mau’ud as berjalan sendiri di dalam mesjid kecil yang berdampingan dengan kediaman Beliau as, yang dinamakan dengan mesjid Mubarak. Beliau as bersenandung dengan suara yang sangat pelan, seiring dengan itu air mata terus mengalir dari mata beliau as. Pada saat itu seorang sahabat yang mukhlis datang dari arah luar dan mendengar senandung itu. Ternyata saat itu Beliau sedang melantunkan sebuah syair sahabat Rasulullah saw yang bernama Hazrat Hassaan bin tsabit yang pernah dibacakan oleh beliau ra pada saat kewafatan Rasulullah saw. Syair itu berbunyi:”

Kuntas sawaada linnaaziriy fa’amiya ‘alaikan naaziru
man syaa’a ba’dakal yamut fa’alailka kuntu uhaadziru
Artinya:” Ya Rasul Allah! Engkau adalah kornea mataku,
karena kewafatanmu hari ini, (mataku) menjadi buta.
Sekarang, siapapun yang akan mati setelah engkau, matilah!
Aku hanya takut dengan kematian engkau, yang benar-benar telah terjadi.

Menurut penjelasan perawi, ketika saya melihat Hazrat Masih Mau’ud as menangis, pada saat itu beliau benar-benar sendiri, dengan rasa segan saya bertanya kepada Beliau as,” Hazrat! Apa yang telah terjadi? Apa yang telah membuat Huzur bersedih? Hazrat Masih Mau’ud as bersabda,” tadi saya sedang membaca sebuah syair Hazrat Hassan bin tsabit ra, lalu timbul hasrat pada diri saya ,”Seandainya syair ini keluar dari mulutku”

Dunia mengetahui bahwa sekeras-kerasnya zaman pernah beliau as lewati, menyaksikan berbagai macam aral melintang, menahan setiap musibah yang menimpa, badai kesulitan telah beliau lalui, beliau as telah merasakan permusuhan dan himpitan dari para penentang yang sudah sampai pada puncaknya, akibatnya beliau pun terpaksa melewati berbagai persidangan atas tuduhan persekongkolan pembunuhan, beliau pun pernah menyaksikan pemandangan kematian anak-anak, kerabat, sahabat, dan orang-orang yang dicintai , tapi beliau tidak pernah menangis dengan gejolak rasa haru yang seperti ini, tapi ketika didalam kesendirian, beliau mengingat syair cinta yang menceritakan tentang kewafatan junjunan beliau, Hazrat Rasul maqbul saw (padahal kewafatannya pun telah berlalu 1300 tahun yang lalu) lalu pada mata beliau seperti layaknya banjir yang mengalir dan dipenuh dengan penyesalan yang meluap keluar, ”Seandainya syair ini keluar dari mulutku” Dengan peristiwa ini, janganlah beranggapan bahwa dalam penzahiran syair Hazrat Hassan tentang kecintaan terhadap Rasul saw ini lebih unggul dari kalam-kalam lainnya, melainkan disebabkan karena kesempurnaan rasa cinta Hazrat Masih Mau’ud as kepada Rasulullah saw, dalam setiap kesempatan penzahiran kecintaan yang luar biasa, dalam hati beliau as selalu timbul keinginan ”Seandainya syair ini keluar dari mulutku”.

