Selasa, 31 Mei 2011

Khutbah Jumah 20 Mei 2011 : Kekuatan Shalat & Doa

ِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
نَحْمَدُهُ وَنُصَلِّى عَلَى رَسُوْلِهِ الْكَرِيْمِ  وَعَلَى عَبْدِهِ اْلمَسِيْحِ اْلمَوْعُوْدِ



Khutbah Jum'at
Hazrat Umirul Mu'minin Khalifatul Masih V atba
20 Mei 2011 di Masjid Baitul Futuh, London UK
Tentang : Kekuatan Shalat & Doa




Kita tidak dapat menyatakan rasa syukur dan terima kasih yang memadai kepada Allah swt atas ihsan-Nya yang sangat besar diatas kita Yang telah mengutus seorang fana fi Rasulillah saw, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai  Imam Mahdi dan Masih Mau’ud a.s.  sesuai dengan nubuatan Hazrat Rasulullah saw,  setelah dunia mengalami zaman kegelapan yang cukup panjang. Cara bersyukur yang paling baik kepada Allah swt adalah dengan membaca sambil merenungkan malfuzat dan buku-buku yang telah ditulis oleh orang yang telah diutus oleh-Nya dizaman ini dan menjadikannya bagian dari kehidupan kita. Firman Allah swt didalam Alqur’an : Kunuu ma’as sadiqiin artinya bergaullah kamu dengan orang-orang yang sadiq, ambillah berkat-berkat dari para sadiqiin. Pemandangan pergaulan yang sangat indah bersama orang-orang sadiq dapat diperoleh ketika para Sahabah Ridwanullah ’alaihim berkumpul bersama Hazrat Rasulullah saw didalam majlis-majlis atau pertemuan-pertemuan sambil mengambil berkat-berkat yang sangat banyak dari beliau saw. Kemudian mereka itu menyampaikan kembali nasihat-nasihat beliau saw dan menceritakan kisah yang terjadi didalam majlis-majlis beliau kepada kita. Setelah itu tibalah zaman yang kedua yaitu zaman ghulam sadiq beliau saw, Hazrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. Beliau a.s. telah menulis banyak sekali buku-buku yang menjelaskan dasar-dasar ajaran agama Islam dan tafsir Al qur’anul Karim. Dengan itu beliau menjelaskan kepada dunia keluhuran dan keindahan ajaran Agama Islam. Selain itu banyak sekali majlis-majlis yang beliau selenggarakan bersama para Sahabah beliau a.s. Kadang kala majlis itu kecil, kadang kala besar bahkan dalam bentuk Jalsah atau pertemuan umum beliau selenggarakan untuk menyampaikan pidato-pidato yang materinya tidak terdapat didalam buku-buku beliau a.s. Didalam pertemuan-pepertemuan seperti itulah para Sahabah r.a. mendapat peluang emas untuk meraih berkat-berkat dari pergaulan dengan beliau a.s. dan mereka memperoleh banyak berkat dari wujud Sadiq dan Ghulam Sadiq zaman sekarang ini. Majlis-majlis yang diselenggarakan itu dilestarikan didalam surat-surat khabar Jema’at dizaman itu. Betapa beruntungnya nasib orang-orang pada waktu itu yang telah meraih banyak berkat dari Majlis-majlis Imam Zaman sambil mengamalkan perintah Allah swt Kunuu ma’as sadiqqin. Dan kita juga merasa sangat bersyukur kepada para relawan Jema’at yang dengan sangat teliti dan cermat telah mengumpulkan dan melestarikan kissah jalannya majlis-majlis, mengumpulkan aneka-ragam pertanyaan dan jawaban-jawabannya serta uraian-uraian berupa hikmah serta nasihat-nasihat yang telah diselenggarakan pada waktu itu. Dengan perantaraan mereka itulah setelah berlalu lebih dari seratus tahun-pun sekarang kita dapat membaca dan mendengar-nya. Dengan mendengar dan membaca-nya kita dapat membayangkan seolah-olah kita-pun sedang duduk bersimpuh bersama Hazrat Imam Mahdi, Masih Mau’mud a.s Ghulam Sadiq Rasulullah saw.                                                  
Untuk khutbah hari ini saya telah mengambil kutipan dari sabda-sabda atau nasihat-nasihat yang telah beliau a.s. sampaikan didalam majlis-majlis itu tentang salat, do’a, ta’alluq billah (hubungan dengan Allah swt) dan lain-lain. Didalam sebuah pidato tahun 1907 yang cukup panjang sambil mengingatkan hadirin terhadap pentingnya do’a Hazrat Aqdas Masih Mau’ud a.s. bersabda; ” Ingatlah, Allah swt telah memulai firman-Nya didalam Alqur’an dengan do’a dan mengakhirinya juga dengan do’a pula. Hal itu berarti bahwa keadaan manusia begitu lemah tanpa karunia Allah swt manusia tidak mungkin dapat membersihkan hatinya. Dan selama tidak mendapat bantuan dan pertolongan dari Allah swt manusia tidak akan mendapat kemajuan didalam kebaikan mereka. Terdapat riwayat didalam hadis Rasulullah saw bersabda : ” Semua orang tidak bernyawa kecuali Allah memberi kehidupan kepadanya. Dan semua sesat kecuali orang yang diberi hidayat oleh Allah swt. Dan semua buta kecuali Allah swt memberi matanya terang. Pendeknya sungguh benar bahwa selama karunia Allah swt tidak diterima, leher manusia akan tetap terbelenggu oleh keduniawian. Dia akan terlepas dari belenggu itu apabila Tuhan menurunkan karunia-Nya kepadanya. Namun harus diingat bahwa turunnya berkat-berkat Tuhan juga dimulai dengan do’a dan  untuk mendapatkan karunia-Nya juga harus dengan doá dipanjatkan kepada-Nya. Untuk menghilangkan waswas dari dalam hati ketika sedang menunaikan salat Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : ” Do’a itu apa? Mulut berulang kali berkata ihdinas sirathal mustaqim sedangkan didalam hati kalian timbul ingatan terhadap barang-barang perniagaan kalian, barang ini harus ada sekian, barang itu tinggal sedikit, pekerjaan ini harus begini harus begitu, jika barang itu begini, harus diusahakan begitu, dan sebagainya. Salat demikian itu hanya akan membuang-buang waktu belaka dan menghabiskan umur. Selama manusia tidak mendahulukan Kitabullah dan tidak beramal sesuai dengan  perintah ajaran-nya, maka salatnya itu hanya membuang-buang waktu belaka. Oleh sebab itu beliau a.s. bersabda ;” berdo’alah kalian.” Ada sebuah kejadian, seorang sudah tua pergi kesebuah mesjid untuk menunaikan salat. Imam mesjid disitu ketika sedang memimpin salat fikirannya teringat kepada bisnisnya. Berkata dalam hatinya, barang-barang-ku sekian akan dibawa ke Dheli dari sana sekian akan diperoleh keuntungan. Kemudian barang-barang itu akan dibawa ke Calcutta, dari sana sekian akan mendapat keuntungan, kemudian dari sana akan pergi lagi ketempat lain. Orang yang sedang salat dibelakang Imam itu pergi meninggalkan Imam salat itu lalu ia mengerjakan salat secara terpisah. Allah swt telah memberi tahu orang ini melalui kasyaf keadaan hati imam salat itu sudah pergi kesana kemari berjalan jauh. Orang lain yang ikut salat dengan imam itu memberi tahu bahwa orang ini telah meninggalkan salat berjama’ah dengan imam lalu ia mulai salat sendirian. Imam itu dengan marah bertanya kepada orang ini: ” Engkau telah berbuat dosa besar, mengapa engkau meninggalkan salat berjema’ah ?  Orang itu menjawab; Maulvi Sahib, saya orang tua dan sudah lemah, Maulvi Sahib sudah mulai pergi berjalan jauh, saya tidak kuat lagi pergi berjalan jauh bersama Maulvi Sahib ke Dheli dari Dheli ke Calcutta dari Calcutta ketempat lain lagi.” Demikianlah kadang-kadang keadaan hati orang-orang yang sedang memimpin salat itu.                                            
                                            
Pada tahun 1906 didalam sebuah pidato Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda ; ” Salat itu apa? Salat adalah do’a yang dipanjatkan kepada Tuhan dengan perasaan penuh pilu, pedih dan perasaan yang panas membara. Itulah sebabnya ia dinamakan salat. Dimohon dengan hati panas membara, rasa sedih dan pilu agar Allah swt menjauhkan keinginan-keinginan buruk dan perasan-perasaan buruk dari dalam hati. Dan menggantinya dengan menciptakan kesucian dan kecintaan didalamnya. Perkataan salat mengisyarahkan kepada perkara yang dilakukan tidak cukup hanya dengan perkataan belaka melainkan bersamanya perlu sekali disertai dengan perasaan hati membara dan pilu didalam hati sambil merintih. Allah swt tidak mau menerima do’a seseorang sehingga keadaan dia demikian fana seakan-akan binasa didalam berdo’a. Berdo’a suatu pekerjaan yang sangat sulit sekali. Dan banyak manusia yang betul-betul tidak mengenal kepada hakikat do’a itu. Banyak orang-orang menulis surat kepada saya memohon do’a untuk suatu maksud. Akan tetapi mereka berkata, tidak mendapat kesan apa-apa dari do’a itu. Dengan berkata demikian ia telah berburuk sangka kepada Allah swt dan setelah berputus asa kemudian ia menjadi binasa. Ia tidak tahu bahwa selama do’a itu tidak disertai dengan tata-tertibnya maka do’a itu tidak akan memberi faedah sedikitpun. Diantara tata-tertib do’a itu adalah, hati meleleh dan ruh mengalir laksana air jatuh diistana Tuhan. Dan diwaktu solat timbul rasa gelisah dan prihatin, disertai dengan sabar dan tidak berputus asa. Melainkan terus berdo’a dengan sabar dan istiqamah. Barulah dapat diharapkan do’a akan dikabulkan oleh Tuhan. Salat adalah do’a yang paling tinggi derajatnya. Akan tetapi sangat disesalkan sekali manusia tidak tahu-menahu hakikat salat yang sebenarnya. Mereka tahu salat hanya sekedar adat kebiasaan saja berdiri, ruku, dan sujud.  Dan beberapa kalimat dibaca seperti burung beo, mengerti atau-pun tidak mengerti artinya. Ingatlah, bagi kita dan bagi para pencari kebenaran salat adalah sebuah ni’mat yang tidak memerlukan suatu bid’ah lagi. Hazrat Rasulullah saw apabila melihat suatu kesulitan atau suatu musibah beliau saw segera berdiri mengerjakan salat. Pengalaman kami dan pengalaman orang-orang soleh zaman lampau tidak ada suatu amalan lain yang lebih baik dari pada salat yang dapat membawa manusia lebih dekat kepada Tuhan. Apabila manusia berdiri untuk salat, ia berusaha berdiri dengan penuh adab, seperti seorang hamba apabila berdiri dihadapan majikannya selalu hormat sambil melipat kedua belah tangan didadanya. Posisi ruku’ lebih adab dari pada berdiri dan posisi sujud adalah posisi adab yang paling luhur. Apabila manusia menempatkan dirinya dalam keadaan fana pada waktu itu ia merebahkan dirinya dalam posisi sujud. Sangat disesalkan bagi orang-orang yang tuna ilmu dan penyembah berhala dunia, yang ingin merobah salat dan keberatan terhadap ruku’ dan sujud. Padahal semua itu perkara kebaikan yang tinggi sekali nilainya. Selama manusia belum mendapatkan bagian dari kedudukan dimana salat telah sampai tujuannya, manusia belum dapat meraih apa-pun. Bagi orang yang tidak menaruh keyakinan terhadap wujud Allah swt bagaimana ia akan merasa yakin dengan hasil salat.” Selanjutnya Hazrat Masih Mau’ud a.s. brsabda lagi ; ” Aku katakan, Do’a harus dipanjatkan kepada Allah swt dengan  perasaan hati ni’mat dan semangat yang bergelora seperti Allah swt telah menganugerahkan kelezatan bermacam buah-buahan dan kelezatan-kelezatan lainnya, Dia memberi manusia kesempatan untuk mencicipi lezatnya berdo’a dan ibadah salat. Manusia akan mengenang kelezatan yang telah dia ni’matinya. Ingatlah, jika seseorang lelaki telah memandang seorang perempuan cantik dengan hati senang dan gembira tentu ia selalu ingat dan mengenangnya selalu. Dan jika ia memandang muka orang yang jelek dan tidak menyenangkan, maka sebaliknya rupa badan dia seluruhnya akan nampak buruk kepadanya. Jika tidak ada hubungan sama-sekali dengannya ia tidak akan dikenang sedikit-pun. Demikianlah juga bagi orang yang tidak mengerjakan salat, maka salat merupakan sebuah denda baginya. Susah-susah harus bangun pagi, dimusim dingin mengambil air sembahyang, harus meninggalkan masa tidur nyenyak dan harus meninggalkan berbagai macam kesenangan lainnya. Pasalnya, manusia tidak acuh terhadap kewajiban dan tidak tahu adanya kesenangan dan kelezatan yang terkandung didalam salat.        
                                             
Pada tahun 1906 didalam sebuah majlis Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : ” Berkaitan dengan masalah do’a Hazrat Isa a.s. telah menjelaskan sebuah misal yang baik sekali. Katanya ada seorang Qadhi yang berlaku tidak adil kepada siapapun. Siang-malam dia sibuk dalam kehidupan bersenang-senang. Seorang perempuan mempunyai kasus pengadilan. Setiap hari ia datang didepan pintunya meminta keadilan. Setiap waktu ia menuntut keadilan kepadanya. Lama-lama Qadhi itu merasa terganggu sekali dan akhirnya memberi keputusan terhadap kasusnya itu dengan adil. Huzur a.s. bersabda : Tengoklah ! Apakah Tuhan tidak dapat berbuat seperti Qadhi itu juga? Dia mendengar do’a kamu dan mengabulkan keinginan kamu? Dalam keadan tenangpun manusia harus sibuk dalam berdo’a, waktu terkabulnya do’a pasti akan tiba. Dan syarat terkabulnya do’a adalah istiqamah yakni keteguhan iman. Mengerjakan salat karena adat kebiasaan tidak membawa faedah apapun. Bahkan terhadap salat yang demikian Allah swt mengirimkan la’nat. Allah sw sendiri berfirman : "Celaklah orang yang salat. Yaitu orang yang salatnya bermalas-malasan".
Ayat ini berkenaan orang-orang yang mengerjakan salat namun tidak mengetahui apa hakikat dan makna salat itu. Para Sahabah Rasulullah saw sendiri faham Bahasa Arab. Dan faham betul hakikat salat itu. Akan tetapi bagi kita sangat perlu sekali untuk memahami makna do’a-do’a salat itu dan ciptakanlah rasa lezat dialam menunaikan salat itu. Akan tetapi orang-orang itu menganggap Nabi lain telah datang. Dan seolah-olah salatpun sudah dimansukhkan oleh mereka. Yakni dari pada mereka berusaha memahami semua do’a yang terkandung didalam salat, mereka kerjakan salat itu hanya sebagai adat kebiasaan belaka. Mereka tidak mau mengerjakan seperti yang kita jelaskan kepada mereka, sebaliknya mereka mengatakan salat yang kita lakukan adalah ajaran dari nabi baru. Ingatlah, salat yang kita kerjakan bukan memberi faedah kepada Allah swt, melainkan demi kebaikan manusia belaka bahwa Allah swt telah memberi kesempatan kepada mereka untuk menyerahkan diri kepada Allah swt. Dan dengan salat itu manusia dapat melepaskan diri dari berbagai macam kesulitan. Aku hairan bagaimana orang-orang itu menjalani kehidupan siang malam, iman mereka hilang, jati diri mereka juga hilang lenyap, namun tidak tahu bahwa mereka juga mempunyai Tuhan. Ingatlah, manusia semacam itu kemarin juga binasa dan sekarang juga akan binasa. Aku memberi nasihat yang sangat penting, mudah-mudahan hati manusia mau menerimanya! Ingatlah, umur manusia semakin berlalu. Tinggalkanlah kelalaian dan pilihlah jalan merendahkan diri, berdo’alah kepada Tuhan dalam keadaan menyendiri, semoga Dia menyelamatkan iman tetap hidup dan semoga Dia ridha dan senang kepada kamu.”           

Pada tanggal 7 Maret 1907 didalam sebuah majlis Hazrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. sedang duduk bersama para sahabah dan diwaktu itu ada dua orang sahabah yang sedang menunjukkan kebencian satu sama lain. Beliau a.s. menyampaikan beberapa macam nasihat tentang itu. Disamping itu beliau bersabda sebagai berikut : ” Selama hati manusia tidak bersih kemaqbulan do’a tidak dapat diterima. Jika dalam suatu urusan duniawi juga hati kalian menaruh rasa dengki terhadap seseorang maka do’a kalian tidak dapat diterima. Tinggalkanlah kemarahan yang terpendam didalam hati  disebabkan perkelahian, pertengkaran, egotisme dusta dan kesombongan. Buanglah kedengkian dan permusuhan yang terpendam didalam hati. Jika kedengkian dan permusuhan itu masih terpendam didalam hati maka do’a kalian tidak dapat diterima. Hal itu semua harus diingat dengan sesungguhnya dan sekali-kali jangan menaruh rasa dendam dan dengki terhadap siapapun disebabkan perkara duniawi. Sebab dunia dan semua yang ada didalam-nya tidak mengandung khasiat apapun, mengapa karena hal demikian kalian harus meninggalkan hubungan baik dengan seseorang?”   
         
Setelah salat subuh Hazrat Masih Mau’ud a.s. biasa berjalan-jalan pagi dan beberapa Sahabah juga ikut pergi bersama beliau a.s. Sambil berjalan beliau pergunakan kesempatan untuk menyampaikan beberapa  nasihat kepada para Sahabah. Pada tahun 1908 beliau menyampaikan nasihat sambil berjalan yang cukup panjang. Beliau bersabda : ”  Banyak orang yang mendengar nasihat dengan telinga sebelah kanan dan mengeluarkannya lagi dari telinga sebelah kiri. Nasihat itu tidak diresapkan didalam hatinya, berapa-pun pentingnya nasihat itu tidak memberi kesan apapun kepadanya. Ingatlah Allah swt Maha Kaya. Selama do’a tidak dipanjatkan sebanyak-banyaknya dan terus berulang-ulang dengan hati luluh dan gelisah, Dia tidak menghiraukannya. Perhatikanlah, jika isteri atau anak seseorang tiba-tiba jatuh sakit atau jika seseorang harus menghadapi sidang di Pengadilan, bagaimana gelisah-nya hati orang itu diseababkan kejadian demikian? Do’a juga jika  dipanjatkan tanpa disertai rasa gelisah dan hati yang luluh, maka do’a itu tidak akan membawa kesan bahkan akan menjadi sia-sia belaka. Perasaan gelisah dan pilu adalah syarat bagi dikabulkannya do’a. Sebagaimana Allah swt berfirman : "Ammay yujiibul mudhtarra idza da’ahu wayaksyifus suua....Siapakah Yang mendengar do’a seseorang apabila kepada-Nya ia berdo’a dan Dia menjauhkan kesulitan (An Namal: 63). Allah swt mendengar orang yang tidak berdaya dan gelisah. Tuhanlah Yang mendengar do’a hamba-hamba-Nya. 

Didalam sebuah majlis dikota Lahore dimana banyak orang-orang ghair Ahmady juga ikut hadir Hazrat Masih Mau’ud a.s. menyampaikan sebuah pidato sangat panjang. Beliau a.s. menjelaskan tentang do’a. Beliau a.s. bersabda : ” Yang dimaksud dengan benarnya Islam adalah apabila manusia mengutamakan kehendak Tuhan  diatas kehendak diri pribadinya. Namun sesungguhnya kedudukan manusia seperti itu tidak dapat diperoleh hanya dengan kekuatan dirinya sendiri. Tidak ada suatu keraguan bahwa manusia harus merjuang keras untuk mencapai hal itu.  Sarana utama dan yang paling tepat adalah do’a. Keadaan  manusia lemah, jika tidak memperoleh dukungan dan kekuatan melalui do’a tidak akan dapat mencapai tujuan  yang sangat musykil dan berat itu. Allah swt sendiri telah memberi tahukan tentang kelemahan manusia, firman-Nya : Khuliqal insaanu dha’ifan .. manusia diciptakan dalam keadaan lemah ( An Nisa : 29) Jadi, sekalipun lemahnya manusia, jika menda’wakan diri telah memproleh martabat tinggi hanya melalui usahanya sendiri semata-mata fikiran yang sia-sia. Untuk mencapai hal itu do’a sangat diperlukan sekali. Do’a sebuah kekuatan yang sangat dahsyat. Dengan do’a banyak sekali perkara-perkara besar dapat dipecahkan. Dan dengan do’a sangat mudah sekali manusia dapat mencapai tujuannya yang sangat susah. Sebab du’a adalah sebuah saluran yang mampu menyerap kekuatan dan karunia yang datang dari Allah swt. Manusia yang selalu menyibukkan diri dalam memanjatkan do’a akhirnya dia meraih karunia itu. Dan dengan mendapat dukungan dari Allah swt ia berhasil meraih maksud-maksud baiknya. Sungguh, hanya bertumpu kepada do’a saja tidak dikehendaki oleh Allah swt. Melainkan paling utama harus menggunakan setiap usaha dan kemampuan secara sempurna kemudian do’a dipanjatkan kepada Allah swt. Tanpa menggunakan tadbir dan sarana kemudian hanya bertumpu kepada do’a belaka berarti manusia tidak mengenal sama sekali terhadap do’a dan berarti pula ia telah menguji Tuhan. Dan semata-mata bertumpu kepada tadbir atau usaha dan menganggap do’a tidak mempunyai khasiat apa-apa adalah dahriyyat atau atheist (tidak percaya kepada Tuhan). Ketahuilah, sesungguhnya do’a adalah sebuah khazanah yang sangat besar.  Orang yang tidak meninggalkan do’a, jasmani dan ruhaninya tidak akan ditimpa bencana. Dia terlindung didalam sebuah kubu yang dijaga disekelilingnya setiap sa’at oleh tentera. Akan tetapi orang yang lalai berdo’a keadaannya laksana seorang yang tidak bersenjata dan keadaan phisiknya juga sangat lemah dan ia tinggal disebuah hutan belantara dimana banyak sekali binatang buas dan binatang-bintang berbahaya lainnya. Ia menganggap dirinya tidak berdaya menghadapi bahaya itu. Hanya sekejap mata saja ia dapat menjadi mangsa binatang buas yang berbahaya dan dilahapnya sehingga daging dan tulang-belulangnya-pun habis tidak nampak lagi. Oleh sebab itu ingatlah baik-baik, bahwa manusia sangat beruntung dan sarana utama bagi perlindungan dirinya adalah do’a. Do’alah sebagai pelindung baginya jika setiap waktu ia sibuk memanjatkannya. Didalam sebuah majlis dikota Lahore beliau a.s. bersabda : ” Setelah memperbaiki akhlaq masalah kedua adalah manusia melalui do’a harus berusaha meraih kecintaan dan keridaan Allah swt. Pertama perbaiki-lah akhlaq setelah itu berusaha keras untuk menghasilkan kecintaan suci  Allah swt. Jauhkan-lah diri dari setiap jenis dosa dan setiap keburukan. Dan hendaklah mempunyai peluang untuk menjauhkan diri dari sejumlah keburukan yang terkandung didalam hati, kemudian jadilah laksana setets air yang sangat jernih. Selama keadaan seperti itu belum diperoleh, akan selalu berada dalam posisi bahaya. Disamping berdo’a manusia harus membuat tadbir atau rencana untuk meraih maksud dan tujuan. Sebab Allah swt juga menyukai tadbir atau rencana. Itulah sebabnya Tuhan berfirman sambil bersumpah : "Kemudian mereka mengelola urusan duniawi ( An Nazi’at : 6)". Apabila ia berdo’a untuk kedudukan seperti ini dan juga ia menggunakan tadbir dan meninggalkan semua majlis dan pergaulan yang berbahaya dan meninggalkan semua adat kebiasaan yang dibuat-buat kemudian menyibukkan diri dalam berdo’a kepada Allah swt maka pada suatu hari ia menyaksikan kesan-kesan kemaqbulan do’a-do’anya. Ada kesalahan orang-orang, setelah memanjatkan do’a beberapa lama ia tinggal diam dan mulai mengeluh sambil berkata: Berapa banyak kami sudah berdo’a namun tidak dikabulkan. Padahal hak berdo’a itu belum dia penuhi. Bagaimana do’anya itu akan dikabulkan? Jika seseorang merasa lapar atau merasa sangat dahaga atau haus kemudian baru makan satu biji gandum atau minum setetes air lalu ia mengeluh saya tidak merasa kenyang, apakah dapat diterima keluhan-nya itu? Sekali-kali tidak. Sebelum dia makan dan minum dalam jumlah yang banyak tentu tidak akan memberi faedah kepadanya. Demikianlah pula mengenai do’a. Jika manusia berdoá dengan sungguh-sungguh dan dilakukannya dengan penuh adab dan setiap waktu ia lakukan, maka dapat diharapkan pada suatu hari maksud-maksudnya akan dapat tercapai. Akan tetapi jika ditengah jalan dia tinggalkan, akal manusia akan lumpuh akhirnya jatuh sesat. Dan sekarang banyak akal manusia yang siap untuk mati. Jika ditengah jalan kamu tinggalkan maka siap-sedialah kamu menjadi sesat.” Beliau a.s. bersabda lagi; ”  Demikian juga manusia yang tenggelam dari kepala sampai ujung kaki didalam kancah perbuatan-perbuatan buruk, lalu dalam keadaan demikian ia berdo’a dalam beberapa hari lamanya, apa yang dapat diharapkan hasilnya. Adat mementingkan diri sendiri, takabbur,  menyombongkan diri, pamer dan lain-lain penyakit pada dirinya telah menghapuskan semua amal-amal saleh yang telah dilakukan-nya. Misal amal perbuatan yang baik adalah seperti seekor burung yang diletakkan didalam sebuah sangkar. Jika ia diletakkan didalam sangkar kebenaran dan keikhlasan, maka ia akan tetap didalam sangkar itu. Jika tidak ia akan terbang. Keadaan demikian tidak dapat diperoleh tanpa adanya karunia Allah swt turun kepadanya. Allah swt berfirman : Faman kaana yarjuu liqaa rabbihi falya’mal amalan saalihan wala yusyrik bi’ibadati rabbihi ahadan Artinya : Maka barangsiapa mengharap akan bertemu dengan Tuhannya, hendaklah ia beramal soleh dan janganlah ia mempersekutukan siapapun dalam beribadah kepada Tuhan-nya. (Al Kahf : 111).  Disini amal salih maksudnya amal yang tidak dicemari oleh suatu amal buruk apapun, semata-semata hanya kebaikan. Tidak ada mementingkan diri sendiri, tidak ada takabbur, tidak ada kesombongan, tidak ada sedikitpun bagian dari keinginan nafsani, sehingga tidak ada keinginan untuk surga dan neraka juga. Amal perbuatannya hanya semata-mata dilakukan karena Allah swt. Jika amal perbuatan dimaksudkan untuk sesuatu yang lain selain Allah swt tentu akibatnya akan tersandung dan jatuh, itulah yang disebut Syirik. Sebab persahabatan dan kecintaan itu untuk siapa dilakukan, yang asasnya hanya untuk satu cangkir teh, atau untuk sesuatu yang disukainya saja. Manusia seperti itu pada suatu hari apabila melihat suatu perbedaan maka pada hari itu juga ia akan memutuskan hubungan dengannya. Orang yang menjalin hubungan dengan Allah swt semata-mata untuk mendapatkan anak keturunan atau untuk mendapatkan harta kekayaan atau agar berhasil dalam urusan ini dan itu maka hubungan-nya dengan Tuhan juga hanya untuk sementara waktu. Dan iman-nya juga dalam posisi bahaya. Pada suatu hari apabila keinginannya itu terkena musibah atau segala keinginannya gagal, tidak terlaksana, pada hari itu juga iman-nya akan berubah. Oleh sebab itu mukmin sejati adalah orang yang beribadah kepada Allah swt tanpa diseretai oleh sesuatu keinginan tertentu, misalnya jika keinginan saya berhasil baru saya akan beribadah.          