4. Di Qadian ada seorang yang bernama Muhammad Abdullah. Orang memanggilnya dengan sebutan professor. Beliau tidak terlalu terpelajar, tapi sangat mukhlis dan untuk mencari sesuap nasi beliau sering mempertunjukan gambar-gambar berbagai macam pemandangan kepada anak-anak yang masih kecil, Tapi terkadang beliau kehilangan kontrol dalam menjaga emosinya. Suatu ketika dalam majlis dengan Hazrat Masih Mau’ud as, ada seseorag yang menceritakan bahwa seorang penentang di suatu tempat berkata-kata kasar perihal Hazrat Masih Mau’ud as dan melontarkan cacian kepada Huzur. Professor Shahib naik pitam dan berkata,”Jika saat itu saya ada, aku akan pecahkan kepalanya. Secara spontan Hazrat Masih Mau’ud as bersabda,” Tidak, tidak, jangan begitu ajaran kita adalah ajaran sabar dan kelembutan. Saat itu professor shahib bertambah emosi, dengan gejolak emosi berkata,” Ah Shahib! Memangnya kenapa? Jika ada orang yang menghina junjunan tuan (yakni Hazrat Rasulullah saw) maka dengan spontan tuan siap untuk mengirimnya ke jahannam dengan menantangnya bermubahalah. Tapi tuan mengatakan kepada kami jika ada orang yang mencaci tuan dihadapan kami, maka sabarlah! Ini adalah kekeliruan professor shahib saat itu. Siapa yang memiliki kesabaran melebihi kesabaran Hazrat Masih Mau’ud as? Siapa yang ingin melakukannya? Tapi dalam peristiwa singkat ini, terlihat penampakan kecintaan kepada Rasul dan ghairat akan kehormatan Rasul saw, yang jarang kita jumpai permisalannya.

5. Siapa yang tidak mengenal Pandit Lekhram? Dia adalah seorang pemimpin besar sekte Hindu Arya Samaj dan juga seorang musuh Islam yang sangat licik. Lidahnya bergerak seperti gunting dan memotong seperti pisau dalam menentang Islam dan pendiri Islam yang suci (Hazrat Rasulullah saw). Seumur hidupnya, dia tidak pernah lelah untuk menentang Hazrat Masih Mau’ud as dan melontarkan cacian yang sekotor-kotornya kepada Islam dan pendirinya suci, tapi dalam setiap kesempatan Hazrat Masih Mau’ud as selalu memberikan jawaban-jawaban yang jitu (atas keberatan-keberatan yang dia sampaikan) yang selalu membuatnya bungkam seribu bahasa. Tapi orang ini tidak pernah berhenti. Pada akhirnya, pertarungan Hazrat Masih Mau’ud dengan Pandit Lekhram ini berakhir dengan satu tantangan mubahalah dari Hazrat Masih Mau’ud as yang akibatnya sang Pandit meninggal dunia dengan membawa ribuan kedengkian didalam dadanya setelah melihat kemajuan Hazrat Masih Mau’ud as yang sangat gemilang. Satu peristiwa berkenaan dengan Pandit Lekhram. Suatu ketika Hazrat Masih Mau’ud dalam safar, sedang menunggu kereta api di sebuah stasiun, pandit Lekhram pun lewat ditempat yang sama dan mengetahui bahwa Hazrat Masih Mau’ud as sedang berada di tempat tersebut. Dengan licik dan didorong bara api kebencian didalam dirinya dia datang kehadapan Hazrat Masih Mau’ud as. Pada saat itu Huzur as sedang berwudlu untuk mendirikan shalat. Pandit Lehram muncul di hadapan Beliau as menyampaikan salam dengan cara Hindu, tapi Hazrat Masih Mau’ud as tidak menjawab sepatah kata pun. Seolah-olah beliau as tidak melihatnya. Setelah itu sang Pandit berpindah ke posisi lain untuk menyampaikan salamnya yang kedua kali, tapi Hazrat Masih Mau’ud as tetap terdiam, lalu sang Pandit putus asa dan pergi kembali. Seseorang berfikir, mungkin Hazrat Masih Mau’ud as tidak mendengar ucapan salam Pandit Lekhram, dia bertanya kepada Huzur as,”Tadi ada pandit Lekhram dan menyampaikan salam kepada Huzur” Dengan penuh ghairat Hazrat Masih Mau’ud as bersabda,” Dia telah melontarkan banyak cacian kepada junjunan saya (Hazrat Rasulullah saw), disisi lain menyampaikan salam kepada kami!!!?