Pada bulan Agustus 1904 disebuah majlis dikota Lahore Hazrat Maih Mau’ud a.s. bersabda : ” Banyak sekali orang yang ikrar atas nama Tuhan hanya dimulut, jika diteliti keadaan diri mereka dengan sebaik-baiknya maka akan diketahui didalam hati mereka terpendam dahriyyat yakni atheis, tidak bertuhan. Terbukti ketika mereka sedang sibuk dalam urusan duniwi mereka lupa kepada kemarahan dan keagungan Allah swt. Oleh sebab itu sangat penting sekali bagi kalian untuk memohon ma’rifat kepada Tuhan melalui do’a. Tanpa ma’arifat itu iman dan keyakinan kalian sekali-kali tidak akan mencapai kesempurnaan. Dan hal itu akan dihasilkan apabila kalian sudah tahu bahwa akibat memutuskan hubungan dengan Allah swt adalah maut. Dikala kalian memanjatkan do’a demi terhindar dari dosa, diwaktu itu jangan kalian meninggalkan tadbir atau usaha juga. Berdo’alah demi terhindar dari perbuatan dosa dan lakukanlah juga tadbir atau usaha. Perkumpulan atau majlis yang didalamnya terdapat kegiatan-kegiatan yang menjurus kepada perbuatan dosa harus kalian tinggalkan. Hal itu sangat penting sekali diperhatikan terutama oleh para pemuda. Semua perkumpulan, majlis-majlis, pesta-pora duniawi dimana terdapat kegiatan mengakibatkan dosa harus kalian hidari. Dan jangan lalai banyak-banyaklah kalian memanjatkan do’a juga. Dan ketahuilah dengan sungguh-sungguh bahwa, sekali-kali manusia tidak dapat terhindar dari musibah-musibah yang diciptakannya bersamaan dengan nasib manusia jika tidak ada pertolongan Allah swt. Salat yang dikerjakan lima kali sehari-semalam, merupakan isyarah kearah itu. Jika tidak dilindungi dari gerak-gerik perasaan nafsani dan ingatan-ingatan yang timbul didalam hati, maka salat itu tidak dapat dikatakan salat hakiki. Salat sekali-kali bukanlah yang dikerjakan seperti ayam mematuk biji padi atau dikerjakan cepat-cepat secara adat kebiasaan saja. Salat adalah amalan yang dapat dirasakan oleh kalbu juga. Ruh meleleh kemudian jatuh keatas singgasana Ilahi disertai perasaan takut. Berusahalah sekuat tenaga untuk menciptakan perasaan pilu dan sedih didalam hati. Dan mohonlah do’a sambil merendahkan diri dihadapan Ilahi Rabbi. Supaya keburukan dan dosa yang terpendam didalam kalbu menjadi jauh. Salat seperti mitulah yang sangat berberkat. Dan jika berusaha tetap teguh seperti itu pasti ia akan menyaksikan diwaktu malam atau diwaktu siang seuntai nur jatuh didalam kalbunya. Dan keburukan yang mendorong hawa nafsu ammarahnya akan semakin berkurang. Sebagaimana seekor ular naga memiliki bisa yang membunuh demikian juga nafsu ammarah memiliki bisa yang membunuh. Siapa Yang telah menciptakannya Dialah Yang memiliki obat penawarnya. Yakni benda apapun yang telah Allah swt ciptakan yang membawa mudarat atau dosa, maka untuk pengobatannya mohonlah dari Allah swt. Namun harus dengan hati yang bersih dan ikhlas.                                                                    

Pada tahun 1904 didalam sebuah majlis yang dihadiri oleh orang-orang yang baru bai’at Hazrat Masih Mau’ud a.s. sambil memberi wejangan  telah bersabda :Untuk memanjatkan do’a manusia harus memeriksa dengan teliti keadan fikiran dan keadaan hatinya. Apakah keadaannya codong kepada perkara-perkara dunia atau kepada perkara agama. Apakah do’a-do’anya lebih banyak dipanjatkan bagi kemudahan urusan-urusan duniawi ataukah untuk urusan pengkhidmatan agama. Periksalah condong kearah mana hati kalian. Apakah kearah dunia ataukah kearah agama dan standar-nya bagaimana telah kalian buat. Beliau a.s. bersabda : Apakah do’a kalian panjatkan untuk kemudahan-kemudahan urusan dunia, untuk keperluan-keperluan dunia ataukah untuk keperluan agama? Atau untuk pengkhidmatan agama. Jadi, jika seseorang telah mengetahui keadaan dirinya diwaktu duduk atau berdiri dan diwaktu berbaring hanya memikirkan urusan duniawi saja dan tidak memikirkan urusan agama, maka ia harus menyesali dirinya sambil menangis. Jika keadaan-nya hanya memikirkan duniawi saja tidak memikirkan urusan agama, beliau a.s. bersabda, ia harus menangisi keadaan dirinya. Kita melihat banyak sekali manusia yang bersiap-siap berjuang mencari barang-barang duniawi sambil bersenang-senang dan sambil memanjatkan do’a-do’a juga, dampak yang timbul adalah, mereka menjadi sasaran beberapa macam penyakit. Diantaranya ada yang menderita sakit jiwa dan menjadi gila. Akan tetapi orang yang menyerahkan segala-galanya bagi agama Allah swt tidak pernah mensia-siakan-nya. Dan misal sebuah amal adalah seperti sebutir biji. Jika seseorang diberi sebutir biji, dia bawa kemudian ditinggalkan begitu saja tanpa dipergunakannya, lama-kelamaan akhirnya biji itu rusak dimakan ulat. Demikian juga sebuh qaol (pernyataan) tanpa disertai amal, maka lambat laun qaol itu juga hilang lenyap. Oleh sebab itu kalian harus berusaha merubah qaol atau pernyataan itu menjadi suatu amal perbuatan. Jika sebutir biji itu kalian tanam maka akan tumbuh sebatang pokok (pohon) dan jika kalian simpan biji itu akan busuk dimakan ulat.     

Pada bulan Januari 1908 dalam sebuah Majlis diwaktu sedang berbincang-bincang bersama para sahabah r.a. beliau a.s. bersabda tentang do’a : ” Do’a mempunyai dua jenis. Pertama do’a dipanjatkan secara sederhana. Yang kedua apabila manusia memanjatkan do’a itu sampai akhir kekuatannya. Yang kedua inilah yang patut disebut do’a yang hakiki. Manusia harus selalu berdo’a sekalipun ia sedang tidak menghadapi sesuatu kesulitan atau suatu keperluan yang mendesak. Janganlah berdo’a hanya ketika sedang menghadapi suatu keperluan atau kesulitan saja. Bahkan dalam keadaan biasa juga manusia harus selalu berdo’a kepada Allah swt. Sebab kita tidak tahu apa yang dikehendaki oleh Allah swt. Dan kita tidak tahu apa yang bakal terjadi dihari esok. Jadi, manusia harus berdo’a sebelum terjadi sesuatu agar kita diselamatkan oleh Allah swt. Kadangkala musibah turun secara tiba-tiba sehingga manusia tidak mendapat kesempatan lagi untuk memanjatkan do’a demi keselamatan dari padanya. Maka jika do’a telah dipanjatkan sebelumnya untuk memohon perlindungan kepada Allah swt, maka do’a itu akan membawa faedah diwaktu terjadi musibah secara tiba-tiba. Demikianlah keadaan pentingnya do’a. Didalam sebuah Majlis lain lagi Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : ”  Badan jasmani manusia mempunyai dua buah tangan dengan dua buah kaki, bekerja saling tolong menolong satu sama lain. Jika pemandangan ini nampak jelas kepada manusia, maka betapa aneh dan hairan sekali mengapa manusia merasa susah memahami consep ayat qur’an : wata’awanu ’alal birri wataqwa  artinya: Saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan didalam perkara taqwa. Yakni tangan manusia dan kaki dan semua bagian jasmani manusia bekerja sama saling tolong-menolong satu sama lain. Beliau a.s. bersabda; Mengapa harus susah memahaminya ? Aku berkata, berdo’alah kepada Tuhan untuk mencari suatu sarana dunia juga, yakni jika hendak mengetahui barang-barang dunia juga, mintalah kepada Tuhan melalui berdo’a. Sehubungan dengan saling tolong menolong itu aku tidak percaya pabila sistim pertolongan Allah swt telah dibentuk kemudian ditolak. Aku telah menjelaskan hal ini kepada kalian.Untuk mejelaskan lebih jauh lagi perkara-perkara seperti itu kepada dunia Allah swt menegakkan silsilah pengiriman para Anbiya a.s. kedunia. Allah swt Maha Kuasa sejak zaman bihari sampai sekarang jika Dia kehendaki selalu menurunkan pertolongan-Nya kepada para Anbiya untuk memenuhi setiap jenis keperluan mereka. Akan tetapi pada suatu waktu mereka terpaksa harus memohon kepada Allah swt: man anshori ilallah artinya siapa yang akan menolong-ku dijalan Allah ? Apakah mereka berkata seperti seorang pengemis meminta sesuatu kepada manusia? Tidak! Dengan berkata; man anshori ilallah merupakan satu kemegahan, mereka ingin mengajar dunia demikian untuk mendapatkan suatu sarana dunia. Apabila para Anbiya berkata ; man anshori ilallah artinya siapa yang akan menolong-ku dijalan Allah ? Sesungguhnya mereka sendiri tidak memerlukan sesuatu. Mereka ingin mengajar dunia untuk mendapatkan suatu sarana dunia atau rizki, ini bagian dari pada do’a juga. Sebab mereka beriman secara kamil terhadap Allh swt dan juga yakin sepenuhnya terhadap janji-janji-Nya yang diberikan kepada mereka. Mereka tahu betul apa yang telah dijanjikan Tuhan dengan firman-Nya : Inna lananshuru rusulana walladziina amanu fil hayatid dunya wayaoma yaquumul asyhad (40: 52) adalah sebuah janji yang pasti. Aku katakan jika Allah swt tidak menanamkan pengertian didalam hati sesorang untuk menolong, maka bagaimana dia akan dapat memberi pertolongan. Sebetulnya penolong dan pedudkung hakiki adalah Dia Zat Yang Suci yang kemegahannya telah digambarkan oleh-Nya sendiri Ni’mal Maula wa Ni’mal Wakil wa Ni’man Nasir. Dunia ini dan pertolongan-pertolongan dunia laksana mayit tidak mempunyai hakikat apa-apa bahkan lebih rendah dari pada ulat mati disisi para Anbiya Allah swt. Akan tetapi untuk memberitahu kepada dunia cara berdo’a yang penting mereka menggunakan cara ini, hakikatnya mereka yakin bahwa penjamin pekerjaan mereka itu adalah Allah swt. Dan memang hal itu sungguh benar sebagaimana firman-Nya: wahuwa yatawallas salihiin yakni Dialah Tuhan Yang memberi jaminan terhadap orang-orang salih. Allah swt memilih mereka agar pekerjaan mereka itu dizahirkan melalui orang lain juga. Hazrat Rasulullah saw biasa pergi keberbagai tempat untuk memberi pertolongan. Sebab pada waktu itu sa’at turunnya pertolongan Allah swt.          

Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda:”Do’a adalah seumpama sebuah mata air yang sangat jernih sekali. Siapa dan kapan saja mau ia dapat meminumnya. Sebagaimana ikan tanpa air tidak dapat hidup demikian juga orang-orang mukmin tidak dapat hidup tanpa do’a sebab air orang mukmin adalah do’a. Waktu yang paling tepat untuk berdo’a adalah salat. Didalam salat itu hati orang-orang mukmin mendapat ketenangan dan keni’matan yang kamil. Perkara paling besar yang dihasilkan dari do’a adalah qurub Ilahi. Dengan perantaraan do’a manusia menjadi sangat dekat dengan Allah swt dan dengan do’a itu Allah swt ditarik kearah dirinya. Apabila seorang mukmin diwaktu berdo’a timbul kekhusyuan dengan konsentrasi yang ikhlas didalam hatinya maka natijahnya Allah swt rujuk dengan kasih sayang kepadanya. Dan Allah swt menjadi Mutawalli atau Penjamin baginya. Jika manusia merenungkan suasana kehidupannya maka dia akan sadar  bahwa tanpa jaminan Allah swt kehidupan manusia menjadi sangat sulit dan sempit. Cobalah tengok keadaan manusia apabila sudah sampai batas usia dewasa dan sudah dapat memahami dan merasakan keadaan susah dan senang maka masa kegagalan, kesulitan, kesusahan, kegelisahan dan masa timbulnya macam-macam musibah terhadap dirinya mulai dihadapi-nya untuk jangka waktu yang cukup panjang. Dan untuk menghindarinya ia berusaha melakukan berbagai macam cara, yakni melaui harta benda, melalui hubungan dengan penguasa pemerintah, atau melalui bermacam tipu daya. Apabila musibah mulai menimpa dunia-nya, maka apa yang dilakukan-nya? Jika ia memiliki harta atau kekayaan dia pergunakan untuk menyelamatkan dirinya. Jika ia memiliki hubungan dengan pegawai tinggi dalam pemerintah, ia pergunakan hubungan baiknya itu untuk melepaskan diri dari musibah yang dihadapi. Atau dengan berbagai macam tipu-daya agar ia terlepas dari suatu kesulitan atau musibah yang menimpa dirinya. Akan tetapi sangat sulit baginya untuk berhasil. Kadangkala akibat kesusahan dan kesulitan yang tidak dapat diatasinya ia mengambil jalan pintas, nekad dengan bunuh diri. Jika semua kesulitan, kegelisahan dan kebingungan orang-orang duniawi itu dibandingkan dengan semua jenis kesulitan, kesusahan, kegelisahan yang dihadapi oleh para Anbiya atau yang dihadapi oleh Jema’at Allah swt, tidak ada artinya sedikitpun. Kesulitan-kesulitan itu tidak dapat menggoyahkan pendirian kelompok orang-orang suci itu atau tidak menjadikan mereka sedih hati. Kesulitan-kesulitan yang menimpa para Anbiya dan para Auliya tdak membuat iman mereka goyah atau menjadikan mereka sedih hati. Tidak mempengaruhi perasaan senang hati mereka. Sebab berkat do’a-do’a mereka dimanapun mereka berada selalu dinaungi Allah swt. Sebagaimana seorang yang telah memiliki hubungan sangat erat dengan seorang Hakim yang berkuasa dan memberi jaminan akan melindunginya, maka dibandingkan dengan orang biasa lainnya dia akan merasa tenang dikala tiba-tiba terjadi sesuatu kasus yang menyusahkan. Jadi, orang-orang mukmin yang memiliki hubungan lebih erat dan kuat dengan Ahkamul Hakimin, Tuhan Yang Maha Perkasa sedikitpun tidak akan merasa gelisah dikala menghadapi musibah-musibah yang menimpa mereka. Musibah-musibah yang menimpa para Anbiya a.s. jika sepuluh peratus (10 %) saja dari padanya menimpa orang-orang awam maka pasti lenyap kekuatan hidup mereka. Para Anbiya itu apabila datang kedunia untuk memperbaiki akhlaq manusia maka dunia sendiri menjadi musuh mereka dan jiwa raga mereka menjadi sasaran kekejaman musuh-musuh mereka. Namun bagaimanapun kerasnya bahaya yang mengancam jiwa mereka tidak dapat mempengaruhi ketenangan perasaan hati mereka. Jika orang biasa mempunyai satu orang musuh saja maka sekejap-pun perasaannya tidak merasa aman dari ancaman musuhnya itu. Akan tetapi musuh-musuh para Anbiya itu terdiri dari beberapa negara bersatu padu melawan mereka namun mereka menjalani kehidupan dengan aman dan tenteram. Mereka menahan semua kesusahan dan ancaman itu dengan hati dingin (sejuk) dan sabar. Perasan hati diingin dan kesabaran itu adalah mukjizat dan keramat bagi mereka. Istiqamat Hazrat Rasulullah saw ratusan kali lebih besar dari mukjizat dan keramat para Anbiya itu dan ia merupakan satu mukjizat bagi beliau saw. Kepada beliau saw telah ditawarkan dukungan semua kabilah didalam negeri, harta kekayaan, pemerintahan, kebesaran duniawi, perempuan-perempuan cantik-molek semuanya bakal diserahkan dengan syarat beliau saw berhenti mentablighkan kalimatullah, laa ilaaha illallah. Akan tetapi sambil menolak semua tawaran itu YM Hazrat Rasulullah saw bersabda : Jika perbuatan aku ini atas kehendak diriku maka semua tawaran itu akan aku terima. Semua yang sedang aku lakukan ini adalah perintah dari Tuhan-ku. Dan dari sisi lain sabar dan tabah menghadapi semua jenis kesulitan adalah mukjizah diluar batas kekuatan. Dan semua kekuatan dan kesabaran dapat dihasilkan melalui do’a-do’a yang Allah swt berikan kepada orang-orang mukmin. Do’a-do’a seram dan menakutkan yang dipanjatkan orang-orang mukmin banyak menghancurkan serangan-serangan jahat orang-orang Kaffir. Kisah perjalanan Hazrat Umar r.a. untuk membunuh Hazrat Rasulullah saw mungkin sudah anda sekalian dengar. Abu Jahhal telah mengumumkan barangsiapa yang dapat membunuh Hazrat Rasulullah saw ia akan berhak menerima hadiah dan penghargaan yang sangat besar. Sebelum Hazrat Umar masuk Islam telah membuat perjanjian dengan Abu Jahhal dan bersedia untuk membunuh Hazrat Rasulullah saw. Beliau mencari kesempatan yang tepat dan baik untuk menyempurnakan niyat itu. Telah diketahui beliau bahwa Hazrat Rasulullah saw tengah malam biasa melakukan salat disebuah ruangan didalam Ka’bah. Pada suatu malam Hazrat Umar sudah berada disekitar Ka’bah. Didalam kesunyian malam mulai terdengar suara laa ilaaha illallah dari arah hutan. Hazrat Umar telah berniat untuk membunuh Hazrat Rasulullah saw diwaktu beliau saw sedang asyik berdo’a diwaktu sujud. Diwaktu Hazrat Rasulullah saw sedang sujud berdo’a sambil merintih dengan suara yang memilukan hati dan beliau saw membaca zikir sambil memuji kesucian Ilahi. Kalbu Hazrat Umar r.a.pun gemetar dan meleleh. Semua keberanian dan semua upaya yang telah diatur sebelumnya tiba-tiba hilang lenyap. Tangan beliau menjadi lemah dan malas mengayunkan pedang untuk membunuh beliau saw. Setelah selesai salat Hazrat Rasulullah saw mulai meninggalkan Ka’bah berjalan menuju rumah beliau, Hazrat Umar-pun mengikuti beliau dari belakang. Setelah Hazrat Rasulullah saw mengetahui siapa gerangan orang yang sedang mengikuti beliau dibelakang itu mulai bertanya: ” Hai Umar !! Apakah engkau tidak akan berhenti mengejar-ngejar-ku? Karena mendengar do’a yang menakutkan Hazrat Umar berkata:”Hazrat !! Saya telah membuang tekad untuk membunuh tuan! Saya mohon janganlah tuan berdo’a buruk bagi saya.” Tidak lama kemudian Hazrat Umar r.a. setelah masuk Islam selalu menceritakan bahwa mulai malam itulah timbul kecintaan didalam hati saya terhadap Islam.       
                                
Didalam suatu Majlis ketika Hazrat Masih Mau’ud a.s. berbincang-bincang bersama para sahabat r.a. beliau bersabda: ” Musuh-musuh melakukan keberatan terhadap setiap perkara dan melemparkan tuduhan kepada kita disebabkan rasa benci dan permusuhan, sebab hati mereka sudah rusak. Dan orang yang hatinya sudah rusak maka setiap penjuru nampak gelap kepadanya. Orang-orang bodoh berkata: Orang ini (beliau a.s.) kerjanya hanya duduk-duduk saja tidak ada sesuatu yang dikerjakannya. Namun mereka tidak berfikir tentang Masih Mau’ud bahwa, dimanapun tidak tertulis ia akan mengangkat pedang dan akan berperang. Melainkan yang tertulis adalah bahwa : Kafir akan mati karena hembusan nafas Almasih. Yakni melalui do’a Almasih semua pekerjaan akan sempurna. Jika aku tahu bahwa dengan keluarnya aku dan kepergian kekota-kota akan membawa banyak faedah, maka satu sa’atpun (satu manit-pun) aku tidak akan duduk disini. Akan tetapi aku tahu selain kaki-ku akan terpleset, tidak ada faedahnya sedikitpun. Dan semua maksud-maksud pekerjaan yang ingin kami hasilkan akan dapat disempurnakan hanya melalui do’a. Didalam do’a terdapat kekuatan yang sangat besar. Beliau a..s. bersabda: ” Pada suatu ketika seorang Raja pergi untuk menaklukkan suatu negara lain. Diperjalanan seorang fakir telah memegang tali kendali kudanya dan berkata kepada Raja itu: ” Jangan engkau pergi kedepan. Jika tidak aku akan memerangi engkau. Raja terperanjat keheranan dan bertanya kepada fakir itu : Kamu seorang fakir-miskin tidak punya apa-apa. Bagaimana kamu akan berperang dengan aku. Fakir itu menjawab: Aku akan berperang dengan kamu menggunakan senjata do’a yang aku panjatkan diwaktu subuh. Raja itu berkata: ” Kalau begitu aku tidak dapat melawan kamu. Setelah berkata demikian Raja itu kembali pulang. Pendeknya Allah swt menanamkan banyak kekuatan didalam do’a. Allah swt berulang kali memberitahu melalui ilham kepada-ku. Bahwa : ”Apa yang akan terwujud hanya melalui do’a akan terwujud.” Senjata kita hanyalah do’a. Dan aku tidak mempunyai senjata lain selain do’a. Apa yang kita minta sambil menyendiri, maka Allah swt menzahirkannya kepada kita. Dizaman para Anbiya yang sudah lampau banyak para penentang yang dihukum melalui tangan para Anbiya itu. Akan tetapi Allah swt tahu bahwa kita ini lemah, tidak berdaya oleh sebab itulah semua pekerjaan dilaksanakan oleh tangan-Nya sendiri. Didalam Islam sekarang hanya perkara itulah yang tinggal, namun para Mullah tidak dapat memahaminya. Jika perang diwajibkan atas kita maka untuk itu pasti semua peralatan disediakan. Jika do’a-do’a kita sampai kepada suatu sasaran maka para pendusta akan hancur-binasa dengan sendirinya. Musuh dungu yang berhati hitam kelam berkata kepada kami : Kami selain tidur dan makan-minum tidak ada lagi yang dikerjakan. Namun kami yakin bahwa tidak ada senjata yang lebih tajam dari pada do’a. Mungkin mereka faham kepada perkara ini, sekarang dengan jalan bagaimana Allah swt akan memberi kemajuan dan kemenangan terhadap Agama ini.             Sekarang saya sampaikan beberapa contoh do’a-do’a. Semoga Allah swt memberi taufq kepada kita untuk memahami semua do’a-do’a ini dan semoga kita mampu menerapkannya didalam kehidupan kita. Semoga perhatian kita selalu terpusat kepada Zat Allah swt. Semoga kita dalam keadaan susah maupun senang selalu memahami pentingnya merebahkan diri dan memohon do’a dihadapan Allah swt. Semoga kita setelah menyatakan bai’at kepada Hazrat Masih Mau’ud a.s. memahami cara-cara menunaikan kewajiban dan tanggung jawab apa saja yang dipikulkan diatas pundak kita. Untuk itu semua semoga Allah swt memberi taufiq kepada kita semua. Amin !! Semoga kita menjadi orang-orang yang selalu mendahulukan kepentingan agama diatas kepentingan dunia dan untuk itu selalu memanjatkan do’a.  Pada hari-hari ini perlawanan dan penganiayaan lebih keras sedang dilakukan oleh para penentang Jema’at. Maka untuk perlindungan dan keselamatan Jema’at kita harus banyak-banyak memanjatkan do’a kepada Allah swt. Semoga Allah swt menimpakan kembali setiap keburukan kepada mereka. Dan semoga Dia menjaga dan memelihara Jema’at setiap waktu. 