6. Peristiwa serupa, jalsah Lahore yang bertempat di daerah wucchu wali. Golongan Arya mengadakan sebuah jalsah (acara) di Lahore yang sekaligus mengundang berbagai agama dan firqah untuk ikut serta didalamnya dan meminta Hazrat Masih Mau’ud untuk menulis dan menyampaikan satu topik dalam kesempatan jalsah Internasional tersebut dan juga mereka berjanji tidak akan menyampaikan hal-hal yang bertentangan dengan kesopanan dan memojokkan suatu agama. Dalam menindak lanjuti undangan tersebut, Hazrat Masih Mau’ud as mengutus sahabatnya yang terpilih, Hazrat Maulwi Nuruddin Shahib yang dikemudian hari menjadi Khalifah pertama, bersama dengan banyak sekali anggota jemaat ke Lahore dengan membawa sebuah karya tulis beliau as yang didalamnya dijelaskan dengan sangat menarik berkenaan dengan “Keindahan-keindahan Islam” yang penuh dengan kejuwitaan.Tapi ketika tiba giliran kelompok Hindu Arya untuk membacakan karya tulisnya, seorang hamba Tuhan telah melupakan janji-janji kaumnya dan justru sebaliknya, melontarkan cacian kotor untuk menentang Rasul suci saw dan begitu kotornya cacian yang dituduhkan, astaghfirullah. Ketika Hazrat Masih Mau’ud mengetahui perihal program yang telah berlangsung didalam jalsah tersebut, sepulangnya tim perwakilan Jemaat ke Qadian, beliau as sangat marah kepada hazrat maulwi Nuruddin ra dan para ahmadi lainnya, dengan kemarahan yang berkecamuk, berkali-kali Beliau as mmengatakan,” Kenapa kalian tetap duduk di dalam majlis yang didalamnya Rasulullah saw di caci maki dan dihina”? Kenapa tidak spontan pergi dari majlis tersebut? Bagaimana ghairat kalian bisa tahan, duduk terdiam dan mendengarkan junjunan kalian (Rasulullah saw) dicaci maki? Kemudian dengan penuh suara lantang beliau as membaca ayat Al- Qur’an yang berbunyi :”Idza sami’tum aayaatillaahi yukfaru bihaa wa yustahza’u bihaa falaa taq’uduw ma’ahum hattaa yakhuudluu fii hadiitsin ghairihii, artinya:” Wahai orang-orang mukmin! Jika kalian mendengar tanda-tanda Tuhan diingkari secara zalim dan dijadikan bahan tertawaan, maka bangkitlah kalian dari majlis-majlis yang seperti itu sampai mereka memilih bahan pembicaraan lain yang beradab.

Hazrat Maulwi Nuruddin juga berada dalam majlis itu, setelah mendengar sabda Hazrat Masih Mau’ud as tersebut beliau ra tertunduk malu dan penuh dengan penyesalan, bahkan setelah mendengarkan sabda Hazrat Masih Mau’ud as yang sangat menggugah tersebut, seluruh hadirin yang hadir merasa malu dan diliputi rasa penyesalan yang dalam.

7. sebagian besar sahabat mengenal Almarhum Khan Bahadur Mirza Sultan Ahmad Shahib. Beliau adalah putra tertua Hazrat Masih Mau’ud as yang lahir dari perut istri pertama Beliau as, beliau seorang pensiunan pegawai dapti komissioner (jabatan pemerintahan di india) dan memiliki pengalaman yang sangat luas dalam segala hal. Selama Hazrat Masih Mau’ud as hidup, beliau tidak pernah baiat kepada beliau as, bahkan hidup memisahkan diri dari Huzur as dan berkomitmen untuk menjadi penentang yang berasal dari keluarga (Hz Masih Mau’ud), meskipun beliau baiat masuk ke dalam jemaat pada zaman Hazrat Khalifatul masih Tsani. Begitulah akhirnya, beliau menggenapi kami tiga bersaudara menjadi empat. Singkat cerita, ketika Khan Bahadur Miirza Sultan Ahmad masih berstatus ghair ahmadi. Suatu ketika terfikir oleh saya untuk sedikit bertanya kepada beliau (Khan Bahadur Miirza Sultan Ahmad) berkenaan dengan akhlak dan kebiasaan Hazrat Masih Mau’ud as pada zaman permulaan. Atas pertanyaan saya, beliau menjawab :
“ Saya melihat sesuatu yang khas dalam diri ayah saya (Hazrat Masih Mau’ud as) yakni, Beliau tidak akan tinggal diam apabila ada orang yang menentang Hazrat Rasulullah saw, sekalipun perihal yang sepele. Jika ada orang yang mengatakan sesuatu yang menentang keluhuran Hazrat Rasulullah saw, sekalipun itu hal yang biasa, maka wajah ayah menjadi memerah dan mata beliau mulai berubah karena diliputi amarah lalu beliau segera meninggalkan majlis yang seperti itu. Ayah saya sangat mencintai Rasulullah saw dan saya belum pernah melihat kecintaan yang seperti itu pada diri orang lain. Mirza Sultan Ahmad Shahib selalu mengulang-ulang hal tersebut”.