Allahumma inna naj’aluka fi nuhurihim wan’uzubika min syururihim. Wahai Tuhan kami berilah kekuatan untuk melawan musuh-musuh dan berilah perlindungan kepada kami dari kejahatan mereka.            
                                                                    
Robbi inni mazlumun fantasir Hai Tuhanku ! Aku telah dizalimi Engkaulah yang membalas kezaliman mereka itu.               

Robbi kullu syaiin khodimuka robbi fahfazni wansurni warhamni. Wahai Tuhyan-Ku, segala sesuatu adalah hamba Engkau dan semua takluk kepada Engkau. Lindungilah daku, tolonglah daku dan kasihanilah daku.            
          
Do’a khas Hazrat Masih Mau’ud a.s. yaitu : Rabbi tawaffani musliman wa alhikni bissalihin Wahai Tuhanku, wafatkanlah daku dalam keadaan menyerahkan diri dan gabungkanlah daku bersama orang-orang saleh, semoga kita selalu bersama-sama orang solihin.    
                 
Semoga Allah swt mengabulkan do’a-do’a kita semua. Semoga kita menjalani kehidupan diatas jalan seperti yang dikehendaki oleh Hazrat Masih Mau’ud a.s. Amin ! (alih bahasa Maulana Hasan Basri)
    











Khutbah Jumah 13 Mei 2011 : Status Kenabian Mirza Ghulam Ahmad a.s.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

نَحْمَدُهُ وَنُصَلِّى عَلَى رَسُوْلِهِ الْكَرِيْمِ  وَعَلَى عَبْدِهِ اْلمَسِيْحِ اْلمَوْعُوْدِ


Khutbah Jum'ah
Hazrat Amirul Mu'minin Khalifatul Masih V atba
13 Mei 2011 di Masjid Baitul Futuh, London UK

Tentang : Status Kenabian Mirza Ghulam Ahmad a.s. dan Kemenangan-Kemenangan yang Dijanjikan Allah


 
Setelah membaca dua kalimah syahadah dan menilawatkan surat Alfatihah Huzur atba bersabda :  Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda :  Didalam Kitab Nuzulul Masih Hazarat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “ Sejak permulaan Allah swt telah menetapkan undang-undang-Nya bahwa, Dia dan Rasul-rasul-Nya akan selalu menang. Oleh karena aku seorang Rasul-Nya atau Utusan-Nya, tanpa membawa syari’at baru, tanpa membawa nama baru, melainkan aku datang atas nama Nabi Yang Mulia, Khatamul Anbiya saw dan mencintai-nya serta menjadi cerminan dari pada wujud-nya. Maka aku katakan, sejak dahulu yakni sejak zaman Nabi Adam a.s. sampai kepada zaman Hazrat Rasulullah saw makna ayat tersebut selalu sempurna kebenarannya. Sekarang juga ayat ini akan sempurna kebenarannya bagi mendukung kebenaran diriku.” Ayat yang Hazrat Masih Mau’ud a.s. kutip adalah firman Allah swt: Kataballahu laaghlibanna anaa warusuli, Innallaha qawiyyun aziz.  
        
Beberapa hari yang lalu saya menerima sepucuk surat dari seseorang yang tinggal di Pakistan. Walaupun saya tidak sepakat dengan penulis tersebut, sebab apa yang dia uraikan itu tidak dapat dianggap sebagai pendapat umum. Dia menulis bahwa didalam literatur dan buku-buku Jema’at sangat diperlukan banyak penjelasan bahwa Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Masih Mau’ud a.s. adalah seorang Nabi Allah swt, sebab banyak sekali orang-orang merasa ragu menyebut beliau sebagai Nabi. Menurut pendapat saya penulis surat itu telah berburuk sangka terhadap orang-orang Jema’at lainnya, dan pendapat-nya ini tidak dapat dianggap mewakili pendapat umum. Mungkin saja penulis surat itu sepergaulan dengan orang-orang yang mempunyai pemikiran serupa itu disebabkan pengaruh beberapa keadaan. Mereka yang tidak banyak jumlahnya itu telah dikuasai oleh masalah kebendaan duniawi. Mungkin saja mereka telah menjadi sasaran pemikiran mereka sendiri. Dan mungkin mereka tidak pernah melihat tulisan-tulisan Hazrat Masih Mau’ud a.s. tentang itu atau mungkin mereka tidak pernah membacanya, bahkan mungkin saja mereka tidak mendengar khutbah-khutbah saya. Sekalipun saya selalu berusaha dengan beberapa macam cara untuk memperkenalkan atau menjelaskan kedudukan Hazrat Masih Mau’ud a.s. Bagaimanapun, jika seseorang mempunyai pikiran demikian didalam hatinya, maka setiap orang yang mengaku dirinya Ahmady, harus jelas bahwa Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Masih Mau’ud a.s. adalah seorang Nabi Allah swt sesuai dengan nubuatan Hazrat Rasulullah saw. Demikian juga jika ada orang yang tinggal disuatu tempat didunia yang mengaku dirinya Ahmady dan mempunyai pikiran demikian didalam hatinya, ia harus membuang dan menjauhkannya. Sebagaimana Hazrat Masih Mau’ud a.s. sendiri telah bersabda yang telah saya jelaskan bahwa beliau a.s. adalah seorang Rasul, tanpa syaria’at baru dan dalam mengikuti Nabi Karim dan Khotamul Anbiya Saw dan atas nama beliau saw, sesuai dengan nubuatan didalam ayat Alqur’anul Karim Surah Al Jum’ah ayat 4 sebgai berikut : yakni Dia akan membangkitkannya ditengah-tengah suatu golongan lain dari antara mereka yang belum pernah bergabung dengan mereka. Dan Dialah Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana. (Al Jum’ah : 4)

Sejauh mana dengan masalah para Ahmady di Pakistan dan di Indonesia, mereka sedang menghadapi penganiayaan yang sangat keras sekali disebabkan mereka telah beriman bahwa Hazrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi Allah swt. Oleh sebab itu selain dari beberapa gelintir orang yang telah mengambil jalan orang munafiq, secara umum para Ahmady yang tinggal di Pakistan tidak dapat dikatakan bahwa mereka tidak mengaku Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Masih Mau’ud a.s. sebagai Nabi. Bahkan secara berlebihan para menentang Jema’at Ahmadiyah menuduh bahwa, na’uzu billah, kita percaya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Masih Mau’ud a.s. adalah nabi terakhir. Padahal seorang Ahmady-pun idak pernah membayangkan bahwa selain Hazrat Rasulullah saw boleh datang seorang Nabi pembawa syari’at baru. Atau ada orang lain yang dapat mengungguli kedudukan beliau saw. Apa yang dinyatakan oleh orang-orang Ahmady hanyalah keluhuran dan keistimewaan Hazrat Rasulullah saw semata. Dan termasuk iman dan keyakinan orang-orang Ahmady bahwa Allah swt telah memberi kedudukan yang sangat tinggi kepada beliau saw dan Allah swt telah memberi martabat demikian rupa kepada beliau saw, sehingga terhadap orang yang beriman kepada beliau, yang terbenam dalam kecintaan kepada beliau dan menjadi pengikut sejati beliau dan yang merasa bangga menjadi ummat beliau, kepadanya Allah swt memberi kedudukan nubuwwat (kenabian). Tidak ragu lagi bahwa Hazrat Nabi Muhammad saw adalah Khatamun Nabiyyin dan karena patuh-tha’at mengikuti beliau saw Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. adalah Nabi Allah swt. Jika kita tidak beriman kepada Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. sebagai Nabi Allah, maka pengakuan kita tentang kebangkitan Islam dan kemenangan Islam akan diraih melalui Ahmadiyyat yakni Islam hakiki adalah salah. Sebab janji Allah swt mengenai kemenangan Islam diakhir zman akan diraih oleh seorang Nabi atau Rasul akhir zaman, bukan dengan seorang Mujaddid atau seorang Muslih, sebagaimana telah difirmankan dengan jelas didalam ayat tersebut diatas. Kemenangan Islam diakhir zaman akan dapat diraih apabila orang-orang Mukmin bersama Jema’at betul-betul sesuai dengan yang dijanjikan Tuhan dalam ayat berikut : yakni dari antara golongan lain yang belum pernah bergabung dengan mereka.

Oleh sebab itulah Hazrat Rasulullah saw telah menegaskan terhadap orang-orang mukmin dengan nasihat bahwa : “Apabila Imam Mahdi sudah datang maka kalian harus pergi berjumpa dengannya dan sampaikan salam-ku kepadanya sekalipun untuk menjumpainya kalian harus merangkak keatas bukit salju.” Mengapa harus melakukan demikian, sebab dengan itu iman kalian menjadi kuat dan tangguh dan kemenangan Islam yang akan diperjuangkan bukan dengan pedang atau dengan senjata melainkan dengan menggunakan dalil-dalil. Jika kalian mengambil bagian didalam perjuangan itu maka kalian akan menjadi para pengikut-ku yang sesungguhnya, kalian akan menjadi orang-orang yang akan meraih keridhaan Allah swt dan kalian akan menjadi orang-orang mukmin yang sejati. Jadi, orang Ahmady beriman kepada Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. sebagai Imam Mahdi dan Masih Mau’ud dan menggabungkan diri dengan beliau agar iman menjadi lebih kuat kepada Allah swt dan Rasulullah-Nya saw dan agar dapat menyaksikan kemenangan Islam yang dijanjikan. Jika kita percaya bahwa Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. bukan seorang Nabi atau Rasul, maka tentu Nizam Khilafat juga tidak akan ada. Sebab wujud Khilafat sangat erat kaitannya dengan Nubuwwat (kenabian). Dan Khilafat Ahmadiyah ini adalah Khiklafat ála minhajin nubuwwat. Beliau a.s. adalah Kahatamul Khulafa. Dan karena kedudukan khatamul khulafa itulah beliau mendapat derajat nubuwah atau kenabian. Dan setelah beliau atau melalui beliau silsilah Nizam Khilafat telah berdiri. Jadi, rangkaian Nizam khilafat didalam Jema’at Ahmadiyah kaitannya sangat erat dengan pengakuan dan keyakinan kita bahwa Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Masih Mau’ud a.s. adalah seorang Nabi.                                                              
Pada suatu ketika beberapa orang telah hadir dihadapan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Masih Mau’ud a.s. untuk bai’at. Demi memperkuat iman mereka itu beliau a.s. telah memberi penjelasan berbagai macam perkara dengan sangat rinci sekali. Yang intisarinya sebagai berikut : “ Hanya dimulut saja menyatakan bai’at bukanlah taubah, bai’at dan taubah harus ikrar dengan sepenuh hati. Jika hal itu sudad dipenuhi, maka sempurnanya janji-janji Allah swt akan dapat disaksikan oleh kalian. Orang-orang yang bai’at menghendaki agar mereka dapat menciptakan perobahan suci didalam hati sanubari mereka. Dan pemandangan seperti ini sekarang juga orang-orang yang bai’at itu dapat menyaksikannya. Keadaan ruhaniyat mereka akan semakin meningkat. Banyak orang-orang yang telah bai’at menceritakan keadaan diri mereka  didalam surat-surat mereka, bahkan perobahan yang timbal didalam diri mereka, dapat dirasakan oleh orang lain juga yang menyaksikannya. Anak-anak dan isteri mereka juga merasa hairan dahulu suami/ayah mereka keadaannya begitu sekarang telah berobah menjadi begini baik. Mereka hairan apa yang telah membuat dirinya berobah. Sesungguhnya itulah yang disebut bai’at sejati yang dapat membuat perobahan suci pada diri seseorang. Selain itu beliau a.s. memberi nasihat kepada orang-orang yang baru bai’at itu bahwa, jangan melakukan bai’at dicampuri syarat untuk mendapatkan barang-barang duniawi, melainkan untuk menciptakan keadaan lebih baik didalam setiap amal perbuatan kalian. Perhatikanlah nanti Allah swt tidak akan membiarkan tanpa memberi pembalasan yang baik kepada kalian. Jangan merasa gelisah setelah melakukan bai’at apabila banyak kesulitan yang dihadapi, lambat-laun mukmin hakiki akan selalu menang dan unggul diatas musuh-musuhnya. Sebab Allah swt telah berjanji : “ Aku dan Rasul-rasul-Ku pasti akan menang.” Bersabda : “ Senjata kita untuk meraih kemenangan adalah istighfar, taubah, pengenalan ilmu-ilmu pengetahuan agama, setiap sa’at memusatkan perhatian terhadap keagungan Allah swt dan menunaikan salat lima waktu. Salat adalah kunci bagi kemaqbulan do’a-do’a. Apabila kalian menunaikan salat berdo’alah dengan khusyu dan jangan lengah, dan hindarkanlah diri dari setiap keburukan apakah yang berkaitan dengan hak-hak Allah swt ataupun berkaitan dengan hak-hak sesama manusia.” Kita harus menaruh perhatian sepenuhnya terhadap nasihat-nasihat beliau a.s. yang sangat penting itu. Nasihat-nasihat itu bukan hanya bagi para anggauta baru bai’at saja, melainkan bagi setiap orang Ahmady, dan berapa lama seseorang sudah masuk Jema’at Ahmadiyah ia harus lebih maju dalam keimanan. Dan ia harus berusaha lebih giat dari pada pendatang baru masuk Jema’at dalam meningkatkan iman. Setelah itu apa yang harus dia lakukan, ia harus memohon ampunan dari segala dosa dan kesalahan dimasa lampau maupun dosa-dosa dimasa yang akan datang, memohon perlindungan kepada Allah swt, supaya jangan melakukan perbuatan dosa lagi. Brtaubah artinya menyesal dari perbuatan salah yang dikerjakan dimasa lampau kemudian dimasa yang akan datang bertekad keras untuk menyelamatkan diri dari padanya. Kemudian tetap berpegang teguh diatas tekad itu sambil memohon pertolongan dari Allah swt. Kemudian harus berusaha mengetahui Ilmu pengetahuan agama, yang pertama dan paling utama adalah pengetahuan Kitab Suci Alquranul Karim, kemudian diikuti pada zaman sekarang ini dengan pengetahuan dari buku-buku Hazrat Masih Mau’ud a.s., tulisan-tulisan beliau dan risalah-risalah beliau a.s. yang berdasar kepada Alqur’an dan Ahadis Rasulullah saw, yang membuktikan keindahan dan keagungan ajaran-ajaran Islam kepada dunia dengan dalil-dalil dan bukti-bukti yang kongkrit. Tidak ada yang dapat menandinginya, sebab Islam adalah agama yang kamil dan paripurna. Jika keagungan Tuhan menjadi tumpuan dan perhatian kita, artinya jika kita beriman dan yakin dengan sesungguhnya bahwa Tuhanlah Pencipta setiap benda didunia ini dan Yang menyempurnakan setiap keperluan makhluk-makhluk-Nya dan benda apapun yang ada diatas langit dan bumi, semua berada didalam pengetahuan-Nya secara kamil dan berada dibawah kekuasaan-Nya, Dialah Rab Kita Yang ditangan-Nya terletak hidup dan mati kita. Kita yakin Dia hadir disetiap tempat dan Dia menyaksikan kita setiap sa’at. Maka kita tidak dapat berbuat apapun yang bertentangan dengan kehendak dan keinginan-Nya. Dan apabila semua keagungan Allah swt ini sudah meresap didalam kalbu kita, maka fikiran untuk menunaikan kewajiban salat lima waktu setiap hari akan timbul dengan sendirinya didalam kalbu kita, dan dengan sendirinya pula kalbu kita akan selalu runduk dihadapan Tuhan untuk memanjatkan do’a-do’a kepada-Nya. Berkat eratnya hubungan dengan Allah swt itu akan timbul keyakinan didalam kalbu kita terhadap sempurnanya janji-janji Allah swt. Mengenai salat telah disabdakan bahwa ia adalah kunci kemaqbulan semua do’a-do’a. Salat adalah do’a yang dapat mendekatkan diri manusia kepada Tuhan dan dapat menghidupkan hubungan manusia dengan-Nya. Jadi, salat dikerjakan dengan tertib, dengan penuh perhatian serta tepat pada waktunya adalah satu ajaran Alqur’an juga dan Hazrat Rasulullah saw juga telah menegaskannya demikian terhadap ummat beliau saw. Demikian juga Hazrat Masih Mau’ud a.s. telah menegaskannya pula terhadap hal itu. Dan apabila manusia sudah mengamalkan semua hal itu, maka perhatiannya baik terhadap kewajiban memenuhi hak-hak Allah swt maupun terhadap kewajiban memenuhi hak-hak sesama manusia juga akan tetap tercurah. Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “ Jika perubahan-perubahan itu telah diciptakan didalam diri kalian, maka kalian akan mendapat bagian didalam kemenangan yang telah ditaqdirkan.” Tidak terdapat keraguan sedikitpun didalam hati kita tentang akan tercapainya kemenangan yang telah dijanjikan oleh Allah swt kepada beliau a.s. Akan tetapi sambil memberi nasihat kepada kita beliau bersabda ; “ Itulah senjata-senjata bagi mencapai kemenangan kita, jika kalian berusaha menggunakan-nya tentu kalian akan memperoleh bagian dalam kemenangan itu. Jika tidak, kalian memang secara zahirnya orang-orang Ahmady akan tetapi kalian bukan Ahmady yang pandai beramal, hanya bicara saja dimulut.”  Jadi, setiap orang Ahmady harus berusaha menjadi para Ahmady yang pandai beramal, yang siap sedia menjadi bagian dari kegiatan Hazrat Masih Mau’ud a.s. dalam  memperjuangkan kemenangan Islam. Allah swt telah memberi khabar-khabar suka dibeberapa tempat kepada Hazrat Masih Mau’ud a.s. mengenai kemenangan itu. Dan setiap matahari terbit diatas Jema’at ini kita menyaksikan sempurnanya khabar-khabar suka itu. Begitu kerasnya perlawanan secara kejam dan terus-menerus dilancarkan terhadap Jema’at Ahmadiyah, jika seandainya Jema’at Ahmadiyah ini hasil karya manusia, bukan didirikan atas perintah Tuhan, maka jangankan untuk maju beberapa langkah, satu sa’at-pun Jema’at ini tidak mungkin dapat hidup. Akan tetapi ingat, Allah swt telah berjanji terhadap Jema’at ini, bagaimanapun kerasnya semua perlawanan, semua kesulitan mereka lancarkan, Jema’at ini akan terus maju diatas jalan kemenangan. Allah swt telah memberitahu Hazrat Masih Mau’ud a.s. tentang kemenangan-kemenangan itu melalui Ilham-ilham-Nya. Kita harus selalu ingat setiap waktu bahwa khabar-khabar suka Allah swt itu pasti benar. Dan telah ditaqdirkan Jema’at Hazrat Masih Mau’ud a.s. pasti menang. Akan tetapi apabila Allah swt memberi khabar-khabar suka tentang kemenangan, maka tanggung jawab orang-orang beriman-pun akan semakin meningkat. Ada beberapa tanggung jawab tertentu diatas pundak orang-orang beriman yang harus dilaksanakan. Allah swt berfirman : me teri tabligh ko zamin ke kinarunk tak phonchaungga. Artinya : Akan Aku sampaikan tabligh engkau sampai kepelosok-pelosok dunia. Sungguh! Tuhanlah yang sedang melaksanakan pekerjaan tabligh ini. Dan pada zaman ini Allah swt telah menjadikan MTA sarana untuk kegiatan tabligh itu. Jadi, sekarang MTA sedang menyempurnakan firman Tuhan itu, menyampaikan tabligh Jema’at ini keseluruh pelosok dunia. Akan tetapi jika kita memasang perangkat MTA lalu duduk malas dihadapannya, tidak berusaha membuat rekaman sesuatu program, tidak ada rekaman berbagai macam kegiatan tabligh yang dibuat, atau kegiatan-kegiatan lainnya itu lalu kita tidak memanfa’atkannya juga, berarti kita membuat diri kita mahrum dan tidak mendapat faedah dari pada sarana yang telah Tuhan sediakan itu. Jika kita tidak mengambil faedah dari literatur yang sangat luas yang telah disediakan oleh Hazrat Masih Mau’ud a.s. untuk disampaikan kepada orang lain atau disebar luaskan kepada masyarakat maka berarti kita tidak menunaikan kewajiban kita. Akibatnya kita akan menjadi orang berdosa. Walaupun demikian keadaan kita, pekerjaan Allah swt ini akan berjalan terus. Kita menjadi orang berdosa jika tidak memanfaatkan sarana yang telah disediakan oleh Allah swt. Tidak pernah terjadi diatas dunia ini Nabi beserta para pengikutnya meninggalkan semua pekerjaan setelah menerima banyak perjanjian dari Allah swt, kemudian duduk bermalas-malas. Siapakah yang lebih dicintai oleh Allah swt selain Nabi Muhammad saw? Akan tetapi ketika beliau saw diberi kabar oleh Allah swt tentang kemenangan diatas pemerintahan Kaisar Kisra, maka para sahabah juga terpaksa berusaha keras untuk itu dan banyak mengeluarkan pengurbanan juga untuk itu. Dahulu musuh-musuh Islam menganggap orang-orang Islam sangat lemah sekali dan berusaha hendak menghancurkan mereka. Padahal, sekalipun dunia menganggap mereka tidak berarti apa-apa, namun para sahabat Rasulullah saw yang memiliki kedaulatan iman yang kuat dan tangguh, banyak bertaubah dan terus-menerus membaca istighfar, yang menunaikan kewajiban salat-salat dengan tekun dan sangat merendahkan diri, yang telah menanamkan keagungan Allah swt didalam kalbu-kalbu mereka, maka kebesaran dan keistimewaan duniawi dan kekuasaan serta kedaulatan raja-raja tidak mempunyai hakikat apapun dihadapan mereka. Untuk menyempurnakan janji-janji mereka kepada Allah swt demi menunaikan kewajiban, mereka telah menghancurkan Kaisar Kisra. Pemerintahan-nya telah mereka hancur-leburkan hingga porak-poranda. Mereka telah berhasil dengan gemilang menjalankan tugas setelah mereka berjuang dengan giat dan semangat disertai dedikasi dan pengurbanan yang ikhlas. Mereka yakin dan beriman bahwa Zat Tuhan Yang Maha Kuasa telah menciptakan kekuatan iman didalam kalbu mereka, sekalipun mereka itu atau Raja-raja itu memiliki kekuatan, kebesaran dan kedaulatan duniawi, mereka memiliki jumlah rakyat cukup banyak, akan tetapi benda-benda itu semua tidak dapat menggentarkan hati kami, sebab Tuhan telah berjanji bahwa semua itu akan kami peroleh dari pada-Nya. Kami hanya berusaha menjalankan tugas dan Tuhan melimpahkan hasilnya kepada kami. Jika perjuangan ini telah berhasil melalui tangan kami tentu kami akan meraih keridhaan dari Allah swt.    
                                    