Ini adalah kesaksian orang yang tidak pernah baiat kepada beliau as, yang telah melihat kehidupan Hazrat Masih Mau’ud dari semenjak beliau as masih remaja sampai akhir hayatnya. Orang (Mirza Sultan Ahmad Shahib ) yang telah wafat pada usia 80 tahun, yang disebabkan karena pergaulannya yang sangat luas, dengan jabatan yang terhormat, jasa-jasa pengkhidmatannya yang mulia dan hubungan sosialnya dengan yakin bisa mengatakan: ”Bahwa di dunia ini saya telah berhubungan dengan berbagai tipe karakter manusia. Tapi dalam kehidupan Hazrat Masih Mau’ud as, meskipun seorang ghair ahmadi, dari kesaksian (dalam pergaulan) seumur hidupnya, selain mengatakan hal ini tidak ada kesimpulan lain yakni : ”Ayah sangat mencintai Hazrat Rasulullah saw dan saya belum pernah melihat kecintaan yang seperti itu pada diri orang lain”.


8. Suatu hari terjadi perbincangan didalam lingkungan keluarga Hazrat Masih Mau’ud as. Saat itu karena sakit, beliau as berbaring diatas carpaiy (ranjang dari kayu dan untaian tali di India) di rumah beliau as. Hazrat Amma Jaan nawwarallaahu marqadaha dan kakek beliau as dari pihak ibu yang bernama Almarhum Hazrat Mir Nasir Nawab Shahib sedang duduk-duduk disana. Mulailah perbincangan mengenai ibadah haji. Sang kakek mengatakan :”Saat ini banyak kemudahan untuk melaksanakan ibadah haji, kita hendaknya pergi menunaikan ibadah haji. Seketika teringat dibenak Hazrat Masih Mau’ud untuk ziarat ke haramain syarifain (tanah suci), mata beliau as berlinang penuh dengan air mata, sehingga berkali-kali beliau as mengeringkan air mata dengan jari tangan. Setelah mendengar perkataan sang kakek, beliau as bersabda,” Memang sebaiknya demikian dan kami pun berkeinginan untuk itu. Tapi saya selalu berfikir “Apakah saya akan mampu (tahan) melihat makam Hazrat Rasulullah saw”?

9. Disebabkan oleh kecintaan kepada Hazrat Rasulullah saw, beliau as pun sangat mencintai keluarga, putra-puteri dan sahabat-sahabat beliau. Sebagaimana, ketika tiba bulan muharram, saat itu hazrat Masih Mau’ud sedang berbaring pada carpaiy (ranjang yang terbuat dari kayu dan untaian tali), lalu beliau as memanggil kakak ipar kami Mubarakah Begum sallamaha, saudara kami dan putra yang paling bungsu Almarhum Mubarak Ahmad, lalu beliau as bersabda,” Marilah! Aku ceritakan pada kalian peristiwa yang terjadi pada bulan muharram! Kemudian dengan penuh rasa haru beliau as menceritakan peristiwa syahidnya Hazrat Imam Husain ra dan terus menceritakannya. Seiring jalannya cerita, air mata pun tak berhenti menetes dari mata beliau as, sehingga beliau as terus mengeringkan air mata dengan jari-jari beliau. Setelah selesai menceritakan peristiwa yang mengharukan itu, sambil bergetar beliau as bersabda,” Si Yazid yang jahatlah yang telah merencanakan kezaliman kepada cucu nabi karim saw itu. Tapi dengan cepatnya Tuhan telah mengazab orang-orang yang zalim itu. Saat itu beliau as diliputi oleh suasana yang aneh dan setelah mengingat peristiwa syahidnya belahan jiwa junjunan Nabi Karim saw yang sangat mengiris hati itu, disebabkan oleh kecintaan yang mendalam kepada Rasul suci saw, hati beliau as dicekam oleh rasa gundah. Sebagaimana beliau mengungkapkan isi hati beliau sendiri kepada hazrat Rasulullah saw yang dituangkan dalam satu syair, yang berbunyi :

Demi wajah engkau, Ahmad ku yang tercinta
Demi engkau, kami mennanggung semua ini berkali-kali
Setiap zarrah mati karena dipenuhi dengan kecintaan kepadamu
Kami telah menyemaikan sebuah kota didalam dada kami

10. buah dari rasa cinta yang mendalam Hazrat Masih Mau’ud as kepada junjunan sang junjunan saw adalah setiap syair puji sanjungan yang beliau as tulis untuk melukiskan kebesaran hazrat Rasulullah saw seperti halnya sarang madu, disebabkan karena berlimpahnya madu didalam sarang tersebut, sehingga meluap dan meneteskan tetesan madu yang bisa mensucikan. Sebagaimana beliau tuangkan dalam satu syair berbahasa farsi yang beliau lukiskan dalam curahan hati yang sangat romantis, artinya:”

Tuhan telah melimpatkan nur yang ajaib dalam wujud Muhammad saw, telinga beliau yang berberkat telah dipenuhi dengan perhiasan yang sangat istimewa. Wahai orang-orang yang ingkar! Jika kalian menginginkan bukti dalil untuk kebenaran Muhammad saw, sangatlah banyak. Tapi sebagai jalan pintas, “masuklah” kedalam para pecintanya! Karena dalil yang paling besar untuk kebenaran Muhammad adalah wujud Muhammad itu sendiri. Demi Allah! Jika seandainya aku di iris-iris pada jalan engkau lalu potongan-potongan tubuhku dibakar dan dijadikan debu, maka tetap saja aku tidak akan pernah memalingkan wajah dari pintumu. Wahai jiwanya Muhammad! Aku korbankan jiwaku demi engkau. Engkau telah menyinari perhiasanku dengan kecintaanmu.

11. Begitu juga dalam sebuah syair berbahasa arab, beliau as melukiskan perasaannya kepada Rasulullah saw, sebagai berikut :

Unzur ilayya birohmatin wa tahannunin
Yaa sayyidiy ana ahqarul ghilmaan
Yaa hibbi innaka qad dakholta mahabbatan
Fii muhjatiy wa madaarikiy wa janaanii
Min zikri wajhika yaa hadiiqata bahjatiy
Lam akhlu fii lahzin wa laa fii aan
Jismiy yatliiru ilaika min syauqin ‘alaa
Yaa laita kaanat quwwatut tloyaraanii

Artinya:” Wahai junjunanku! Lihatlah padaku dengan penuh kasih sayang
Aku abdimu yang paling hina
Wahai orang yang kucintai! Kaulah yang telah menyerapkan cinta
Kedalam jiwa ragaku dan sukmaku
Wahai kebun hatiku, aku selamanya ingat kepadamu
Sesaatpun aku tak pernah melupakanmu
Jasadku ingin terbang kepadamu karena teramat rindunya
Wahai, aku tak berdaya untuk terbang

Bagaimana luapan gejolak rasa cinta, kerinduan, rintihan dan pengorbanan yang nampak pada diri Hazrat Masih Mau’ud kepada Hazrat Rasulullah saw dalam syair ini, tidak memerlukan penjelasan lagi. Semoga para pemuda-pemudi ahmadi kita berupaya untuk menggugah hatinya dengan percikan api kecintaan ini dan juga semoga saudara-saudara ghair ahmadi kita bisa mengenal ketinggian wujud agung ini, yang berkenaan dengan itu, junjunan dan panutan kita Hazrat Khataman nabiyyiin saw bersabda : "Yudfanu ma’iya fii qabriy", Artinya:” aku dan Al-masih yang akan datang akan memiliki banyak kesamaan dan ikatan yang begitu dalam
sehingga setelah kewafatannya, ruhnya akan dikuburkan beserta ruhku.