Jadi, keadaan semangat dan dedikasi serupa itulah yang harus dimiliki oleh Jema’at kita sekarang. Kita harus yakin sepenuhnya bahwa janji-janji Allah swt kepada Hazrat Masih Mau’ud a.s. pasti akan sempurna semuanya. Jika untuk menyempurnakan janji-janji itu kita ikut berjuang didalamnya, jika kita betul-betul faham terhadap pentingnya tanggungjawab kita, maka kita akan berhasil meraih keridhaan Allah swt. Setiap orang Ahmady, setiap karyawan didalam Jema’at harus faham terhadap kewajiban itu dan harus berusaha mengamalkannya. Sekarang saya ingin mengemukakan beberapa prediksi Hazrat Masih Mau’ud a.s. dihadapan anda semua. Didalam Kitab Tadzkiratus Syahadatain Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “ Hai manusia sekalian! Dengarlah khabar ghaib ini yang datang dari Tuhan Yang telah menciptakan langit dan bumi. Dia akan menyebar-luaskan Jema’at ini keseluruh negeri didunia. Dia akan memberi kemenangan kepada mereka diatas setiap orang dengan dalil dan argumentasi. Hari yang ditunggu itu sudah tiba bahkan sudah sangat dekat sekali bahwa didunia akan ada hanya satu Agama ini saja yang akan dikenang dengan penuh hormat. Tuhan akan menurunkan barkat-barkat-Nya diatas Agama dan Jema’at ini sangat luar biasa. Terhadap setiap orang yang berusaha untuk menghapuskan-nya akan digagalkan. Dan kemenangan ini akan tetap berlangsung selamanya sampai Hari Kiamat.” Itulah keyakinan yang pasti yang telah beliau umumkan. Dan beliau a.s. tetap teguh diatas keyakinan itu, sebab Allah swt telah menegaskan bahwa Dia akan lakukan itu semua, tidak ada keraguan sedikitpun pasti kemenangan Islam akan diperoleh hanya melalui Jema’at Ahmadiyah. Dan pasti akan diperoleh, insya Allah !! Dan kita saksikan bagaimana Allah swt telah menyempurnakan khabar ghaib itu dan Dia sedang menyempurnakan terus-menerus. Kutipan tersebut ditulis tahun 1903. Telah disebutkan bahwa pada tahun itu Jema’at Ahmadiyah mulai dikenal diluar negara Hindustan (India) namun tidak dikatakan bahwa Jema’at sedang berkekmbang diluar negara Hindustan. Akan tetapi sekarang, dengan karunia Allah swt, perwakilan Jema’at Ahmadiyah telah berdiri di 198 Negara. Kurang-lebih disetiap Negara didunia dengan cara bagaimanapun Jema’at Ahmadiyah telah diperkenalkan. Jadi, Tuhan Yang Maha Kuasa dengan perantaraan Ahmadiyyat telah menyampaikan atau sedang giat menyampaikan amanat Islam diseluruh dunia, Dia-lah juga Yang akan menyempurnakan khabar ghaib yang lainnya. Dimana timbul perlawanan terhadap Jema’at Ahmadiyah disana berkat perlawanan itu sendiri menjadi sarana bagi penyampaian amanat Jema’at Ahmadiyah. Dan disebabkan gejolak perlawanan itu orang-orang yang berhati bersih menaruh perhatian terhadap Jema’at Ahmadiyah. Secara zahir musuh-musuh sedang melawan Ahmadiyah supaya orang-orang lain semakin jauh dari Ahmadiyyah. Akan tetapi orang-orang yang berfitrat lurus dan berhati bersih semakin dalam menaruh perhatian terhadap Jema’at Ahmadiyah. Dan dimanapun amanat Jema’at Ahmadiyyah disampaikan untuk menciptakan kecintaan dan kedamaian, perhatian dunia sedang tertarik terhadap Jema’at Ahmadiyah. Melihat cara kita berlaku sambil merendahkan diri dan khidmat khalq yang kita berikan dengan sangat sedarhana, sangat menarik perhatian manusia terhadap Ahmadiyah. Banyak manusia yang telah mengenal dan menerima Jema’at Ahmadiyah melalui ru’ya dan kasyaf dari Allah swt. Pendeknya dunia sedang ramai mengenal Hazrat Masih Mau’ud a.s. dan Jema’at beliau. Dalil-dalil yang dimilki oleh Jema’at Ahmadiyah yang langsung diterima dari Allah swt telah diajarkan oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Masih Mau’ud a.s. kepada kita, kemudian dalil-dalil dan argumentasi itu diperdengarkan dan ditayangkan melalui MTA sangat menarik perhatian banyak sekali manusia didunia. Musuh-musuh Ahmadiyah berusaha keras menghalangi manusia agar tidak menyaksikan siaran Muslim Televisi Ahmadiyah (MTA). Tanpa kecuali disetiap negara Muslim, para kiyai dan mereka yang menamakan diri ulama berkata kepada orang-orang awam:”Jangan menyaksikan siaran MTA karena akan merusak iman dan akan mempengaruhi kalian menjadi kuffur.” (Na’uzubillah !) Akan tetapi orang-orang yang telah terbuka hati mereka dengan kebenaran dan telah faham dengan amanat yang disampaikan kepada mereka, meminta kepada orang-orang yang menamakan diri ulama itu untuk menentangnya dengan dalil atau argumentasi, namun mereka tidak mampu menjawab. Sesungguhnya ”para ulama” itu melarang menyaksikan MTA dengan kekerasan tiada lain maksudnya bahwa mereka sendiri tidak memiliki dalil untuk menjawab semua pertanyaan. ”Para ulama” itu sendiri tidak tahu bahwa Ajaran Islam tidak mengizinkan bercakap sesuatu tanpa akal dan dalil. Itulah bukti keistimewaan sempurnanya janji-janji Allah swt kepada Hazrat Masih Mau’ud a.s. Jadi setiap orang Ahmady berkewajiban untuk memahami tanggung jawab mereka. Bukan hanya mengharapkan sempurnanya janji-janji Tuhan itu tanpa tadbir atau usaha kita. Semakin besar kedudukan janji-janji dan semakin besar kahabar-khabar suka itu, maka semakin besar pula tanggung jawab kita untuk mengambil bagian didalamnya. Kita harus mengambil bagian dengan sungguh-sungguh dalam menunaikan hak-hak Allah swt. Dan dalam menunaikan hak-hak sesama manusia kita harus menjauhkan diri dari semua dorongan hawa nafsu. Harus  mengambil bagian dalam menunaikan da’wat ilallah sebanyak mungkin dengan menggunakan semua kekuatan, semua ilmu pengetahuan dan dengan segala kemampuan usaha kita. Barulah kita akan memperoleh banyak faedah dari gerakan agung dengan berkat-berkat-nya yang agung itu.                                                 
Hazrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. baersabda bahwa beliau telah menerima ilham dari Allah swt sebagai khabar suka dengan firman-Nya : laa taiasu min khazaini rahmati rabbi inna atainaakal kautsar artinya : Janganlah engkau berputus asa dari khazanah rahmat Tuhan, akan Kami anugerahkan kepada engkau kebaikan yang melimpah. Maka, kegelisahan Hazrat Masih Mau’ud a.s. atas keadaan orang-orang Muslim atau atas keadaan Islam telah dijauhkan oleh Allah swt kemudian Dia memberi ketenteraman dengan firman-Nya : Janganlah engkau berputus asa dari khazanah rahmat Allah. Kami anugerahkan kepada engkau kebaikan yang melimpah. Telah ditaqdirkan bagi engkau. Kebaikan melimpah-ruah yang telah diperoleh Rasulullah saw telah diterima pula oleh Kaum akhirin dengan perantaraan engkau. Sumber mata air kebaikan Rasulullah saw sekarang telah mengalir dengan perantaraan engkau. Maka, bergembiralah engkau dan berlompatlah dengan gembira bahwa pintu khazanah rahmat Allah Ta’ala telah terbuka kembali dengan semarak baru. Dari pintu-pintu mana akan masuk untuk menerima khazana ia akan menjadi kaya-raya dengan rahmat itu.”                                                                                                           
Pada zaman sekarang terdapat kegelisahan dikalangan orang-orang Muslim dan mereka merasakan perlunya suatu pertolongan bagi agama, namun mereka tidak menemukan suatu bimbingan dan tidak pula nampak adanya jalan bagi mereka, kemudian mereka berputus asa. Rasa putus asa ini semakin meningkatkan kegelisahan mereka sehingga membuat mereka salah langkah didalam memecahkan problema yang mereka hadapi. Kita harus menyampaikan amanat kepada mereka bahwa Allah swt telah menganugerahkan sumber mata air kebaikan yang melimpah kepada hamba pilihan-Nya dizaman ini, yaitu pencinta hakiki Rasulullah saw, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Masih Mau’ud a.s. Dan disebabkan kecintaan dan dedikasi beliau yang sangat tinggi terhadap Rasulullah saw, beliau dianugerahi kedudukan nubuwwat (kenabian) oleh Allah swt. Dengan perantaraan beliau a.s. ini sumber mata air kebaikan itu mengalir kembali. Maka jika ingin menghapuskan perasaan putus asa, datanglah bergabung dengan Jema’at Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. agar perasaan putus asa itu hilang lenyap. Sebab beliaulah orang yang disokong dan didukung oleh Allah swt yang sedang kalian tunggu kedatangannya. Renungkan dan perhatikanlah semua kekuatan telah bersatu padu untuk menekan dan mengahancurkan semua usaha dan kegiatan Hazrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. Sejak lebih dari seratus tahun yang lampau mereka telah bersatu-padu melancarkan perlawanan itu. Apakah berhasil didalam usaha mereka itu? Apakah mereka berhasil meredam suara Jema’at beliau ini? Saya sudah berulang kali mengatakan bahwa suara Jema’at ini berkumandang dan berkembang terus sampai kesetiap pelosok dunia. Bahkan suara itu terus-menerus berkumandang dan bergema dengan sangat heibat dan dahsyat diatas dunia ini. Dan insya Allah suara itu tidak akan berhenti bahkan terus menerus mengumandang dan menggema diatas dunia.                                                                                                
Hazrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. telah melukiskan dahsyatnya gempa bumi berkaitan dengan tanda bukti kebenaran beliau a.s. seperti berikut ini : ” Ingatlah setelah terjadi tanda-tanda ini, tidak akan berhenti, bahkan setelah terjadi satu tanda, akan terus-menerus disusul dengan kejadian-kejadian tanda yang lainnya sehingga mata manusia akan terbelalak keheran-heranan, apa yang akan terjadi. Setiap hari terasa susah dan pahit dan akan semakin buruk keadaannya. Allah swt berfirman : ”Akan Aku perlihatkan keadaan yang sangat mengerikan dan tidak akan berhenti selama manusia tidak memperbaiki hati mereka.”          
                                              