12. Buah yang akan diraih dari ‘isyq (kecintaan) pasti selalu zahir dalam bentuk pengorbanan, (fidaiyat) kerinduan dan ghairat. Semua gejolak perasaan ini kita jumpai dalam diri Hazrat Masih Mau’ud as pada derajat yang sempurna. Suatu ketika beliau as menjelaskan berkenaan dengan keberatan-keberatan yang penuh kedustaan dan kekotoran yang dilontarkan oleh para pendeta Kristen kepada zat dan sifat-sifat Hazrat saw. Beliau as bersabda : “Para missionary Kristen melontarkan banyak sekali tuduhan palsu untuk menentang Rasul kita saw dan dengan perantaraan kedustaan ini mereka menyesatkan banyak sekali umat manusia. Tidak pernah sesuatu benda melukai hatiku seperti halnya olok-olokan dan caci makian mereka yang terus dilontarkan untuk (merendahkan-pent) keagungan Rasul suci saw. Kezaliman, laknat dan cacian yang mereka lontarkan kepada zat dan sifat-sifat Hazrat Khairul Bashar (manusia yang terbaik) sangat melukai hatiku. Demi Tuhan! Jika seandainya seluruh anak keturunanku, sahabat-sahabat dan para asisten dan pegawaiku (mu’awin madadgaar) dibunuh didepan mataku, tangan kakiku juga dipotong, bola mataku dicungkil, lalu semua yang menjadi maksud dan tujuanku di mahrumkan dariku, dan semua kebahagiaan dan ketentramanku
dilenyapkan, maka semua hal ini tidak akan lebih menyedihkan bagiku dibandingkan dengan luka hati pada saat Rasul Akram saw dihujani dengan kekotoran seperti itu. Walhasil, wahai junjunan samawiku! Pandanglah kami dengan pandangan rahmat dan pertolongan dan selamatkanlah kami dari ujian yang sangat berat ini.


Hazrat Masih Ma'ud a.s.
13. Begitu juga pada kesempatan lain Beliau as menjelaskan berkenaan dengan keberkatan dan kesucian Hazrat Rasulullah saw:
“Begitu banyaknya saya yang lemah ini mengirim shalawat kepada Hazrat Rasulullah saw pada suatu malam, sehingga hati dan jiwaku menjadi wangi karenanya. Pada malam itu juga aku melihat dalam mimpi, para malaikat datang ke rumah saya dengan membawa kantong yang berisikan nur dalam wujud air suci yang menyembuhkan. Salah seorang dari antara malaikat berkata kepadaku:” Inilah keberkatan-keberkatan yang telah engkau kirimkan kepada Muhammad saw”.

Maksudnya adalah begitu mendalamnya kecintaan Hazrat Masih Mau’ud as kepada Hazrat Rasulullah saw, sehingga tidak akan kita jumpai permisalannya. Jiwa beliau benar-benar menjadi halus lembut dalam kecintaan ini. Kami telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, mendengar dengan telinga kami, merasakan dengan perasaan lahir dan batin bahwa beliau selalu mengorbankan setiap zarrah-zarrah yang terdapat dalam diri beliau as demi Muhammad, Tuhannya Muhammad dan agama Muhammad saw.

Penerjemah: Mahmud Ahmad Wardi
Penulis: Mukarram Mirza Abdul haqq Shahib advokat, Amir Daerah, Nazir Da’wat o Tabligh Sadr Anjuman Ahmadiyah Qadian Punjab, India

Kutipan dari Buku Berbahasa urdu yang berjudul:1. Kecintaan Hazrat Masih Mau’ud as Kepada Hazrat Rasulullah saw 2. Kecintaan Hazrat Masih Mau’ud as Kepada Hazrat Rasulullah saw yang disampaikan pada kesempatan Jalsah Salanah Qadian Januari 1967