Sekarang kita sedang menyaksikan setiap negara didunia sedang ditimpa oleh berbagai macam musibah berupa bencana alam. Jika dunia menganggap semua musibah ini hanya sebagai bencana alam semata yang terjadi setelah beberapa periode menurut pendapat para pakar sains atau para ahli dunia lainnya lagi, kemudian mereka tidak menaruh perhatian kepadanya, maka ingatlah bahwa semua bencana dan gempa-gempa bumi yang terjadi ini sangat erat hubungannya dengan zaman Hazrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. Musibah-musibah ini akan datang terus menimpa dunia. Maka, untuk mengingatkan dunia adalah tugas setiap orang Ahmady. Dimana mereka diingatkan untuk memperbaiki diri disana harus diusahakan untuk menyampaikan amanat ini kepada mereka. Berusahalah mengajak dunia untuk dekat kepada Tuhan. Alangkah pentingnya tugas yang diserahkan kepada kita ini. Disetiap tempat Jema’at ini telah diperkenalkan dengan simpatik dan dengan kasih sayang. Dan pesan yang kita sampaikan itu adalah, suara kecintaan hati nurani kami dan kasih-sayang serta kedamaian. Kami dituntut untuk berusaha menyelamatkan kemanusiaan dari kehancuran. Kami mengajak manusia untuk mengenal Tuhan agar mereka terhindar dan selamat dari semua bencana dan musibah itu. Dan mengingatkan manusia kepada maksud dan tujuan mereka telah diciptakan oleh Allah swt kedunia. Allah swt menurunkan bencana-bencana dari waktu kewaktu agar manusia ingat apa maksud dan tujuan mereka telah diciptakan kedunia. Jika manusia tidak juga mau sadar maka musibah akan  terus-menerus turun kedunia, sebagaimana telah dijelaskan oleh Hazrat Masih Mau’ud a.s. Sekarang mengingatkan dunia kearah ini adalah tugas dan kewajiban Jema’at Ahmadiyah tidak ada yang lain lagi. Sebab Hazrat Masih Mau’ud a.s. yang dengan menghambakan diri kepada Hazrat Rasulullah saw telah mendapat kedudukan dari Allah swt sebagai hamba yang paling dicintai-Nya pada zaman ini. Bahkan dalam sebuah Ilham Allah swt telah menganugrahkan kedudukan Hazrat Masih Mau’ud a.s. sebagai putera Hazrat Rasulullah saw. Sebagaimana firman-Nya kepada beliau a.s. : Inni ma’aka ya ibna rasulillah ! Aku bersama engkau hai putera Rasulullah ! Jadi beliau a.s. adalah putera ruhani Hazrat Rasulullah saw yang akan menyempurnakan Missi beliau saw. Dan itulah pula tanggung jawab para pengikut beliau a.s. Jika menginginkan Allah swt menjadi pendamping, jika ingin menjadi pewaris ni’mat-ni’mat  Allah swt maka laksanakanlah kewajiban tabligh lebih giat dari sebelumnya. Semakin gencar dan semakin dahsyat bencana-bencana telah melanda dunia semakin keras pula diperlukan usaha untuk mengingatkan dunia. Dan terutama terhadap orang-orang Muslim sangat perlu diberi pengertian dan peringatan. Sebab terdapat ilham lainnya yang berkaitan dengan ilham tersebut yaitu : Himpunlah semua orang Muslim yang tinggal diseluruh permukaan bumi ini kepada agama yang tunggal. Sekalipun perintah dalam ilham ini turun secara langsung kepada Hazrat Masih Mau’ud a.s. dan tentu merupakan pekerjaan Hazrat Masih Mau’ud a.s. dan telah-pun beliau melaksanakannya. Namun hal itu adalah pekerjaan para pengikut beliau a.s. juga, yakni pekerjaan kita semua untuk menyebar luaskan amanat itu. Sekalipun telah dilancarkan banyak sekali kekerasan dan larangan-larangan dibeberapa negara orang Islam, hingga kita tidak dapat bertabligh secara bebas dan terbuka disana. Dan orang-orang yang menamakan diri mereka ulama berusaha keras menghalangi orang-orang yang ingin mendengar amanat yang disampaikan oleh orang-orang Ahmady kepada mereka, akan tetapi jika sebuah sarana kegiatan telah ditutup atau dilarang maka dapat diusahakan sarana lain sebagai gantinya untuk menjalankan kegiatan itu. Jika didalam satu daerah atau disatu negeri ditutup atau dilarang kegiatan Jema’at Ahmadiyah maka didaerah atau dinegeri lain masih dapat dilaksanakan. Jika dinegara-negara tertentu tabligh Ahmadiyah secara langsung tidak diizinkan maka Allah swt telah menyediakan MTA sabagai sarana tabligh yang lebih luas lagi. Dan dengan karunia Allah swt melalui MTA ini sekalipun banyak sekali hambatan-hambatannya tabligh sedang giat dilaksanakan dan amanat Jema’at dapat disampaikan kepada masyarakat luas dan dengan karunia Allah swt setelah menyaksikan siaran-siaran MTA itu ramai orang-orang bai’at masuk kedalam Jema’at Ahmadiyah. Ada juga negara-negara dimana undang-undang tidak melarang kegiatan Ahmadiyah, namun banyak para ulama yang melancarkan perlawanan terhadap Ahmadiyah. Dan justeru dari antara mereka itulah banyak yang berfitrat baik dan berhati lurus ikut menghadiri kegiatan-kegiatan Jema’at, menyaksikan program-program Jema’at sehingga banyak yang menaruh simpati terhadap Jema’at. Istimewa sekali di negara-negara belahan Africa sekarang Imam-imam beserta para pengikut mereka banyak sekali orang-orang yang bai’at masuk Jema’at Ahmadiyah. Itulah karunia dari Allah swt sebab Dialah yang dapat merubah sikap hati manusia. Usaha kita tidak berarti apa-apa dalam hal itu. Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : Ilham yang berbunyi : Himpunlah semua orang Muslim yang tinggal diseluruh permukaan bumi ini kepada agama yang tunggal merupakan perintah yang sangat khas. Hukum mempunyai dua bagian, pertama berupa syari’at misalnya : kerjakanlah salat, bayarlah zakat, jangan membunuh dan sebagainya. Didalam perintah-perintah ini mengandung sebuah nubuatan juga, yang diantaranya manusia akan mengingkarinya. Sebagaimana telah dikatakan kepada orang-orang Yahudi, jangan merubah ayat-ayat Taurat. Seharusnya sudah dikatakan bahwa banyak orang yang akan melakukan-nya demikian. Sekarang ternyata telah mereka lakukan. Pendeknya perintah itu adalah perintah syari’at. Perintah kedua adalah kouni merupakan perintah langsung dari Allah swt misalnya : ya naaru kunii bardan wasalaman artinya : hai api, dinginlah engkau dan jadilah keselamatan atas Ibrahim! Dan api itu secara total telah menjadi dingin. Dan perintah yang tercantum didalam ilham saya ini nampaknya ilham serupa dengan itu. Yaitu Allah swt menghendaki orang-orang Muslim diseluruh permukaan bumi akan berhimpun kepada Agama yang tunggal dan ia akan terbukti dengan sempurna. Namun hal itu bukanlah berarti bahwa tidak akan terjadi suatu perlawanan dan pertentangan. Perlawanan pasti akan terjadi, namun hal itu tidak patut diperhatikan dan tidak patut diceritakan.” Maka penjelasan ilham yang telah diberikan oleh Hazrat Masih Mau’ud a.s. merupakan khabar suka bagi kita bahwa perintah Allah swt ini sifatnya ”kouni” yakni sehubungan dengan itu jika Allah swt berfirman ”kun” yakni ”jadilah” maka pasti akan terjadi. Yakni bagi suatu perkara yang Allah swt hendak buat hanya berfirman ”kun” maka jadilah ia. Namun tidak setiap firman Allah swt ”kun” berarti semua perkara tiba-tiba terjadi setelah ilham turun kepada Hazrat Masih Mau’ud a.s. itu. Sesungguhnya sempurnanya ilham itu akan terikat kepada qanun qudrat atau hukum alam. Atau berapa lama waktu yang dikehendaki Allah swt untuk itu, sesuai dengan itu ia akan terjadi. Dan natijahnya pasti akan zahir sesuai dengan yang dikehendaki. Seperti Allah swt dengan firman-Nya ”kun” ketika asas kelahiran seorang anak dimulai, maka setiap khaiwan atau-pun manusia berapa lama waktu yang diperlukan untuk proses kelahirannya menurut qanun qudrat atau hukum alam, maka sesuai dengan itu akan berlaku. Bukan berarti dengan firman-Nya ”kun” dalam tempo satu, dua hari atau dalam waktu beberapa menit saja seorang anak lahir. Berapapun lamanya proses itu diperlukan, terjadinya melalui perintah Allah swt ”kun” juga. Jadi, dalam perkara ini juga jangan ada yang salah faham. Taqdir Allah swt telah memutuskan bahwa semua orang-orang Muslim akan berhimpun dibawah naungan satu mazhab dan prosesnya sejak lama sudah dimulai, lambat-laun orang-orang Muslim dan dari setiap golongan Muslim orang-orang sedang ramai masuk kedalam Jema’at Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. yakni Jema’at Ahmadiyah. Oleh sebab itu kita tidak perlu gelisah bahwa dibeberapa negara Muslim orang-orang Ahmady diperlakukan sebagai penduduk kelas tiga, bagaimana orang-orang Muslim akan menggabungkan diri dengan kita atau berapa banyak kiranya orang-orang Muslim dinegara-negara itu akan menggabungkan diri dengan kita. Sebagaimana Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : ” Taqdir Allah swt telah memutuskan, bagaimanapun juga semua perkara pasti akan terjadi dengan sempurna.” Biarlah sekarang orang-orang Ahmady sedang dianiaya dan penganiayaan itu dilakukan oleh orang-orang Muslim. Akan tetapi, insya Allah swt, dari antara orang-orang itulah air mata kecintaan akan mulai menetes dan insya Allah keadaan itu akan kita saksikan. Maka, orang-orang yang bertabi’at lemah hendaknya tetap yakin dan tetap beriman dan mereka yang terlibat dalam keduniawian harus ingat bahwa taqdir Allah swt akan menang. Oleh sebab itu tidak ada alasan bagi kita dimanapun dan bagaimanapun keadaannya untuk menunjukkan kelemahan atau menunjukkan rasa malu atau merasa gelisah disebabkan gencarnya perlawanan dari pihak musuh. Jangan takut dari perlakuan pihak lawan,  apabila kita menzahirkan iman yang sesungguhnya. Kesulitan-kesulitan pasti ada, dan orang-orang mu’min sejati menganggap kesulitan-kesulitan itu ibarat tusukan sebuah jarum atau lebih kecil dari itu, tidak menganggapnya penting atau besar. Disebabkan takut dari kesulitan-kesulitan itu kita tidak mungkin meninggalkan pekerjaan kita. Kita tidak dapat menyembunyikan iman. Sebagian besar orang-orang Ahmady Pakistan bahkan 99.99% dari Ahmady Pakistan sedang menghadapi taufan perlawanan yang sangat keras dan dahsyat sekali, walaupun demikian mereka sedang menghadapinya dengan semangat dan gagah berani. Para Ahmady Pakistan dan para Ahmady Indonesia, dan para Ahmady diberbagai negara lainnya juga dimanapun taufan perlawanan sedang dikobarkan, berkat pengurbanan para Ahmady disanalah telah terbuka kawasan-kawasan baru bagi kegiatan tabligh. Dan insya Allah pada satu hari tertentu Dunia Muslim dan gahir Dunia Muslim juga berkat menjalin hubungan dengan Hazrat Masih Mau’ud a.s. akan menyaksikan pemandangan Umatan Wahidah. Itulah janji Alah swt. Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : ” Allah swt telah berulang kali memberi khabar kepada-ku bahwa Dia akan memberi kebesaran kepada-ku dan kecintaan manusia kepadaku akan Dia tanamkan didalam kalbu-kalbu mereka. Dia akan menyebar luaskan Jema’at-ku keseluruh pelosok dunia dan Dia akan memenangkan Jema’at-ku diatas golongan-golongan lain. Dan para anggauta Jema’at-ku akan memperoleh ilmu pengetahuan demikian sempurna sehingga dengan nur kebenaran mereka dan dengan dalil-dalil dan dengan tanda-tanda nyata, mereka akan menutup mulut semua lawan.” Itulah isyarah yang sangat dahsyat yang sesungguhnya hal itu berkaitan dengan kemenangan Islam diatas semua agama didunia. Maka tugas kita adalah berusaha terus-menerus memperkuat iman kita, meningkatkan ketertiban beribadah, meningkatkan hubungan dengan Allah swt demi kebangkitan Islam kedua kali yang akan diperoleh dengan perantaraan Hazrat Masih Mau’ud a.s. yang sekarang sedang berlangsung. Kita harus membantu dan mendukung segala usaha beliau a.s. agar kita dan anak keturunan kita menjadi para pewaris rahmat dan karunia Allah swt. Untuk itu semoga Allah swt memberi taufiq kepada kita semua. Amin !       
                     
Setelah salat Jum’ah akan diadakan salat jenazah ghaib untuk beberapa orang diantaranya : Sahibzadah Rasheed Latief Sahib Rashedi. Wafat pada tgl 27 April 2011 di Los Angelos-USA. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Beliau adalah cucu Hazrat Sahibzadah Abdul Latief Sahib Shahid. Beliau mempunyai hubungan yang sangat mukhlis dengan Jema’at. Atas perintah dari Hazrat Khalifatul Masih lV r.h. beliau telah pindah ke USA pada tahun 1965. Beliau menterjemahkan Buku Tazkiratus Shahadatain kedalam Bahsa Local di Afghanistan.   
                                                      
Jenazah kedua adalah Mubarak Mahmood Sahib, Muballigh Jema’at, meninggal pada tgl 4 Mei 2011 dalam umur 42 tahun setelah mengalami sakit cukup lama karena cancer. Beliau graduated dari Jamia Ahmadiyya Rabwah pada tahun 1989. Berkhidmat dalam Silsilah Ahmadiyyah di Tanzania selama 8 tahun, kemudian kembali ke Rabwah. Sekalipun sakit cancer beliau tetap giat bekerja dengan perangai sangat ceriah. Beliau meninggalkan seorang janda dan tiga oran putera.      
                  
Yang ketiga; Muzaffar Ahmad Sahib dari Shekhupura beserta keluarganya Farzana Jabeen Sahibah, Amatun Noor, Waleed Ahmad dan Tassawer Ahmad, semuanya meninggal dalam musibah kecelakaan jalan raya. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Muzaffar Sahib seorang Qaid Khuddam yang sudah berkhidmat kepada Jema’at dalam beberapa kedudukan. Beliau seorang yang sangat soleh dan sangat tulus. Semoga Allah swt memberi tempat kepada mereka semua yang tinggi disisi-Nya. Amin                                                                                                                                Alihbahasa oleh Hasan Basri dari Audio Urdu